Kamis, 26 Juli 2012

Kebiasaan Jahiliyah dan Pesan Tambahan Nabi Shollallaah 'alaih wa sallam


          
           Satu sore Sukiran anak Sukirin menghadap Guru Sufi dengan mata berkilat-kilat menahan amarah dan kejengkelan. Kepada Guru Sufi, Sukiran menanyakan berbagai dalil agama sekitar diselenggarakannya tradisi keagamaan seperti tahlilan, ziarah kubur, maulid nabi, haul, dan lain-lain yang selama ini dijalankan keluarganya. Pasalnya, waktu tahlil peringatan tujuh hari Mbah Sukimin, kakeknya, salah seorang kerabat yang jadi guru mengaji membubarkan acara itu  dengan alasan bahwa tahlilan itu bid’ah dlolalah. “Kang Sukino marah-marah, katanya seluruh keluarga, termasuk arwah Mbah Sukimin akan masuk neraka kalau ditahlilkan,” kata Sukiran mengadu.

          “Sukino kuwi siapa le?” tanya Guru Sufi ingin tahu,”Apa itu Sukino anak Mbah Sukidin dan Mbah Sukinem?”

         “Iya benar Mbah Kyai,” sahut Sukiran bersungut-sungut,”Jadi ustadz baru berapa tahun, sombongnya setengah mati. Semua orang dianggap sesat. Keblinger. Ahli neraka. Hari-hari dilewati dengan marah-marah kepada orang-orang yang dianggap sesat. Namanya sekarang ditambahi, jadi  Ahad Sukino Al-Wahab,” lanjut Sukiran mengungkapkan bahwa marga Suki, belakangan ini terpecah-belah gara-gara Sukino membawa ajaran baru yang membingungkan  keluarga. Kelompok marga yang ikut Sukino seperti Sukijan, Sukiwil, Sukipan, Sukibat, Sukiri, Sukipas, Sukiyono  namanya  ditambahi “Ahad” dan “Al-Wahab” sehingga menjadi : Ahad Sukijan Al-Wahab, Ahad Sukiwil Al-Wahab, Ahad Sukipan Al-Wahab, Ahad Sukibat Al-Wahab, Ahad Sukiri Al-Wahab, dan seterusnya. Sedang marga yang enggan mengikuti Sukino tetap saja bernama  marga  Suki seperti Sukidul, Sukirun, Sukijo, Sukimo, Sukipas, dan bahkan yang bekerja sebagai TKI di Jepang namanya diganti menjadi: Sukiyaki, Suki Ono, Sukimorata, Sukiomura, Sukiyoto, Sukiyono.  
         
             Guru Sufi tidak menjawab pertanyaan Sukiran dan tidak pula mengomentari pandangan ustadz Ahad Sukino Al-Wahab yang membid’ah-bid’ahkan dan menyesat-nyesatkan masyarakat yang menjalankan tradisi keagamaannya. Ia juga tidak tertarik menanggapi terjadinya perpecahan di dalam keluarga besar marga Suki. Sebaliknya, ia mengutip hadits dan menceritakannya sebagai berikut:

               Al-Hakim meriwayatkan dari  Al-Qamah bin Al- Haris  r.a yang mengatakan,”Aku telah  datang kepada Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersama dengan tujuh orang dari kaumku. Setelah kami  memberi salam dan Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam tertarik, maka beliau  bertanya, “Siapakah kalian ini ?”

               Kami menjawab, “Kami adalah orang beriman.”  

               Kemudian baginda  Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bertanya, “Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kalian?”

               Kami menjawab, “Ada limabelas perkara sebagai bukti keimanan kami. Pertama, lima perkara yang baginda perintahkan kepada kami. Lalu  lima perkara yang diperintahkan oleh utusan baginda kepada kami.  Lima perkara yang  lain, adalah  kebiasaan yang kami jalankan  sejak zaman jahiliyyah”

             Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bertanya, “Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kalian  itu ?”

             Mereka menjawab, “Baginda Rasul Shollallaah ‘alaih wa sallam telah memerintahkan kami untuk beriman kepada Allah,  kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.”

             Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bertanya lagi, “Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?”

             Mereka menjawab, “Kami diperintahkan oleh para utusan baginda  untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan baginda Muhammad adalah utusan Allah, kami hendaknya mendirikan sholat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat,  dan  pergi haji bila mampu.”

             Rasulullah  Shollallaah ‘alaih wa sallam bertanya lagi, “Apakah lima perkara yang  masih kalian kerjakan sebagai sisa kebiasaan sejak  zaman jahiliyyah ?”

              Mereka menjawab,  “Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, ridha pada waktu kena ujian,  dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh.”

              Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama maupun dalam tatacara berbicara, hampir-hampir saja kalian  ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kalian katakan tadi.”

            Kemudian Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda  melanjutkan, “Maukah kalian  aku tunjukkan kepada lima perkara amalan lagi yang akan menyempurnakan dari apa  yang  sudah kalian  punyai ?”
              Mereka menjawab serentak, ”Tentu kami bergembira menerimanya, baginda.”

            Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, ”Janganlah kalian  mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kalian  makan. Janganlah kalian  mendirikan rumah yang tidak akan kalian  tempati.  Janganlah  kalian  berlomba-lomba dalam sesuatu yang bakal kalian  tinggalkan. Berusahalah sebaik-baiknya  mencari bekal untuk kehidupan akhirat.”

            Sukiran termangu-mangu mendengar  kisah Al-Qamah bin Al-Haris r.a yang diriwayatkan Al-Hakim. Dalam kisah itu, ternyata Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam  tidak melarang Al-Qamah bin Al-Haris beserta kaumnya untuk menjalankan nilai-nilai sisa kebiasaan jahiliyah, bahkan Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam menambahkan pesan tambahan baru lagi. “Jadi Mbah Kyai…,” kata Sukiran akan bertanya.

             Guru Sufi menyahut,”Al-Mukhafadah ‘ala qadhiimi shalih…..,” sambil memberi isyarat kepada Sukiran untuk melanjutkan kaidah ushuliyah yang diucapkannya.

             “Wah saya lupa lanjutannya Mbah Kyai,” sahut Sukiran ketawa  kecut sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal,”Tapi saya faham maksudnya, Mbah Kyai.”

Cerita Ringan dari Agus Sunyoto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar