Selasa, 18 Oktober 2011

Pengemis dan "Burung Merak Para Ulama"



“Apakah semua pengemis memang berniat mengemis? Tiadakah di antara mereka pengemis yang berhati mulia seperti seorang pengemis yang pernah membuat Al-Junaid merasa bersalah?”

Entah kenapa, pertanyaan yang demikian tiba-tiba “mencuat” dalam benak saya, tadi pagi 25 Sepetember 2011, seusai membaca sebuah tulisan tentang mafia pengemis di sebuah media elektronik. “Ah, tentu saja pengemis yang pernah membuat Al-Junaid segera melakukan introspeksi itu tidak akan pernah ada lagi,” jawab saya segera ketika menyadari pertanyaan yang muncul mendadak tersebut.
Siapakah Al-Junaid yang pernah dibikin TKO (technical knockout) oleh pengemis itu? Juga, bagaimanakah kisah antara dirinya dan si pengemis itu?

Al-Junaid, tokoh yang satu ini, tentu kini tidak banyak lagi yang mengenalnya. Mengapa? Ini karena tokoh yang mendapat gelar “Burung Merak Para Ulama”, alias Thawus Al-‘Ulama’ ini hidup pada abad ke-3 Hijriah/9 Masehi. Dengan kata lain, tokoh yang satu ini muncul sebelum kemunculan Abu Hamid Al-Ghazali, seorang sufi, pemikir, dan tokoh yang terkenal dengan karya besarnya berjudul Ihya’ ‘Ulum Al-Din. Nah, Al-Junaid yang satu ini bernama lengkap Abu Al-Qasim Al-Junaid bin Muhammad Al-Khazzaz Al-Nihawandi. Putra seorang pedagang pecah belah yang berdarah Iran ini lahir di Baghdad tanpa diketahui secara pasti tahun kelahirannya. Ibundanya adalah saudara perempuan Sari Al-Saqathi, seorang sufi terkemuka pada masa itu yang kemudian menjadi gurunya. Di samping itu, ia juga menimba ilmu kepada Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi, juga seorang sufi terkemuka kala itu. Dan, ia memerdalam ilmu fikih atas mazhab Abu Tsaur, seorang sahabat Al-Syafi‘i.

Dalam tasawuf, Al-Junaid mewakili aliran moderat. Dengan kata lain, ia mewakili tasawuf para fuqahâ’ yang mendasarkan diri pada Al-Quran dan Sunnah. Di samping itu, ia juga dipandang sebagai seorang tokoh penting dalam sejarah tasawuf. Ini karena pendapat-pendapatnya yang kaya, sikapnya yang memadukan antara syariah dan hakikat, dan termasuk kelompok sufi yang tidak suka menyatakan ungkapan-ungkapan yang ganjil. Malah, ia lebih mendahulukan kesadaran ketimbang kondisi ketidaksadaran (trance) dan lebih mendahulukan kebakaan ketimbang kefanaan. Demikian halnya ia seorang guru yang terkenal dan mempunyai banyak murid yang ia ajari tasawuf serta ia tunjuki wawasan tentang kesempurnaan ilmu ataupun amal. Dan, ia juga mendirikan sebuah aliran yang terkenal dalam tasawuf yang metodanya kelak diikuti Al-Ghazali, pemikir yang sufi terkemuka, dan Al-Syadzili, pengasas Tarikat Syadziliyyah.
Menurut sufi yang berpulang kepada Sang Pencipta di Baghdad pada 298 H/909 M ini, amaliah seorang sufi harus melaksanakan tiga rukun amal. Pertama, melaksanakan secara konsisten dzikir tanpa pernah berhenti dan disertai tekad serta kesadaran penuh. Kedua, memertahankan tingkat kegairahan (wajd) yang tinggi. Ketiga, senantiasa melaksanakan syariah secara tepat dan ketat.

Nah, pada suatu hari, Al-Junaid diberi kesempatan untuk memberikan pengarahan kepada khalayak ramai di sebuah masjid di Baghdad Darussalam. Ketika ia sedang asyik berpidato dengan penuh semangat, tiba-tiba salah seorang di antara hadirin berdiri dan mulai mengemis di antara mereka. “Orang itu kok kelihatannya cukup sehat,” ucap Al-Junaid dalam hati seraya menghentikan pidatonya sejenak. “Bukankah dengan tubuh sehat demikian, ia dapat mencari nafkah. Tapi, mengapa ia mengemis dan menghinakan diri seperti itu?”
Malam harinya, ketika tidur, Al-Junaid bermimpi, di depannya tersaji makanan yang tertutup tudung. “Makanlah, Al-Junaid!” sebuah suara memerintah Al-Junaid. Ketika Al-Junaid mengangkat tudung itu, terlihat olehnya si pengemis terkapar di atas piring.
“Aku tidak mau makan daging manusia,” Al-Junaid menolak seraya menundukkan kepalanya.
“Lo, bukankah itu yang kau lakukan kemarin, ketika kau berpidato di hadapan khalayak ramai?”

Al-Junaid segera menyadari, ia bersalah karena telah berbuat fitnah dalam hatinya. Karena itu, ia pantas dihukum. “Aku pun tersentak bangun dalam keadaan takut,” tutur Al-Junaid.

Segera, Al-Junaid bersuci dan melakukan shalat sunnah dua rakaat. Selepas itu, ia pergi mencari si pengemis. Ia dapatkan si pengemis sedang berdiri di tepi Sungai Tigris. Ia sedang memungut sisa-sisa sayuran yang dicuci di situ dan memakannya. Melihat Al-Junaid mendatanginya, si pengemis lantas mengangkat kepalanya dan berucap kepada Al-Junaid, “Al-Junaid! Sudahkah kau bertobat karena telah berburuk sangka terhadap aku?”
“Sudah, saudaraku, ” jawab Al-Junaid dengan suara lirih. Malu.
“Jika demikian, pergilah dari sini. Dia-lah Yang Menerima tobat hamba-hamba-Nya. Dan, jagalah hati dan pikiranmu,” ujar si pengemis.
Sebuah pelajaran indah dari si pengemis untuk kita semua, “Jagalah hati dan pikiran kita. Kepada siapa pun!” (arofiusmani.blogspot.com/)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar