Senin, 30 Mei 2011

AGAMA-AGAMA di JAZIRAH ARAB SEBELUM KEDATANGAN ISLAM - 1

oleh : Kaisar, '08, Lirboyo Kediri

    Di wilayah Arab, pada awal abad 6 M atau menjelang masuknya Islam, telah berkembang berbagai macam agama dan kepercayaan. Menurut Sayyid Mahmud Syukri al-Alusi al-Baghdadi dalam kitab Bulugh al-'Arobi fi Ma'rifah Ahwal al-Arob yang dinukil oleh Zaenal Arifin Abbas dala "Peri Kehidupan Muhammad", menyatakan bahwa agama-agama yang pernah ada di Arab sebelum masuknya Islam, antara lain adalah, al-muwahhidun (yang mengesakan Tuhan), penyembah berhala (watsani), Yahudi, Nasrani, Penyembah matahari dan bulan, Dahriyun (atheis), Shabi'in (penyembah bintang), Zindiq, Majusi (penyembah api), penyembah malaikat dan jin, kelompok yang mempercayai dua Tuhan, yaitu Tuhan yang berbuat kebaikan dan Tuhan yang melakukan perbuatan jahat. Untuk selanjutnya akan dijelaskan satu-persatu latar belakang sejarah kemunculan dan perkembangan agama-agama tersebut di tanah Arab sebelum datangnya Islam.

1. Al-Muwahhidun (mengesakan Tuhan).

    Jazirah Arab bila yang dimaksud  meliputi seluruh wilyah jazirah Arab termasuk Yaman dan sekitarnya, maka ajaran tauhid sebelum Islam pernah masuk di sebagian wilayah tersebut melalui beberapa Nabi. selain Nabi Ibrahim dan nabi Ismail tercatat ada tiga nabi dikisahkan dalam Al-Qur'an yang hidup di jazirah  Arab: Nabi Hud as., Sholeh as., dan Nabi Syuaib. sedngkan Nabi Ibrahim as. dan Ismail as. menjadi bagian sejarah yang terpenting karena Islam sebagai agama tauhid terakhir, muncul di tempat yang dirintis keduanya (Mekah) dan juga dari keturunan Ismail as. yaitu Nabi Muhammad saw. sebagai nabi pembawa risalah terakhir dilahirkan.

    Sejarah mencatat bahwa penghuni Mekah pertama kali adalah Nabi Ismail as. bersama ibunya, Siti Hajar. Ka'bah sebagai kiblat agama tauhid dunia jga dibangun oleh mereka berdua. dan dari sosok Nabi Ismail inilah rasul terakhir dan sebagian besar suku-suku penting tanah Arab dilahirkan. Saat Islam lahir, Nabi Muhammad saw. mengajak orang-orang Arab waktu itu untuk kembali kepada agama nenek moyang mereka Nabi Ibrahim.

    Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail di Mekah bermula ketika Siti Hajar, Istri kedua Ibrahim, melahirkan Ismail di Khalil, sebuah kota di sebelah timur Baitul Maqdis. Melihat keadaan ini, Sarah sebagai istri pertama merasa sangat sedih. Bukan kehadiran Ismail yang membuat Sarah sedih, namun sebagaimana perasaan wanita pada umumnya yang sudah bertahun-tahun mendampingi Ibrahim berjuang, tentunya mendambakan buah hati ditengah-tengah keluarga. namun justru dari wanita lain, bukan dari rahim Sarah, bayi yang didamba-dambakan itu lahir. Kesedihan yang mendalam inilah yang mendorong Sarah untuk meminta Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Ismail ke arah selatan sehingga sampai pada suatu tempat kosong tak berpenghuni yang kering dan tandus.

    Pada masa itu, Mekah belum berpenghuni. Tempat ini tidak menarik para kafilah dagang untuk menetap dan membangun pemukiman karena tanahnya yang kering dan tandus serta jauh dari sumber air meskipun kadang-kadang  para pedagang dari selatan (Yaman) melewatinya. Namun, agak jauh disekitar Mekah, diperkirakan telah hidup suku Amalika. Di tempat inilah, Nabi Ibrahim as. diperintahkan Allah meninggalkan dua orang yang dicintainya. Ini adalah ujian yang harus dijalani Nabi Ibrahim. Dengan berat, Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat itu. Hanya doa dan kepsrahan Ibrahim yang membuatnya tabah dan tegar. Seperti Nabi-Nabi yang lain, Ibrahim as. adalah hamba yang benar-benar yakin akan kekuasaan Allah. Dia yakin bahwa Allah akan menjaga dua orang yang disayanginya itu. Doa Nabi Ibrahim ini diabadikan dalam Al-Qur'an surat Ibrahim.

    Nabi Ibrahim dikenal sebagai bapaknya para Nabi-nabi setelahnya. dari jalur nasabnya banyak lahir nabi-nabi, bahkan dari perantara Nasabnya makhluk termulia lahir, sebagai penutup garis kenabian. Nabi Muhammad saw. adalah Nabi terakhir yang merupakan keturunan dari Nabi Ismail bin Ibrahim as.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar