Kamis, 19 Juli 2012

Do’a Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany Menyambut Ramadhan


Ini adalah Do’a Sulthon Al Aulia’ Sayyidina Syaikh ‘Abdul Qodir Al Jilani RA Yang Biasa Dibaca oleh Hadhrotus Syaikh Ahmad Asrori Al Ishaqy RA Untuk Menyambut Bulan Romadhon :


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الصِّيَامِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْقِيَامِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلاِيْمَانِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْقُرْأَنِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلاَنْوَارِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْمَغْفِرَةِ وَالْغُفْرَانِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الدَّرَجَاتِ وَالنَّجَاتِ مِنَ الدَّرَكَاتِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ التَّائِبِيْنَ الْعَابِدِيْنَ. اَلسَّلاََمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْعَارِفِيْنَ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْمُجْتَهِدِيْنَ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلأَمَانِ. كُنْتِ لِلْعَاصِيْنَ حَبْسًا وَلِلْمُتَّقِيْنَ اُنْسًا. اَلسَّلاَمُ عَلَى اْلقَنَادِيْلِ وَالْمَصَابِيْحِ الزَّاهِرَةِ. وَالْعُيُوْنِ السَّاهِرَةِ. وَالدُّمُوْعِ الْهَاطِلَةِ. وَالْمَحَارِيْبِ الْمُتَعَطِّرَةِ. وَاْلعَبَرَاتِ الْمُنْسَكِبَةِ الْمُتَفَطِّرَةِ. وَاْلاَنْفَاسِ الصَّاعِدَةِ مِنَ الْقُلُوْبِ الْمُحْتَقِرَةِ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ قَبِلْتَ صِيَامَهُمْ وَصَلاَتَهُمْ وَبَدَّلْتَ سَيِّئاَتِهِ بِحَسَنَاتِهِ. وَاَدْخَلْتَهُ بِرَحْمَتِكَ فِى جَنَّاتِكَ. وَرَفَعْتَ دَرَجَاتِهِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الراَّحِمِيْنَ.


“Salam bagimu wahai bulan Romadhon. Salam bagimu wahai bulan qiyam (bulan untuk mendirikan sholat tarawih). Salam bagimu wahai bulan iman. Salam bagimu wahai bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an. Salam bagimu wahai bulan yang penuh cahaya. Salam bagimu wahai bulan yang penuh ampunan. Salam bagimu wahai bulan (untuk menaikkan) derajat dan keselamatan dari derajat yang rendah. Salam bagimu wahai bulan bagi orang-orang yang bertaubat dan ahli ibadah. Salam bagimu wahai bulan milik orang-orang yang ma’rifat. Salam bagimu wahai bulan milik orang-orang yang bersungguh-sungguh. Salam bagimu wahai bulan yang aman. Engkau adalah penjara bagi orang-orang yang melakukan maksiat dan kesenangan bagi orang-orang yang bertakwa. Salam bagi pelita yang bersinar, mata-mata yang terjaga, airmata yang terus menetes, mihrab-mihrab yang semerbak mewangi, airmata yang tumpah, dan nafas-nafas yang naik dari hati yang hina. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau terima puasa dan sholatnya, yang Engkau ganti kejelekannya dengan kebaikan, yang Engkau masukkan ke dalam surga-Mu dengan rahmat-Mu, dan yang Engkau angkat derajatnya dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Asih.”

*Doa ini biasa dibaca hadhrotus Syaikh pada malam tanggal 1 Romadhon ba’da maghrib, dengan model talqin (Beliau membaca beberapa kalimat, lalu ditirukan oleh jamaah)
Dinukil dari Al Ghunyah li Tholibi Thoriq Al Haq karya Sulthon Al Aulia’ Sayyidina Syaikh ‘Abdul Qodir Al Jilani RA

www.sarkub.com

Kamis, 12 Juli 2012

KHOTBAH JUM'AT : PENTINGNYA SIKAP LEMAH LEMBUT DALAM BERDAKWAH

A. Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن, وَالصَّلاةُ والسَّلامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمْدٍ طهَ الأَمِيْنَ , وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطّاهِرِيْنَ, وَمَنِ اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ , وَأَشْهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لاشَرِيْكَ لَهُ , وَلا ضِدَّ وَلا نِدَّ وَلا زَوْجَةَ وَلا وَلَدَ لَهُ , وَلاشَبِيْهَ وَلا مَثِيْلَ لَهُ , وَلاجِسْمَ وَلاحَجْمَ وَلاجَسَدَ وَلاجُثَّةَ لَهُ , وَلا صُوْرَةَ وَلاأَعْضَاءَ وَلا أَدَوَاتِ لَهُ, وَلا أَيْنَ وَلا جِهَةَ وَلاحَيِّزَ وَلا مَكَانَ لَهُ , كَانَ اللهُ وَلا مَكَانَ وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَان , فَلاتَضْرِبُوا لِلَّهِ الأَمْثَالِ, وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الأَ عْلىَ, تَنَزَّهَ رَبِّيْ عَنِ الْجُلُوْسِ وَالْقُعُودِ ,وَعَنِ الْحَرَ كَةِ وَالسُّكُوْنِ وَعَنِ الاِتِّصَالِ وَالانْفِصَالِ ,لايَحُلُّ فِيْهِ شَيْء , وَلا يُحَلُّ مِنْهُ شَيْء , وَلا يَحُلُّ هُوَ فِيْ شَيْءِ ,لأَنَّهُ “لَيْس كَمِثْلِهِ شَيْءٌ”, “مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فَاللهُ لا يُشْبِهُ ذَلِك”, “وَمَنْ وَصَفَ اللهَ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِى الْبَشَرِ فَقَدْكَفَرَ”, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا وَعَظِيْمَنَا, وَقَائِدَنَا وقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا ,عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَنَبِيُّهُ وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ, صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى كُلِّ رَسُوْلٍ أَرْسَلَهُ .
اللهم صل وسلم وبارك على على سيدنا محمدٍ نورِ الأَنْوَارِ، وعلى آله وأصحابه الأخْيارِ وعلى التابعين لهم بإحسان ما بَقِيَ الليلُ والنهارُ.
أَمَّا بَعْدُ؛ مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ – أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ – يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.


مَعَاشِرَ الْحَاضِرِيْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ

Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Allah Ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Dari ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak  Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya.” (HR. Al-Bukhari no. 6024 dan Muslim no. 2165)
Dari ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau telah bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidak berada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, tidaklah sifat itu dicabut dari sesuatu, melainkan dia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim no. 2594)

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata:

قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ
“Seorang ‘Arab badui berdiri dan kencing di masjid. Maka para sahabat ingin mengusirnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada mereka, “Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air -atau dengan setimba besar air-. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesusahan.” (HR. Al-Bukhari no. 323)

مَعَاشِرَ الْحَاضِرِيْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ
 Ar-Rifq adalah sifat lemah lembut di dalam berkata dan bertindak serta memilih untuk melakukan cara yang paling mudah. (Fathul Bari syarh Shahih Al Bukhari)
Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berhias dengan sifat yang sangat mulia tersebut, karena ia merupakan bagian dari sifat-sifat yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dengannya pula merupakan sebab seseorang dapat meraih berbagai kunci kebaikan dan keutamaan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki sifat lemah lembut, maka ia tidak akan bisa meraih berbagai kebaikan dan keutamaan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan hal ini kepada ‘Aisyah-istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ
“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Lembut yang mencintai kelembutan dalam seluruh perkara.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana disebutkan pula dalam sebuah hadits:

مَنْ يُحْرَمْ الرِّفْقَ يُحْرَمْ الْخَيْرَ
“Orang yang dijauhkan dari sifat lemah lembut, maka ia dijauhkan dari kebaikan.” (HR.Muslim)

Sebagaimana telah diterangkan diatas bahwa sifat Ar-Rifq (lemah lembut) merupakan sifat yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan juga dengannya akan bisa meraih segala kebaikan dan keutamaan. Dengannya pula akan melahirkan sikap hikmah, yang juga merupakan sikap yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam berkata dan bertindak.

Dikisahkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk-duduk bersama para shahabat radhiyallahu ‘anhum di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab badui (kampung) masuk ke dalam masjid, kemudian kencing di dalamnya. Maka, dengan serta merta, bangkitlah para shahabat yang ada di dalam masjid, menghampirinya seraya menghardiknya dengan ucapan yang keras. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka untuk menghardiknya dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai orang tersebut menyelesaikan hajatnya. Kemudian setelah selesai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan setimba air untuk dituangkan pada air kencing tersebut. (HR. Al Bukhari)

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil ‘Arab badui tersebut dalam keadaan tidak marah ataupun mencela. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menasehatinya dengan lemah lembut:
“Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang benda najis (seperti kencing, pen) atau kotor. Hanya saja masjid itu dibangun sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al Qur’an.” (HR. Muslim)

Melihat sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian lembut dan halusnya dalam menasehati, timbullah rasa cinta dan simpati ‘Arab badui tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia pun berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.” Mendengar doa tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan berkata kepadanya:

“Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)
(Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa doa Arab badui tersebut diucapkan sebelum ia buang air kecil. Wallahu a’lam)

مَعَاشِرَ الْحَاضِرِيْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ
            Betapa hati manusia itu, pada asalnya, adalah cenderung kepada sikap yang lembut dan tidak kasar. Betapa indah dan lembutnya cara pengajaran dari tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap seorang yang belum mengerti. Dengan sikap hikmah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akhirnya melahirkan rasa simpati dan membuka mata hati Arab badui tersebut dalam menerima nasehat. Berbeda halnya tatkala perbuatannya tersebut disikapi dengan kemarahan, yang akhirnya melahirkan sikap ketidaksukaan. Hal ini bisa dilihat dari perkataannya: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.”

Selalu memberikan kemudahan kepada orang lain dan tidak mau mempersulit urusan merupakan ciri khas akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِيْنَ
“Hanya saja kalian diperintah untuk memudahkan dan bukan untuk mempersulit.” (HR.Al Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi mencintai kelembutan. Dia memberikan pada sifat kelembutan yang tidak diberikan kepada sifat kekerasan, dan tidak pula diberikan kepada sifat-sifat yang lainnya.” (HR. Muslim)

Hadits ini mengandung makna keutamaan sifat lemah lembut, anjuran untuk berakhlak dengannya, serta tercelanya sifat kasar dan keras. Sesungguhnya sifat lemah lembut merupakan sebab untuk meraih segala kebaikan.

Makna lafazh hadits, “Dia (Allah subhanahu wa ta’ala, pen) memberikan sesuatu pada sifat lemah lembut yang tidak diberikan kepada sifat kekerasan“, yakni bahwa dengan sifat lemah lembut tersebut, seseorang dapat melakukan perkara-perkara yang tidak akan bisa dilakukan dengan sifat yang menjadi lawannya yaitu sifat keras dan kasar. Ada yang mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan pahala pada sifat lemah lembut, yang tidak diberikan pada sifat yang lainnya.

Dengan sifat lemah lembut yang ada pada diri seseorang, dapat menyelamatkannya dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ
“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang yang diharamkan dari neraka atau neraka diharamkan atasnya? Yaitu atas setiap orang yang dekat (dengan manusia), lemah lembut, lagi memudahkan.” (HR. Tirmidzi)

Ar-Rifq merupakan sifat yang harus dimiliki oleh setiap muslim, terkhusus seorang muslim
Termasuk diantara akhlak-akhlak yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang berdakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala adalah bersikap lapang dada, menampakkan wajah yang ceria dan bersikap lemah lembut kepada saudaranya sesama muslim. Sifat tersebut akan mendorong untuk lebih mudah diterimanya dakwah seseorang tatkala ia menyeru ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Bahkan terhadap orang kafir tertentu, terkadang perlu untuk bersikap lemah lembut dalam rangka melembutkan hati mereka untuk tertarik masuk ke dalam Islam. Telah diketahui bahwasanya Islam adalah sebuah agama yang ringan dan mudah bagi pemeluknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ
“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Setiap orang yang berusaha mempersulitnya pasti akan kalah. Maka bersikap luruslah, mendekatlah kepada kesempurnaan, dan berilah kabar gembira, serta ambillah sebuah kesempatan pada pagi hari, petang serta sebagian dari malam.” (HR. Al Bukhari)

Islam juga memerintahkan kepada pemeluknya untuk bermuamalah dengan sifat lemah lembut kepada sesama manusia, dan bahkan terhadap binatang ternak sekalipun. Sebagaimana dalam hadits:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan untuk berbuat baik atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya (ketika hendak menyembelih), dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim)

Ketika seorang mukmin telah berhias dengan kelemahlembutan, maka akan membuahkan pada dirinya sikap kasih sayang kepada orang lain, dan akan melahirkan pada diri orang lain sikap kecintaan dan keridhaan, serta menumbuhkan sikap segan dari pihak lawan kepada dirinya. Sebaliknya, dengan sikap keras, kaku dan kasar akan membuat lari dan menjauhnya manusia, dan semakin mengobarkan api kebencian dari orang-orang yang menanam benih kebencian kepada dirinya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Sesungguhnya sifat lemah lembut tidaklah berada pada sesuatu kecuali akan membuat indah sesuatu tersebut dan tidaklah sifat lemah lembut dicabut dari sesuatu kecuali akan membuat sesuatu tersebut menjadi buruk.” (HR. Muslim)

Kesimpulannya adalah sepantasnya bagi seorang muslim untuk menghiasi dirinya dengan sifat Ar-Rifq didalam memerintahkan kepada perkara yang ma’ruf (kebaikan) dan melarang dari yang mungkar.

مَعَاشِرَ الْحَاضِرِيْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ
            Namun, yang perlu diperhatikan bahwa sifat Ar-Rifq tidaklah menunjukkan kelemahan atau ketidaktegasan seseorang dalam berkata dan bertindak. Bahkan dalam sifat Ar-Rifq sendiri, sebenarnya telah mengandung sikap tegas dalam amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran). Dan tidaklah sikap tegas itu identik dengan sikap keras atau kasar. Dalam keadaan tertentu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap tegas dan keras. 

Diantara contohnya:
-Celaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan memanjangkan sholat tanpa memperhatikan keadaan orang-orang yang berma’mum. (HR. Al Bukhari)

-Sikap keras beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang makan menggunakan tangan kiri ketika diperintah untuk makan menggunakan tangan kanan. (HR. Muslim)

-Perkataan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Celaka kamu” terhadap orang yang berlambat-lambat melaksanakan perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menaiki unta. (HR. Al Bukhari)

-Kerasnya sikap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang (laki-laki) yang memakai cincin emas, setelah ia tahu bahwa perkara itu adalah perkara yang diharamkan. (HR. Muslim)

Dan diantara pedoman dan kaidah syar’i yang harus dipegang teguh dalam menghadapi kerasnya problem (fitnah) dalam kehidupan adalah hendaknya kita menghadapinya dengan sifat Ar-Rifq (lemah lembut), At-Ta’anni (tidak tergesa-gesa), dan Al Hilm (santun).

Maka hendaknya kita bersikap lemah lembut dan tenang/tidak tergesa-gesa dalam segala urusan dan janganlah menjadi orang yang mudah marah. Janganlah kita menjadi orang yang tidak mempunyai sifat ar-rifq, karena dengan sifat ar-rifq selamanya tidaklah akan membuat seseorang itu menyesal, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Tidaklah sifat ar-rifq tersebut berada dalam suatu perkara kecuali akan memperindahnya.

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.
بَارَكَ اللهُ لَنَا وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَ أَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

B. Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ  سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ.

Khutbah Jum’at ini al faqir sampaikan di Masjid Agung An Nuur Pare – Kediri – Jatim, Jum’at Wage, 22 Rabi’ul Awl 1432 H/ 25 November 2011 M

Selasa, 10 Juli 2012

Martir pertama dalam tasawuf

Husain ibn Mansur al-Hallaj barangkali adalah syekh sufi abad ke-9 dan ke-10 yang paling terkenal. Ia terkenal karena berkata: "Akulah Kebenaran", ucapan mana yang membuatnya dieksekusi secara brutal. Bagi para ulama ortodok, kematian ini dijustifikasi dengan alasan bid'ah, sebab Islam eksoteris tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah dan karena Kebenaran (Al-Haqq) adalah salah satu nama Allah, maka ini berarti bahwa al-Hallaj menyatakan ketuhanannya sendiri. Kaum sufi sejaman dengan al-Hallaj juga terkejut oleh pernyataannya, karena mereka yakin bahwa seorang sufi semestinya tidak boleh mengungkapkan segenap pengalaman batiniahnya kepada orang lain. Mereka berpandangan bahwa al-Hallaj tidak mampu menyembunyikan berbagai misteri atau rahasia Ilahi, dan eksekusi atas dirinya adalah akibat dari kemurkaan Allah lantaran ia telah mengungkapkan segenap kerahasiaan tersebut 

Meskipun al-Hallaj tidak punya banyak pendukung di kalangan kaum sufi sezamannya, hampir semua syekh sufi sesungguhnya memuji dirinya dan berbagai pelajaran yang diajarkannya. Aththar, dalam karyanya Tadzkirah al-Awliya, menyuguhkan kepada kita banyak legenda seputar al-Hallaj. Dalam komentarnya, ia menyatakan, "Saya heran bahwa kita bisa menerima semak belukar terbakar (yakni, mengacu pada percakapan Allah dengan nabi Musa as) yang menyatakan Aku adalah Allah, serta meyakini bahwa kata-kata itu adalah kata-kata Allah, tapi kita tidak bisa menerima ucapan al-Hallaj, 'Akulah Kebenaran', padahal itu kata-kata Allah sendiri!". Di dalam syair epiknya, Matsnawi, Rumi mengatakan, "Kata-kata 'Akulah Kebenaran' adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara Akulah Tuhan yang berasal dari Fir'aun adalah kezaliman."

 

Kehidupan Al-Hallaj

Al-Hallaj di lahirkan di kota Thur yang bercorak Arab di kawasan Baidhah, Iran tenggara, pada 866M. Berbeda dengan keyakinan umum, ia bukan orang Arab, melainkan keturunan Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster dan ayahnya memeluk islam.

Ketika al-Hallaj masih kanak-kanak, ayahnya, seorang penggaru kapas (penggaru adalah seorang yang bekerja menyisir dan memisahkan kapas dari bijinya). Bepergian bolak-balik antara Baidhah, Wasith, sebuah kota dekat Ahwaz dan Tustar. Dipandang sebagai pusat tekstil pada masa itu, kota-kota ini terletak di tapal batas bagian barat Iran, dekat dengan pusat-pusat penting seperti Bagdad, Bashrah, dan Kufah. Pada masa itu, orang-orang Arab menguasai kawasan ini, dan kepindahan keluarganya berarti mencabut, sampai batas tertentu, akar budaya al-Hallaj.

Di usia sangat muda, ia mulai mempelajari tata bahasa Arab, membaca Al-Qur'an dan tafsir serta teologi. Ketika berusia 16 tahun, ia merampungkan studinya, tapi merasakan kebutuhan untuk menginternalisasikan apa yang telah dipelajarinya. Seorang pamannya bercerita kepadanya tentang Sahl at-Tustari, seorang sufi berani dan independen yang menurut hemat pamannya, menyebarkan ruh hakiki Islam. Sahl adalah seorang sufi yang mempunyai kedudukan spiritual tinggi dan terkenal karena tafsir Al-Qur'annya. Ia mengamalkan secara ketat tradisi Nabi dan praktek-praktek kezuhudan keras semisal puasa dan shalat sunat sekitar empat ratus rakaat sehari. Al-Hallaj pindah ke Tustar untuk berkhidmat dan mengabdi kepada sufi ini.

Dua tahun kemudian, al-Hallaj tiba-tiba meninggalkan Sahl dan pindah ke Bashrah. Tidak jelas mengapa ia berbuat demikian. Sama sekali tidak dijumpai ada laporan ihwal corak pendidikan khusus yang diperolehnya dari Sahl. Tampaknya ia tidak dipandang sebagai murid istimewa. Al-Hallaj juga tidak menerima pendidikan khusus darinya. Namun, ini tidak berarti bahwa Sahl tidak punya pengaruh pada dirinya. Memperhatikan sekilas praktek kezuhudan keras yang dilakukan al-Hallaj mengingatkan kita pada Sahl. Ketika al-Hallaj memasuki Bashrah pada 884M, ia sudah berada dalam tingkat kezuhudan yang sangat tinggi. Di Bashrah, ia berjumpa dengan Amr al-Makki yang secara formal mentahbiskannya dalam tasawuf. Amr adalah murid Junaid, seorang sufi paling berpengaruh saat itu.

Al-Hallaj bergaul dengn Amr selama delapan belas bulan. Akhirnya ia meninggalkan Amr juga. Tampaknya seorang sahabat Amr yang bernama al-Aqta yang juga murid Junaid mengetahui kemampuan dan kapasitas spiritual dalam diri al-Hallaj dan menyarankan agar ia menikah dengan saudara perempuannya, (Massignon menunjukkan bahwa pernikahan ini mungkin punya alasan politis lantaran hubungan al-Aqta) Betapapun juga Amr tidak diminta pendapatnya, sebagaiman lazimnya terjadi. Hal ini menimbulkan kebencian dan permusuhan serta bukan hanya memutuskan hubungan persahabatan antara Amr dan Al-Aqta, melainkan juga membahayakan hubungan guru-murid antara Amr dan al-Hallaj. Al-Hallaj yang merasa memerlukan bantuan dan petunjuk untuk mengatasi situasi ini, berangkat menuju Baghdad dan tinggal beberapa lama bersama Junaid, yang menasehatinya untuk bersabar. Bagi Al-Hallaj, ini berarti menjauhi Amr dan menjalani hidup tenang bersama keluarganya dan ia kembali ke kota kelahirannya. Diperkirakan bahwa ia memulai belajar pada Junaid, terutama lewat surat-menyurat, dan terus mengamalkan kezuhudan.

Enam tahun berlalu, dan pada 892M, al-Hallaj memutuskan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Kaum Muslimin diwajibkan menunaikan ibadah ini sekurang-kurangnya sekali selama hidup (bagi mereka yang mampu). Namun ibadah haji yang dilakukan al-Hallaj tidaklah biasa, melainkan berlangsung selama setahun penuh, dan setiap hari dihabiskannya dengan puasa dari siang hingga malam hari. Tujuan al-Hallaj melakukan praktek kezuhudan keras seperti ini adalah menyucikan hatinya menundukkannya kepada Kehendak Ilahi sedemikian rupa agar dirinya benar-benar sepenuhnya diliputi oleh Allah. Ia pulang dari menunaikan ibadah haji dengan membawa pikiran-pikiran baru tentang berbagai topik seperti inspirasi Ilahi, dan ia membahas pikiran-pikiran ini dengan para sufi lainnya. Diantaranya adalah Amr al-Makki dan mungkin juga Junaid.

Sangat boleh jadi bahwa Amr segera menentang al-Hallaj. Aththar menunjukkan bahwa al-Hallaj datang kepada Junaid untuk kedua kalinya dengan beberapa pertanyaan ihwal apakah kaum sufi harus atau tidak harus mengambil tindakan untuk memperbaiki masyarakat (al-Hallaj berpandangan harus, sedangkan Junaid berpandangan bahwa kaum sufi tidak usah memperhatikan kehidupan sementara di dunia ini). Junaid tidak mau menjawab, yang membuat al-Hallaj marah dan kemudian pergi. Sebaliknya, Junaid meramalkan nasib Al-Hallaj.

Ketika al-Hallaj kembali ke Bashrah, ia memulai mengajar, memberi kuliah, dan menarik sejumlah besar murid. Namun pikiran-pikirannya bertentangan dengan ayah mertuanya. Walhasil, hubungan merekapun memburuk, dan ayah mertuanya sama sekali tidak mau mengakuinya. Ia pun kembali ke Tustar, bersama dengan istri dan adik iparnya, yang masih setia kepadanya. Di Tustar ia terus mengajar dan meraih keberhasilan gemilang. Akan tetapi, Amr al-Makki yang tidak bisa melupakan konflik mereka, mengirimkan surat kepada orang-orang terkemuka di Ahwaz dengan menuduh dan menjelek-jelekkan nama al-Hallaj, situasinya makin memburuk sehingga al-Hallaj memutuskan untuk menjauhkan diri dan tidak lagi bergaul dengan kaum sufi. Sebaliknya ia malah terjun dalam kancah hingar-bingar dan hiruk-pikuk duniawi. 

Al-Hallaj meninggalkan jubah sufi selama beberapa tahun, tapi tetap terus mencari Tuhan. Pada 899M, ia berangkat mengadakan pengembaraan apostolik pertamanya ke batasan timur laut negeri itu, kemudian menuju selatan, dan akhirnya kembali lagi ke Ahwaz pada 902M. Dalam perjalanannya, ia berjumpa dengan guru-guru spiritual dari berbagai macam tradisi di antaranya, Zoroastrianisme dan Manicheanisme. Ia juga mengenal dan akrab dengan berbagai terminologi yang mereka gunakan, yang kemudian digunakannya dalam karya-karyanya belakangan. Ketika ia tiba kembali di Tustar, ia mulai lagi mengajar dan memberikan kuliah. Ia berceramah tentang berbagai rahasia alam semesta dan tentang apa yang terbersit dalam hati jamaahnya. Akibatnya ia dijuluki Hallaj al-Asrar (kata Asrar bisa bermakna rahasia atau kalbu. Jadi al-Hallaj adalah sang penggaru segenap rahasia atau Kalbu, karena Hallaj berarti seorang penggaru) ia menarik sejumlah besar pengikut, namun kata-katanya yang tidak lazim didengar itu membuat sejumlah ulama tertentu takut, dan ia pun dituduh sebagai dukun.

Setahun kemudian, ia menunaikan ibadah haji kedua. Kali ini ia menunaikan ibadah haji sebagai seorang guru disertai empat ratus pengikutnya. Banyak legenda dituturkan dalam perjalanan ini berkenaan dengan diri al-Hallaj berikut berbagai macam karamahnya. Semuanya ini makin membuat al-Hallaj terkenal sebagai mempunyai perjanjian dengan jin. Sesudah melakukan perjalanan ini, ia memutuskan meninggalkan Tustar untuk selamanya dan bermukim di Baghdad, tempat tinggal sejumlah sufi terkenal, ia bersahabat dengan dua diantaranya mereka, Nuri dan Syibli.

Pada 906M, ia memutuskan untuk mengemban tugas mengislamkan orang-orang Turki dan orang-orang kafir. Ia berlayar menuju India selatan, pergi keperbatasan utara wilayah Islam, dan kemudian kembali ke Bagdad. Perjalanan ini berlangsung selama enam tahun dan semakin membuatnya terkenal di setiap tempat yang dikunjunginya. Jumlah pengikutnya makin bertambah.

Tahun 913M adalah titik balik bagi karya spiritualnya. Pada 912M ia pergi menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya dan terakhir kali, yang berlangsung selama dua tahun, dan berakhir dengan diraihnya kesadaran tentang Kebenaran. Di akhir 913M inilah ia merasa bahwa hijab-hijab ilusi telah terangkat dan tersingkap, yang menyebabkan dirinya bertatap muka dengan sang Kebenaran (Al-Haqq). Di saat inilah ia mengucapkan, "Akulah Kebenaran" (Ana Al-Haqq) dalam keadaan ekstase. Perjumpaan ini membangkitkan dalam dirinya keinginan dan hasrat untuk menyaksikan cinta Allah pada menusia dengan menjadi "hewan kurban". Ia rela dihukum bukan hanya demi dosa-dosa yang dilakukan setiap muslim, melainkan juga demi dosa-dosa segenap manusia. Ia menjadi seorang Jesus Muslim, sungguh ia menginginkan tiang gantungan.

Di jalan-jalan kota Baghdad, dipasar, dan di masjid-masjid, seruan aneh pun terdengar: "Wahai kaum muslimin, bantulah aku! Selamatkan aku dari Allah! Wahai manusia, Allah telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku, kalian semua bakal memperoleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk pada dirinya sendiri) dibunuh." Kemudian, al-Hallaj berpaling pada Allah seraya berseru, "Ampunilah mereka, tapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka."

Yang mengherankan, kata-kata ini mengilhami orang-orang untuk menuntut adanya perbaikan dalam kehidupan dan masyarakat mereka. Lingkungan sosial dan politik waktu itu menimbulkan banyak ketidakpuasan di kalangan masyarakat dan kelas penguasa. Orang banyak menuntut agar khalifah menegakkan kewajiban yang diembankan Allah dan Islam atas dirinya. Sementara itu, yang lain menuntut adanya pembaruan dan perubahan dalam masyarakat sendiri.

Tak pelak lagi, al-Hallaj pun punya banyak sahabat dan musuh di dalam maupun di luar istana khalifah. Para pemimpin oposisi, yang kebanyakan adalah murid al-Hallaj, memandangnya sebagai Imam Mahdi atau juru selamat dan, dengan harapan meraih kekuasaan, berusaha memanfaatkan pengaruhnya pada masyarakat untuk menimbulkan gejolak dan keresahan. Para pendukungnya di kalangan pemerintahan melindunginya sedemikian rupa sehingga ia bisa membantu mengadakan pembaruan sosial. Di atas segalanya, berbagai gejolak pun muncul dan sudah pasti berakhir secara dramatis. 

Pada akhirnya, keberpihakan al-Hallaj berikut pandangan-pandangannya tentang agama, menyebabkan dirinya berada dalam posisi berseberangan dengan kelas penguasa. Pada 918M, ia diawasi, dan pada 923M ia ditangkap.

Sang penasehat khalifah termasuk di antara sahabat al-Hallaj dan untuk sementara berhasil mencegah upaya untuk membunuhnya. Al-Hallaj dipenjara hampir selama sembilan tahun. Selama itu ia terjebak dalam baku sengketa antara segenap sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun meletus di Bagdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disalahkan dan dituduh sebagai penghasut. Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulatan kekuasaan yang keras di kalangan istana khalifah. Akhirnya, wazir khalifah, musuh bebuyutan al-Hallaj berada di atas angin, sebagai unjuk kekuasaan atas musuh-musuhnya ia menjatuhkan hukuman mati atas al-Hallaj dan memerintahkan agar ia dieksekusi.

Tak lama kemudian, al-Hallaj disiksa di hadapan orang banyak dan dihukum di atas tiang gantungan dengan kaki dan tangannya terpotong. Kepalanya dipenggal sehari kemudian dan sang wazir sendiri hadir dalam peristiwa itu. Sesudah kepalanya terpenggal, tubuhnya disiram minyak dan dibakar. Debunya kemudian dibawa ke menara di tepi sungai Tigris dan diterpa angin serta hanyut di sungai itu.

Demikian, al-Hallaj dibunuh secara brutal. Akan tetapi ia tetap hidup dalam kalbu orang-orang yang merindukan capaian rohaninya. Dengan caranya sendiri, ia telah menunjukkan pada para pencari kebenaran langkah-langkah yang mesti ditempuh sang pecinta agar sampai pada kekasih

 

Berbagai legenda dan kisah tentang al-Hallaj

Bagaimana mulanya Husain ibn manshur di sebut al-Hallaj sebuah nama yang berarti penggaru (khususnya kapas)? Menurut Aththar, suatu hari Husain ibn Manshur melewati sebuah gudang kapas dan melihat seonggok buah kapas. Ketika jarinya menunjuk pada onggokan buah kapas itu. Biji-bijinya pun terpisah dari serat kapas. Ia juga dijuluki Hallaj- al-asrar --penggaru segenap Kalbu-- karena ia mampu membaca pikiran orang dan menjawab berbagai pertanyaan mereka sebelum ditanyakan kepadanya.

Al-Hallaj terkenal karena berbagai keajaibanya. Salah satu orang muridnya menuturkan kisah berikut ini:
Sewaktu menunaikan ibadah haji kedua kalinya, al-Hallaj pergi ke sebuah gunung untuk mengasingkan diri bersama beberapa orang pengikutnya. Sesudah makan malam, al-Hallaj mengatakan bahwa ia ingin makan manisan.

Murid-muridnya kebingungan lantaran mereka telah memakan habis semua bekal yang mereka bawa. Al-Hallaj tersenyum dan berjalan menembus kegelapan malam. Beberapa menit kemudian, ia kembali sambil membawa makanan berupa kue-kue hangat yang belum pernah mereka ketahui sebelumya. Ia meminta mereka untuk makan bersamanya, seorang muridnya, yang penasaran dan ingin tahu dari mana al-Hallaj memperolehnya, menyembunyikan kue bagiannya, ketika mereka kembali dari mengasingkan diri sang murid ini mencari seseorang yang bisa mengetahui asal kue itu, seseorang dari Zabid, sebuah kota yang jauh dari situ, mengetahui bahwa kue itu berasal dari kotanya, sang murid yang keheranan ini pun sadar bahwa al-Hallaj memperoleh kue itu secara ajaib. "Tak ada seorang pun dan hanya jin saja yang sanggup menempuh jarak sedemikian jauh dalam waktu singkat"! serunya.

Pada kesempatan lain al-Hallaj mengarungi padang pasir bersama sekelompok orang dalam perjalanan menuju Mekah. Di suatu tempat, sahabat-sahabatnya menginginkan buah ara, dia ia pun mengabil senampan penuh buah ara dari udara. Kemudian mereka meminta halwa, ia membawa senampan penuh halwa hangat dan berlapis gula serta memberikannya kepada mereka, usai memakannya mereka mengatakan bahwa kue itu khas berasal dari daerah anu di Bagdad, mereka bertanya ihwal bagaimana ia memperolehnya. Ia hanya menjawab, baginya Baghdad dan padang pasir sama dan tidak ada bedanya, kemudian mereka meminta kurma, ia diam sejenak berdiri dan menyuruh mereka untuk menggerakkan tubuh mereka seperti mereka menggoyang-goyang pohon kurma, mereka melakukannya, dan kurma-kurma segar pun berjatuhan dari lengan baju mereka.

Al-Hallaj terkenal bukan hanya karena keajaibannya, melainkan juga karena kezuhudannya. Pada usia lima puluh tahun ia mengatakan bahwa ia memilih untuk tidak mengikuti agama tertentu, melainkan mengambil dan mengamalkan praktek apa saja yang paling sulit bagi nafs (ego)-nya dari setiap agama. Ia tidak pernah meninggalkan shalat wajib, dengan shalat wajib ini ia melakukan wudhu jasmani secara sempurna. 

Ketika ia mulai menempuh jalan ini, ia hanya mempunyai sehelai jubah tua dan dan bertambal yang telah dikenakannya selama bertahun-tahun. Suatu hari, jubah itu diambil secara paksa, dan diketahui bahwa ada banyak kutu dan serangga bersarang didalamnya --yang salah satunya berbobot setengah ons. Pada kesempatan lain, ketika ia memasuki sebuah desa, orang-orang melihat kalajengking besar yang mengikutinya. Mereka ingin membunuh kalajengking itu, ia menghentikan mereka seraya mengatakan bahwa kalajengking itu telah bersahabat dengannya selama dua belas tahun, tampaknya ia sudah sangat lupa pada nyeri dan sakit jasmani. 

Kezuhudan al-Hallaj adalah sarana yang ditempanya untuk mencapai Allah, yang dengan-Nya ia menjalin hubungan sangat khusus sifatnya, suatu hari, pada waktu musim ibadah haji di Mekah, ia melihat orang-orang bersujud dan berdoa, "Wahai Engkau. Pembimbing mereka yang tersesat, Engkau jauh di atas segenap pujian mereka yang memuji-Mu dan sifat yang mereka lukiskan kepada-Mu. Engkau tahu bahwa aku tak sanggup bersyukur dengan sebaik-baiknya atas kemurahan-Mu. Lakukan ini di tempatku, sebab yang demikian itulah satu-satunya bentuk syukur yang benar."

Kisah penangkapan dan eksekusi atas dirinya sangat menyentuh dan mengharu-biru kalbu. Suatu hari, ia berkata kepada sahabatnya, Syibli, bahwa ia sibuk dengan tugas amat penting yang bakal mengantarkan dirinya pada kematiannya. Sewaktu ia sudah terkenal dan berbagai keajaibannya dibicarakan banyak orang. Ia menarik sejumlah besar pengikut dan juga melahirkan musuh yang sama banyaknya, akhirnya, khalifah sendiri mengetahui bahwa ia mengucapkan kata-kata bid'ah, "Akulah Kebenaran." Musuh al-Hallaj menjebaknya untuk mengucapkan, Dia-lah Kebenaran ia hanya menjawab, "Ya, segala sesuatu adalah Dia! Kalian bilang bahwa Husain (al-Hallaj) telah hilang, memang benar. Namun Samudra yang meliputi segala sesuatu tidaklah demikian."

Beberapa tahun sebelumnya, ketika al-Hallaj belajar dibawah bimbingan Junaid, ia diperintahkan untuk bersikap sabar dan tenang. Beberapa tahun kemudian, ia datang kembali menemui Junaid dengan sejumlah pertanyaan. Junaid hanya menjawab bahwa tak lama lagi ia bakal melumuri tiang gantungan dengan darahnya sendiri, Tampaknya, ramalan ini benar adanya. Junaid ditanya ihwal apakah kata-kata al-Hallaj bisa ditafsirkan dengan cara yang bakal bisa menyelamatkan hidupnya. Junaid menjawab, "Bunuhlah ia, sebab saat ini bukan lagi waktunya menafsirkan." al-Hallaj di jebloskan ke penjara. Pada malam pertama sewaktu ia dipenjara, para sipir penjara mencari-carinya. Mereka heran. Ternyata selnya kosong. Pada malam kedua, bukan hanya al-Hallaj yang hilang, penjara itu sendiri pun hilang!

Pada malam ketiga, segala sesuatunya kembali normal. Para sipir penjara itu bertanya, di mana engkau pada malam pertama? ia menjawab, "pada malam pertama aku ada di hadirat Allah. Karena itu aku tidak ada di sini. Pada malam kedua, Allah ada di sini, karenanya aku dan penjara ini tidak ada. Pada malam ketiga aku di suruh kembali!"

Beberapa hari sebelum dieksekusi, ia berjumpa dengan sekitar tiga ratus narapidana yang ditahan bersamanya dan semuanya dibelenggu. ia berkata bahwa ia akan membebaskan mereka semua, mereka heran karena ia berbicara hanya tentang kebebasan mereka dan bukan kebebasannya sendiri ia berkata kepada mereka: "Kita semua dalam belenggu Allah di sini. Jika kita mau, kita bisa membuka semua belenggu ini," kemudian ia menunjuk belenggu-belenggu itu dengan jarinya dan semuanya pun terbuka. Para narapidana pun heran bagaimana mereka bisa melarikan diri, karena semua pintu terkunci. Ia menunjukkan jarinya ke tembok, dan terbukalah tembok itu. "Engkau tidak ikut bersama kami?" tanya mereka "Tidak, ada sebuah rahasia yang hanya bisa diungkapkan di tiang gantungan!" jawabnya

Esoknya, para sipir penjara bertanya kepadanya tentang yang terjadi pada narapidana lainnya. Ia menjawab bahwa ia telah membebaskan mereka semua.

"Mengapa engkau tidak sekalian pergi?" tanya mereka "Dia mencela dan menyalahkanku. Karenanya aku harus tetap tinggal di sini untuk menerima hukuman," jawabnya

Sang khalifah yang mendengar percakapan ini, berpikir bahwa al-Hallaj bakal menimbulkan kesulitan, karena itu, ia memerintahkan, "Bunuhlah atau cambuklah sampai ia menarik kembali ucapannya!" Al-Hallaj dicambuk tiga ratus kali dengan rotan, setiap kali pukulan mengenai tubuhnya terdengar suara gaib berseru, "Jangan takut, putra Manshur." 

Mengenang hari itu, seorang sufi syekh Shaffar, mengatakan aku lebih percaya pada akidah sang algojo ketimbang akidah al-Hallaj. Sang algojo pastilah mempunyai akidah yang kuat dalam menjalankan Hukum Ilahi sebab suara itu bisa didengar demikian jelas, tetapi tangannya tetap mantap.

Al-Hallaj digiring untuk di eksekusi. Ratusan orang berkumpul. Ketika ia melihat kerumunan orang, ia berseru lantang, "Haqq, Haqq, ana al-Haqq --Kebenaran, kebenaran, Akulah kebenaran."

Pada waktu itu, seorang darwis memohon al-Hallaj untuk mengajarinya tentang cinta. Al-Hallaj mengatakan bahwa sang darwis akan melihat dan mengetahui hakikat cinta pada hari itu, hari esok, dan hari sesudahnya.
Al-Hallaj dibunuh pada hari itu. Pada hari kedua tubuhnya dibakar, dan pada hari ketiga abunya ditebarkan dengan angin, Melalui kematiannya, al-Hallaj menunjukkan bahwa cinta berarti menanggung derita dan kesengsaraan demi orang lain.

Ketika menuju ke tempat eksekusi, ia berjalan dengan sedemikian bangga. "Mengapa engkau berjalan sedemikian bangga?" tanya orang-orang. "Aku bangga lantaran aku tengah berjalan menuju ketempat pejagalanku," jawabnya kemudian ia melantunkan syair demikian:
Kekasihku tak bersalah
Diberi aku anggur dan amat memperhatikanku,
laksana tuan rumah
perhatikan sang tamu
Setelah berlalu sekian lama,
dia menghunus pedang dan
menggelar tikar pembantaian
Inilah balasan buat mereka yang minum anggur lama
bersama dengan singa
tua di musim panas.
Ketika dibawa ke tiang gantungan, dengan suka rela ia menaiki tangga sendiri. Seseorang bertanya tentang hal (keadaan spiritual atau emosi batin)-nya. Ia menjawab bahwa perjalanan spiritual para pahlawan justru dimulai di puncak tiang gantungan, ia berdoa dan berjalan menuju puncak itu. 

Sahabatnya, Syibli, hadir di situ dan bertanya, "Apa itu tasawuf?" al-Hallaj menjawab bahwa apa yang disaksikan Syibli saat itu adalah tingkatan tasawuf paling rendah. "Adakah yang lebih tinggi dari ini?" tanya Syibli "Kurasa, engkau tidak akan mengetahuinya!", jawab al-Hallaj.

Ketika al-Hallaj sudah berada di tiang gantungan, setan datang kepadanya dan bertanya, "Engkau bilang aku dan aku juga bilang aku. Mengapa gerangan engkau menerima rahmat abadi dari Allah dan aku, kutukan abadi?"

Al-Hallaj menjawab, "Engkau bilang aku dan melihat dirimu sendiri, sementara aku menjauhkan diri dari keakuan-ku. Aku beroleh rahmat dan engkau, kutukan. Memikirkan diri sendiri tidaklah benar dan memisahkan diri dari kedirian adalah amalan paling baik."

Kerumunan orang mulai melempari al-Hallaj dengan batu. Namun, ketika Syibli melemparkan bunga kepadanya untuk pertama kalinya, al-Hallaj merasa kesakitan. Seseorang bertanya, "Engkau tidak merasa kesakitan dilempari batu, tapi lembaran sekuntum bunga justru membuatmu kesakitan mengapa?
Al-Hallaj menjawab "Orang-orang yang jahil dan bodoh bisa dimaafkan. Sulit rasanya melihat Syibli melempar lantaran ia tahu bahwa seharusnya ia tidak melakukannya."

Sang algojo pun memotong kedua tangannya. Al-Hallaj tertawa dan berkata, "Memang mudah memotong tangan seorang yang terbelenggu. Akan tetapi, diperlukan seorang pahlawan untuk memotong tangan segenap sifat yang memisahkan seseorang dari Allah." (dengan kata lain, meninggalkan alam kemajemukan dan bersatu dengan Allah membutuhkan usah keras dan luar biasa). Sang Algojo lantas memotong kedua kakinya. Al-Hallaj tersenyum dan berkata, "Aku berjalan di muka bumi dengan dua kaki ini, aku masih punya dua kaki lainnya untuk berjalan di kedua alam. Potonglah kalau kau memang bisa melakukannya!"

Al-Hallaj kemudian mengusapkan kedua lenganya yang buntung kewajahnya sehingga wajah dan lengannya berdarah. "Mengapa engkau mengusap wajahmu dengan darah?" tanya orang-orang. Ia menjawab bahwa karena ia sudah kehilangan darah sedemikian banyak dan wajahnya menjadi pucat maka ia mengusap pipinya dengan darah agar orang jangan menyangka bahwa ia takut mati.

"Mengapa," tanya mereka, "Engkau membasahi lenganmu dengan darah?" Ia menjawab, "Aku sedang berwudu. Sebab, dalam salat cinta. Hanya ada dua rakaat, dan wudhunya dilakukan dengan darah."

Sang algojo kemudian mencungkil mata al-Hallaj. Orang-orang pun ribut dan berteriak. Sebagian menangis dan sebagian lainnya melontarkan sumpah serapah, lalu, telinga dan hidungnya dipotong. Sang algojo hendak memotong lidahnya. Al-Hallaj memohon waktu sebentar untuk mengatakan sesuatu, "Ya Allah, janganlah engkau usir orang-orang ini dari haribaan-Mu lantaran apa yang mereka lakukan karena Engkau. Segala puji bagi Allah, mereka memotong tanganku karena Engkau semata. Dan kalau mereka memenggal kepalaku, itu pun mereka melakukan karena keagungan-Mu." Kemudian ia mengutip sebuah ayat Al-Qur'an:
"Orang-orang yang mengingkari Hari kiamat bersegera ingin mengetahuinya, tetapi orang-orang beriman berhati-hati karena mereka tahu bahwa itu adalah benar."
Kata-kata terakhirnya adalah: Bagi mereka yang ada dalam ekstase "Cukuplah sudah satu kekasih."
Tubuhnya yang terpotong, yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, dibiarkan berada di atas tiang gantungan sebagai pelajaran bagi yang lainnya. Esoknya, baru sang algojo memenggal kepalanya. Ketika kepalanya dipenggal al-Hallaj tersenyum dan meninggal dunia. Orang-orang berteriak tapi al-Hallaj menunjukkan betapa berbahagia ia bersama dengan kehendak Allah. Setiap bagian tubuhnya berseru, "Akulah kebenaran", sewaktu meninggal dunia setiap tetesan darahnya yang jatuh ke tanah membentuk nama Allah. 

Hari berikutnya mereka yang berkomplot menentangnya, memutuskan bahwa bahkan tubuh al-Hallaj yang sudah terpotong-potong pun masih menimbulkan kesulitan bagi mereka. Karena itu, mereka pun memerintahkan agar tubuhnya di bakar saja. Malahan, abu jenazahnya berseru, "Akulah Kebenaran."

Al-Hallaj telah meramalkan kematiannya sendiri dan memberitahu pembantunya bahwa ketika abu jenazahnya dibuang ke sungai Tigris permukaan sungai akan naik sehingga seluruh Baghdad pun terancam tenggelam. Ia memerintahkan pembantunya menaruh jubahnya ke sungai untuk meredakan ancaman banjir, pada hari ketiga ketika abu jenazahnya diterbangkan oleh angin ke sungai. Permukaan air pun terbakar, air mulai naik, dan sang pembantu melakukan apa yang diperintahkannya, permukaan air pun surut, api padam, dan abu jenazah al-Hallaj pun diam.

Waktu itu, seorang tokoh terkemuka mengatakan bahwa ia melakukan salat sepanjang malam di bawah tiang gantungan sepanjang malam. Ketika fajar menyingsing, terdengarlah suara gaib berseru, "Kami berikan salah satu rahasia kami dan ia tidak menjaganya. Sungguh, inilah hukuman bagi mereka yang mengungkapkan segenap rahasia kami."

Syibli menyebutkan bahwa, suatu malam. Ia mimpi bertemu dengan al-Hallaj dan bertanya, "Bagaimana Allah menghakimi orang-orang ini?" Al-Hallaj menjawab bahwa mereka yang tahu bahwasanya ia benar dan juga mendukungnya berbuat demikian karena Allah semata. Sementara itu, mereka yang ingin melihat dirinya mati tidaklah mengetahui hakikat kebenaran, oleh sebab itu, mereka menginginkan kematiannya, kematiannya karena Allah semata. Allah merahmati kedua kelompok ini. Keduanya beroleh berkah dan rahmat dari Allah.

(media.isnet.org)

Senin, 09 Juli 2012

Ahlussunnah wal Jama’ah


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين والصلاةوالسلام على سيدنا محمد وعلىءاله وصحبه الطيبين الطاهرين وبعد
قال الله تعالى: وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِمَا تَبَيَّنَ لَه الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَسَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّه مَاتَوَلَّى وَنُصْلِه جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيرا (سورة النساء:115)

Maknanya: “Barangsiapa menentang Rasulullah setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti jalan selain orang-orang mukmin, Kami biarkan dia menempuh jalan kesatan yang dia tempuh itu, dan Kami akan menjadikannya penyulut jahannam dan ini adalah sejelek-jelek tempat kembali”(QS. An-Nisa’: 115).
Para hadirin sekalian!

Ketahuilah –semoga Allah merahmati kalian dengan taufiq-Nya- bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah adalah kelompok mayoritas ummat Muhammad, mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam prinsip-prinsip keyakinan (I’tiqad), yaitu keyakinan pada enam perkara yang tersebut dalam hadits Jibril bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقدر خيره وشره

Maknanya: “Iman adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, qadar (ketentuan Allah), dan apa-apa yang ditentukan oleh Allah (al maqdur) yang baik dan yang buruk”.

Generasi paling mulia dari seluruh kaum Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mereka yang hidup pada tiga abad pertama, sebagaimana tersebut dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

Maknanya: “Sebaik-baik ummatku adalah mereka yang hidup seabad denganku, kemudian abad berikutnya, kemudian abad berikutnya.”
 
Makna “qarn” yang tersebut dalam hadits tersebut adalah seratus tahun, ini sesuai dengan pemaknaan yang dipilih oleh al Hafizh Abu al Qasim Ibnu Asakir dan para ulama lainnya, dan mereka –kaum Ahlussunnah wal Jama’ah- juga yang dimaksudkan dalam hadits riwayat at Tirmidzi dan lainnya:

أصيكم بأصحابي ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم وفيه قوله عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة فإن الشيطان مع الواحد وهو منالاثنين أبعد فمن أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة
Maknanya:”Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka”. dalam terusan hadits tersebut terdapat: “Tetap berpegang teguhlah kalian pada mayoritas umat, dan jangan terpecah belah, karena setan itu bersama satu orang, dan dia akan lebih jauh dari dua orang, barangsiapa menginginkan tempat yang lapang di surga maka hendaklah ia berpegang teguh dengan ajaran al Jama’ah.”

Hadits tersebut dinilai shahih oleh al Hakim dan at-Tirmidzi menilai hadits ini adalah hadits hasan shahih.
Mereka –kaum Ahlussunnah wal Jama’ah- juga yang dimaksudkan dengan al Jama’ah yang tersebut dalam hadits riwayat Abu Dawud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وإن هذه الملة ستفترق إلى ثلاث وسبعين ثنتان وسبعون في النار وواحدة في الجنة وهي الجماعة
Maknanya:”Umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua di antaranya akan masuk neraka, dan hanya satu yang masuk surga, yaitu al Jama’ah.”
Yang dimaksud dengan al Jama’ah di sini adalah kelompok mayoritas ummat, bukan shalat berjama’ah, sebagaimana ditegaskan dalam hadits Zaid ibn Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثلاث لا يغل عليهن قلب المؤمن إخلاص العمل والنصيحة لولي الأمر ولزوم الجماعة فإن دعوتهم تكون من وراءهم
al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani menilai hadits ini adalah hadits hasan.
Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mayoritas ummat dan kelompok yang selamat. Semenjak tahun 260 Hijriyyah telah menyebar bid’ah dalam aqidah dari golongan Mu’tazilah, Musyabbihah dan lain-lain, akan tetapi Allah ta’ala menjadikan dua imam besar Abu al Hasan al Asy’ari (w. 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (w. 333) –semoga Allah meridlai keduanya-, mereka berdua berjuang dengan menjelaskan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang merupakan aqidah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan menetapkan dalil-dalil naqli dan aqli serta bantahan terhadap syubhat-syubhat golongan Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya, sehingga akhirnya Ahlussunnah dinisbatkan kepada mereka berdua, dan dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah adalah Asy’ariyyun (pengikut Imam Asy’ari) dan Maturidiyyun (pengikut Imam Maturidi).

al ‘Izz ibn Abdissalam menyebutkan bahwa aqidah imam al Asy’ari telah disepakati oleh para penganut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan pemuka-pemuka madzhab Hanbali, dan pernyataan beliau tersebut disetujui oleh tokoh ulama madzhab Maliki yang hidup di masanya, yaitu Abu ‘Amr ibn al Hajib, dan tokoh Madzhab Hanafi Jamaluddin al Hushairi, dan juga disepakati oleh as-Subki .

Tajuddin as-Subki berkata: “Dan mereka penganut madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan pemuka-pemuka madzhab Hanbali semuanya adalah satu dalam aqidah, mereka semua mengikuti ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, tunduk beragama kepada Allah dengan mengikuti madzhab Syaikhussunnah Abu al Hasan al Asy’ari –semoga Allah merahmatinya- lalu beliau berkata juga: Secara garis besar aqidah yang diajarkan oleh Imam al Asy’ari adalah ajaran-ajaran aqidah yang dimuat oleh kitab aqidah Imam Abu Ja’far at-Thahawi (al Aqidah ath-Thahawiyyah) yang diterima oleh para ulama berbagai madzhab dan diridlai sebagai aqidah yang benar”.

Al Hafizh Murtadla az-Zabidi dalam Syarh Ihya’ Ulum ad-Din berkata : “Jika disebutkan Ahlussunnah wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah”.

al Faqih al Hanafi Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya berkata : "Ahlussunnah wal Jama’ah adalah kaum Asy’ariyyah dan Maturidiyyah”.

Abu Bakar ibn Qadli Syuhbah dalam kitab Thabaqat-nya : “Syeikh Abu al Hasan al Asy’ari al Bishri Imam para mutakallimin, pembela ajaran sayyidil mursalin, dan penegak agama”.

Syeikh Abu Ishaq as-Syirazi –semoga Allah merahmatinya- menulis: “al Asy’ariyyah adalah Ahlussunnah wal jama’ah itu sendiri dan penegak syari’at, mereka bangkit untuk membantah para penyebar bid’ah seperti kelompok Qadariyyah dan lain-lain, maka siapapun yang mencela mereka, berarti telah mencela ahlussunnah, dan jika diajukan perkara dia itu kepada pemimpin yang mengurus perkara umat Islam, maka wajib untuk diberi pelajaran dengan hukuman yang membuat setiap orang jera”. Syeikh Abu BakrMuhammad ibn Ahmad as-Syasyi murid Syeikh Abu Ishaq menyetujui dan menandatangani pernyataan gurunya ini.

Inilah agama Allah yang dianut oleh generasi as-Salaf as-Shalih dan ajaran itu diwarisi dari para generasi salaf oleh generasi al khalaf as-shalih, dan Mazhab Asy’ari dan Maturidi dalam aqidah adalah satu. Madzhab yang benar yang dianut oleh as-Salaf as-Shalih adalah madzhab yang dianut oleh Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, pengikutnya berjumlah ratusan juta ummat Islam, lalu bagaimana mungkin mereka yang mayoritas itu dikatakan sesat, dan sebaliknya bagaimana bisa kelompok minoritas yang hanya berjumlah sekitar tiga jutaan dianggap benar. Yang benar adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa mayoritas ummatnya tidak akan berada dalam kesesatan secara bersama-sama, dan ini adalah salah satu keistimewaan bagi ummat Nabi Muhammad ini, hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah menunjukkan akan hal ini, yaitu sabda beliau:

إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة
Maknanya:”Allah tidak menjadikan umat ini bersepakat semuanya dalam kesesatan”.
Dan dalam riwayat Ibnu Majah dengan tambahan:

فإذا رأيتم اختلافا فعليكم بالسواد الأعظم
Maknanya: “Kalau kalian melihat adanya perselisihan, maka berpegang teguhlah pada ajaran mayoritas umat.”

Hadits mauquf Abu Mas’ud al Badri juga menguatkan kebenaran hal ini, yaitu perkataan beliau:

وعليكم بالجماعة فإن الله لا يجمع هذه الأمة على ضلالة
Maknanya:”Berpegang teguhlah kalian pada ajaran al Jama’ah, karena Allah tidak menjadikan umat ini bersepakat semuanya dalam kesesatan.”

Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani menilai hadits ini dan mengatakan: “Sanadnya hasan”, juga hadits mauquf Abdullah ibn Mas’ud yang juga shahih nisbatnya kepada beliau, yaitu perkataan beliau:

ما رءاه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رءاه المسلمون قبيحا فهو عند الله قبيح
Maknanya:”Apa yang dilihat oleh orang-orang Islam sebagai kebaikan, maka itulah sejatinya kebaikan yang dianjurkan oleh Allah, dan apa yang dilihat oleh mereka sebagai keburukan, maka itulah sebenarnya keburukan yang dilarang oleh Allah.”
al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ini adalah hadits mauquf yang hasan”.

Maka jelaslah bahwa aqidah yang benar yang dianut oleh generasi as-Salaf as-Shalih adalah ajaran yang dianut oleh Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, jumlah mereka mencapai ratusan juta umat Islam, mereka adalah kelompok mayoritas dalam ummat ini, penganut Madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi dan pemuka-pemuka Mazhab Hanbali yang lurus, dan Rasulullah telah mengabarkan bahkan mayoritas ummatnya tidak akan tersesat, maka sungguh beruntung orang-orang yang berpegang teguh dengan ajaran ini.

Maka wajib hukumnya untuk bersungguh-sungguh dalam mempelajari aqidah al Firqah an Najiyyah ini, yang mana mereka itu adalah kelompok mayoritas ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ilmu aqidah adalah ilmu yang paling utama, ilmu yang menjelaskan tentang fundamen agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya: “Amalan apakah yang paling utama”, beliau menjawab: beriman kepada Allah dan Rasul-Nya” (H.R. al Bukhari). Maka tidak perlu dihiraukan ocehan-ocehan golongan musyabbihah yang menjelek-jelekkan ilmu ini, mereka mengatakan bahwa ilmu aqidah adalah ilmu kalam yang dicela oleh generasi salaf, dan mereka tidak tahu bahwa ilmu kalam yang tercela adalah ilmu kalam yang dicetuskan dan ditekuni oleh sekte-sekte mu’tazilah, musyabbihah dan golongan-golongan ahli bid’ah yang serupa dengan mereka, adapun ilmu kalam yang terpuji adalah ilmu kalam yang ditekuni oleh Ahlussunnah, yang mana dasar-dasarnya sudah ada di zaman sahabat, dan kami telah sebutkan mengenai hal itu. Banyak ulama yang menulis kitab-kitab berisi penjelasan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, seperti kitab al-Aqidah ath-Thahawiyyah karya Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (w. 321 H), al Aqidah an-Nasafiyyah karya al Imam an-Nasafi (w. 573 H), al Aqidah al Mursyidah karya Abu Abdillah Muhammad ibn Abdillah al Hasani yang lebih dikenal dengan julukan Ibnu Tumart (w. 524 H), yang mana kitab ini diajarkan oleh Syekh Fakhruddin Ibnu Asakir (w. 620 H), al Aqidah as-Shalahiyyah karya Imam Muhammad ibn Hibatillah al Makki (w. 599 H) yang diberi nama Hadaiq al Fushul wa Jawahir al Ushul, kitab ini kemudian dihadiahkan oleh pengarangnya kepada Sultan Shalahuddin al Ayyubi (w. 589 H), dan sang sultan pun menerimanya dengan penuh kegembiraan, beliau pun memerintahkan agar kitab tersebut diajarkan untuk semua kalangan bahkan kepada anak-anak di madrasah-madrasah sehingga kitab ini akhirnya dinamakan dengan al Aqidah ash-Shalahiyyah, dan Sultan Shalahuddin sendiri yang tercatat sebagai seorang alim dalam fiqih Madzhab Syafi’i memiliki perhatian khusus dalam menyebarkan aqidah sunniyyah ini, beliau memerintahkan kepada para muadzdzin pada waktu tasbih untuk mengumandangkan aqidah ini setiap malam, baik di Mesir, daratan Syam, Makkah atau Madinah, sebagaimana hal ini telah dinukil oleh Imam as-Suyuthi (w. 911 H) dalam kitabnya al Wasail ila Musamarah al Awail dan lain-lain, dan masih banyak lagi kitab-kitab lain dalam bidang aqidah yang masih juga dikarang dan ditulis hingga sekarang.

Beberapa nash yang menunjukkan keutamaan Asya’irah
Allah ta’ala berfirman:

يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لائم ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله واسع عليم (المائدة: 54)
Maknanya: “Wahai orang-orang yang beriman, siapapun dari kalian yang keluar dari agamanya (Islam), maka Allah akan mendatangkan kaum yang Ia ridlo kepada mereka dan mereka itu cinta kepada Allah, mereka itu bersikap lembut kepada sesama orang-orang mukmin, dan bersikap keras kepada orang-orang kafir, berjihad di jalan yang diridlai oleh Allah, dan tidak takut pada celaan orang yang mencela, itulah kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada siapapun yang Ia kehendaki, dan Allah Maha Pemurah lagi Maha Mengetahui.”

al Hafizh Ibnu Asakir menyebutkan dalam kitabnya Tabyin Kadzib al Muftari dan al Hakim dalam Mustadraknya menyebutkan bahwa ketika turun ayat:

فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Mereka adalah kaummu wahai Abu Musa”, seraya tangan beliau menunjuk kepada Abu Musa al Asy’ari”, al Hakim berkata: “Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Muslim”, juga diriwayatkan oleh Imam at-Thabari dalam tafsirnya, Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya, dan juga oleh Ibnu Sa’d dalam thabaqatnya, juga at-Thabarani dalam al Mu’jam al Kabir.al Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid berkata mengenai hadits ini: “Para perawinya adalah perawi-perawi hadits shahih”.

al Qusyairi berkata: “Jadi para pengikut Abu al Hasan al Asy’ari adalah kaum Abu Musa, karena di manapun jika disandarkan kaum kepada nabi maka yang dimaksud adalah para pengikutnya, disebutkan oleh al Qurthubi dalam tafsirnya (juz. 6, hal. 220)”.

al Baihaqi berkata: “Hal itu dikarenakan fadhilah yang agung dan martabat yang mulia dalam hadits ini bagi Imam Abu al Hasan al Asy’ari –semoga Allah meridlainya-, beliau adalah termasuk anak cucu dan keturunan Abu Musa al Asy’ari yang diberi kelebihan ilmu, dikaruniai kefahaman, dan diberi kekhususan oleh Allah sebagai penegak ajaran nabi dan pemberantas bid’ah dengan mengungkapkan dalil dan membantah syubhat.”

Pernyataan ini disebutkan oleh Ibnu Asakir dalam Tabyin Kadzibal Muftari.
Imam al Bukhari menyebutkan dalam Shahihnya: “Bab datangnya kaum Asy’ariyyin dan penduduk Yaman.” Abu Musa meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Mereka adalah bagian dariku dan aku bagian dari mereka.”

Ketika turun ayat ini, tidak lama kemudian datanglah serombongan kaum asy’ariyyin dan kabilah-kabilah dari Yaman, al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أتاكم أهل اليمن هم أرق أفئدة وألين قلوبا الإيمان يمان والحكمة يمانية
Maknanya: “Telah datang kepada kalian orang-orang Yaman, mereka lebih lembut hatinya dan lebih halus perasaannya, termasuk salah satu keimanan yang sempurna adalah keimanan orang-orang Yaman, dan hikmah yang sempurna adalah hikmah dari Yaman.”

Imam al Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Imran ibn al Hushain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi oleh sekelompok orang dari Bani Tamim, lalu Rasulullah mengatakan kepada mereka: terimalah kabar gembira wahai Bani Tamim, namun mereka menjawab: Engkau telah memberi kabar gembira kepada kami, maka berilah kami dua kali, maka seketika itu raut muka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah –karena menyesalkan sikap mereka itu yang lebih mengutamakan dunia- lalu kemudian beliau didatangi juga oleh sekelompok orang dari Yaman, beliau pun mengatakan kepada mereka: Wahai orang-orang Yaman terimalah kabar gembira yang tidak diterima oleh Bani Tamim”, mereka pun menjawab: kami telah menerimanya wahai Rasulullah, kami mendatangimu untuk mempelajari ilmu agama dan bertanya tentang awal mula penciptaan alam ini, Rasulullah menjawab:

كان الله ولم يكن شىء غيره

Maknanya: “Allah ada (tanpa permulaan), dan tidak ada sesuatupun selain-Nya.”
Allah ada (dengan keberadaan yang azali/tanpa permulaan), dan belum ada tempat, waktu, arah arsy langit, benda, gerak, diam, makhluk, lalu Allah menciptakan makhluk, dan setelah diciptakan makhluk-makhluk Allah tetap ada seperti sediakala (sebelum diciptakan makhluk), Ia subhanahu wa ta’ala ada tanpa bersifat dengan sifat makhluk, tanpa tempat dan tanpa arah.

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah, kita semua termasuk penganut aqidah sunniyyah yang kita yakini ini, dan yang dahulu diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, yang mana Rasulullah telah memuji pengikut aqidah ini dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al Bazzar, ath-Thabarani, al Hakim dengan sanad yang shahih:

لتفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش
Maknanya: “Konstantinopel akan ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang berhasil menaklukkannya, dan sebaik-baik bala tentara adalah bala tentara yang menaklukkannya”.
Dan konstantinopel telah ditaklukkan setelah 900 tahun dari masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, penakluknya adalah as-Sulthan Muhammad al Fatih al Maturidi –semoga Allah merahmatinya- dan beliau beraqidah sunni, meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat, mencintai para shufi, dan bertawassul dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sulthan Muhammad al Fatih dan bala tentaranya yang ikut bersamanya, telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa mereka itu dalam keadaan yang baik, dan demikian juga para raja-raja di kerajaan Turki Utsmani lainnya, mereka semua telah berjuang mempertahankan bendera kaum muslimin dan melindungi agama dalam berabad-abad lamanya.

Ratusan juta umat Islam mengikuti ajaran aqidah ini, baik salaf maupun khalaf, di barat ataupun di timur, dalam pengajaran dan pembelajaran, kenyataan menjadi saksi kebenaran hal ini, dan kiranya cukup sebagai bukti kebenaran aqidah ini bahwa para sahabat, tabi’in, atba’ at-tabi’in (dan mereka itulah yang dimaksud dengan as-salaf ash-shalih) dan termasuk orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan baik meyakini aqidah ini, para huffazh pemuka-pemuka ahli hadits, seperti al Hafizh Abu Bakr al Isma’ili pengarang al Mustakhraj ‘ala al Bukhari, al Hafizh al ‘Alam al Masyhur Abu Bakr al Baihaqi, al Hafizh yang disebut-sebut sebagai Afdlalul Muhadditsin di daratan Syam pada zamannya al Hafizh Ibnu Asakir, kemudian datang setelah beliau seorang alim yang menyamai beliau dalam keilmuan, yang disebut-sebut sebagai Amirul Mukminin fil Hadits Ahmad Ibnu Hajar al Asqalani, dan orang yang betul-betul melihat dengan teliti pasti akan mengetahui bahwa kaum Asya’irah adalah tokoh-tokoh ternama dalam berbagai disiplin ilmu dan hadits, di antaranya: Mujaddid abad keempat hijriyyah al Imam Abu at-Thayyib Sahl ibn Muhammad, Abu al Hasan al Bahili, Abu Bakr ibn Furak, Abu Bakr al Baqillani, Abu Ishaq al Isfirayini, al Hafizh Abu Nu’aim al Ashbahani, al Qadli Abdul Wahhab al Maliki, as-Syaikh Abu Muhammad al Juwaini dan putranya Abu al Ma’ali Imamul Haramain al Juwaini, Abu Manshur al Baghdadi, al Hafizh ad-Daraqutni, al Hafizh al Khatib al Baghdadi, al Ustadz Abu al Qasim al Qusyairi, dan putranya Abu Nashr, asy-Syaikh Abu Ishaq as-Syirazi, Nashr al Maqdisi, al Ghazali, al Furawi, Abu al Wafa Ibnu Aqil al Hanbali, Qadli al Qudlat ad-Damaghani al Hanafi, Abu al Walid al Baji al Maliki, al Imam as-Sayyid Ahmad ar-Rifa’i, Ibn as-Sam’ani, al Qadli ‘Iyadl, al Hafizh as-Silafi, an-Nawawi, Fakhruddin ar-Razi, al ‘Izz ibn Abdissalam, Abu Amr ibn al Hajib al Maliki, Ibnu Daqiq al ‘Id, ‘Alauddin al Baji, Qadli al Qudlat Taqiyyuddin as-Subki, al Hafizh al ‘Ala’i, al Hafizh Zainuddin al ‘Iraqi, dan putranya al Hafizh Waliyuddin al ‘Iraqi, al Hafizh Murtadla az-Zabidi al Hanafi, asy-Syaikh Zakariya al Anshari, asy-Syaikh Bahauddin ar-Rawwas as-Shufi, Mufti Makkah Ahmad Zaini Dahlan, Mufti India Waliyullah ad-Dihlawi, Mufti Mesir asy-Syaikh Muhammad ‘Illaisy, Syaikh al Jami’ al Azhar Abdullah asy-Syarqawi, asy-Syaikh Abu al Hasan al Qawuqji Nuqthat al Bikar fi Asanid al Mutaakhkhirin, Syaikh Husain al Jisr at-Tharabulsi, as-Syaikh Abdul Basith al Fakhuri Mufti Beirut, al Allamah ‘Alawi ibn Thahir al Hadlrami al Haddad dan Syafi’iyyul Ashr Rifa’iyyul Awan as-Syaikh al Faqih al Muhaddits Abdullah al Harari, as-Syaikh as-Shufi as-Shadiq Mushthofa Naja Mufti Beirut, dan lain-lain para pemuka agama yang teramat banyak dan tidak mengetahui keseluruhan jumlah mereka kecuali Allah semata.

Termasuk juga al Wazir al Masyhur Nizham al Mulk, as-Sulthan al Adil al ‘Alim al Mujahid Shalahuddin al Ayyubi –semoga Allah merahmatinya-, pada masa kekuasaannya beliau memerintahkan agar dikumandangkan dasar-dasar aqidah sesuai dengan ibarat-ibarat Imam al Asy’ari di atas menara-menara sebelum adzan Shubuh, dan agar diajarkan nazhaman yang dikarang oleh Muhammad ibn Hibatillah al Barmaki untuk anak-anak di kuttab-kuttab, di antara bait-baitnya adalah sebagai berikut:

وصانع العالم لا يحويه قطر تعالى الله عن تشبيه
قد كان موجودا ولا مكان وحكمه الآن على ما كان
سبحانه جل عن المكان وعز عن تغير الزمان
فقد غلا وزاد في الغلو من خصه بجهة العلو
Maknanya:”Dan pencipta alam ini tidak diliputi oleh arah, Maha Suci Allah dari serupa”
“Allah ada (tanpa permulaan/azali) dan belum ada tempat, dan setelah menciptakan tempat Ia tetap ada seperti semula (tanpa tempat)”

“Maha Suci Allah dari bertempat, dan Maha Suci Allah dari perubahan masa.”
“Telah berlebihan dan bertambah berlebihan, orang yang menetapkan Allah ada di arah atas.”
Inilah aqidah yang diajarkan di Universitas al Azhar di Mesir, dan di Universitas az-Zaitunah di Tunisia, bahkan diseluruh wilayah Maghrib, juga di Indonesia, Malaysia, Pakistan, Turki, daratan Syam, Sudan, Yaman, Irak, India, Afrika, Bukhara, Daghistan, Afganistan, dan semua Negara-negara Islam.
Termasuk juga al Malik al Kamil al Ayyubi dan Sulthan al Asyraf Khalil ibn al ManshurSaifuddin Qalawun, dan semua sulthan-sultan di berbagai dinasti Mamluk.

Kami tidak bermaksud dengan apa yang kami sebutkan ini untuk menghitung secara keseluruhan kaum asya’irah dan maturidiyyah, karena siapa yang bisa menghitung bintang-bintang di langit, atau mengetahui secara persis jumlah butiran-butiran pasir di gurun?

Jadi Asya’irah dan Maturidiyyah mereka itulah Ahlussunnah wal Jama’ah yang sebenarnya, dan merekalah al Firqah an-Najiyah.

Dan sepantasnya saya mengkhususkan negara penyelenggara acara seminar ini yaitu Indonesia, yang mana mayoritas penduduknya adalah penganut ajaran sunni asy’ari, semenjak Islam masuk ke negara ini, dan kemudian disebarluaskan dan dipertahankan oleh para ulama yang shalih.

Sikap ghuluw pada banyak orang yang mengaku pengikut madzhab Hanbali
Dinamakan Hanabilah karena mereka berafiliasi kepada Imam Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal as-Syaibani (w. 241 H), salah seorang ulama mujtahid yang terkemuka, terkenal dengan kezuhudan dan kawara’annya, jauh dari raja-raja, hanya menyibukkan diri dengan ilmu agama, meski kesulitan ekonomi melilit –semoga Allah merahmati dan meridloinya-.

Imam Ahmad diberikan ujian dengan banyaknya orang yang berafiliasi kepada beliau, sebagaimana Imam Ja’far as-Shadiq diuji dengan banyak orang yang berafiliasi kepadanya, dan sebagaimana beberapa ulama lainnya diuji dengan murid-murid mereka yang menyimpang, menambah-nambah pada pendapat mereka hal-hal yang sebetulnya jauh di luar pendapat mereka itu, dan berbohong dengan mengatasnamakan mereka.
Oleh karenanya kita temukan banyak ulama-ulama terkemuka seperti al Baihaqi, Ibnu al Jauzi, Abu al Hasan al Asy’ari meriwayatkan dari Imam Ahmad dengan sanad-sanad yang kuat, berbeda dengan riwayat-riwayat para pengikut beliau sendiri yang berlebihan dan menyimpang.

Tapi yang saya maksudkan di sini, kita tidak boleh menisbatkan kepada Imam Ahmad semua yang dinisbatkan kepada beliau oleh setiap orang yang berafiliasi kepada beliau.

Imam Ahmad sendiri terkenal dengan keteguhan iman beliau setelah dilakukan imtihan dalam peristiwa mihnah khalq al Qur’an yang terjadi pada awal abad ketiga hijriyyah. Dan Imam Ahmad saat itu teguh mempertahankan keyakinan beliau dan tidak tergelincir pada jurang kesalahan sebagaimana yang terjadi pada beberapa ulama lain saat dilakukan imtihan kepada mereka oleh penguasa Abbasiyyah.
Tidak diragukan lagi bahwa aqidah tajsim dan tasybih (menyerupakan) Allah dengan makhluk-Nya telah dimunculkan oleh beberapa orang sebelum Hanabilah, seperti al Mughirah ibn Said, Hisyam ibn al Hakam, dan yang semasa dengan mereka seperti al Karramiyyah pengikut Muhammad ibn Karram as-Sijzi (dan kebanyakan as-Sijziyyin memiliki aqidah tajsim), jadi sebenarnya pengikut-pengikut madzhab Hanbali yang menyimpang tidak merintis bid’ah tajsim dan tasybih ini, tapi mereka menghimpun apa yang terpisah-pisah dari pendahulu mereka, lalu menambah-nambahinya, menyebarkan dan membelanya sebagai akibat permusuhan mereka dengan kelompok Mu’tazilah dan lain-lain yang teramat berlebih-lebihan dalam menafikan sifat.

Sejarah kemunculan pengikut-pengikut madzhab Hanbali yang ekstrim dan gerakan-gerakan mereka berkaitan dengan paham tajsim, tasybih, menggunakan kekerasan yang membuat jengkel, dan penyebaran fitnah, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu al Atsir dalam tarikhnya tentang fitnah-fitnah yang ditimbulkan oleh para pengikut Madzhab Hanbali yang menyimpang pada beberapa tahun; 310 H, 317 H, 323 H, 329 H, 447 H, 469 H, 475 H, 488 H, 567 H, 596 H.

Para pengikut madzhab Hanbali yang ekstrim itu menamakan diri mereka sebagai ahlussunnah wal jama’ah atau pengikut as-salaf as-shalih, mengaku-ngaku mengikuti jalan mereka, tapi mayoritas ummat para pengikut Mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali yang lurus tidak menyetujui mereka dan sebaliknya menentang mereka.

Di antara kitab-kitab yang paling terkenal sebagai rujukan para mujassimah yang barafiliasi pada Madzhab Hanbali (baik yang mereka karang sendiri atau karangan orang lain di luar kelompok mereka) adalah sebagai berikut:
al Haydah karya al Kinani (w. 240 H), as-Sunnah (yang dinisbatkan kepada) Abdullah ibn Ahmad (w. 291 H), Kitab an-Naqdl ‘ala Bisyr al Mirrisi karya ad-Darimi Utsman ibn Sa’id (w. 281 H), as-Sunnah karya al Khallal (w. 311 H), Kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah (w. 311 H), Syarh as-Sunnah karya al Barbahari (w. 329 H), Kitab al Iman dan Kitab at Tauhid karya Ibnu Mandah (w. 395 H), Kitab as-Syari’ah karya al Ajurri (w. 360 H), al Ibanah karya Ibnu Baththah al Hanbali (w. 387 H), Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnahkarya Abu al Qasim al Lalika’i (w. 418 H), Kumpulan beberapa risalah yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H), al Azhamah karya Abu as-Syaikh al Ashbahani (w. 369 H), dan kitab-kitab Abu Ya’la al Hanbali (w. 548 H).

Dalam kitab-kitab para pengikut Madzhab Hanbali yang ekstrim ini banyak disebutkan kesalahan fatal mereka dan masih juga menjadi fitnah pemecah belah ummat hingga kini, sepert; takfir syumuli (pengkafiran secara menyeluruh) , penyesatan tanpa dalil, pembid’ahan tanpa dalil, menvonis fasiq tanpa dalil, kezhaliman, sikap berlebihan kepada para masyayikh, celaan, kebohongan, tajsim, takwil yang bathil, lebih mengutamakan orang-orang kafir dari pada kaum muslimin, pembolehan membunuh siapa saja yang mereka anggap sebagai musuh, isra’iliyyat, dan lain-lain.

Contoh-contoh Pengkafiran Dari Para Pengikut Mazhab Hanbali Yang Ekstrim
* Pengkafiran Imam Abu Hanifah dan penganut Mazhab Hanafi, serta pencelaan dan pembid’ahan terhadap mereka yang terdapat dalam kitab-kitab pengikut Mazhab Hanbali yang ekstrim!!:

Dalam kitab as-Sunnah yang dinisbatkan kepada Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal (w. 290 H) menyebutkan kalimat yang berisi tuduhan dan celaan dari musuh-musuh Abu Hanifah yang mensifati beliau sebagai; kafir, zindiq, meninggal dalam keadaan sebagai pengikut aqidah Jahmiyyah, merusak Islam sedikit demi sedikit, tidak pernah dilahirkan dalam lingkungan ummat Islam orang yang lebih jelek dan lebih berbahaya kepada ummat darinya, Abu al Khathaya (sumber kesalahan-kesalahan), menipu agama, Abu Jifah (bangkai), dan bahwa beliau adalah orang pertama yang mengatakan al Qur’an adalah makhluk.

Saya yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa kitab as-Sunnah ini dipalsukan penisbatannya kepada Imam Ahmad dan banyak dimasukkan sisipan-sisipan tidak benar di dalamnya, siapapun dari kita yang mencoba membandingkan antara kitab as-Sunnah ini dengan kitab beliau Musnad al Imam Ahmad, maka akan menemukan perbedaan yang teramat jelas, atau juga jika dibandingkan dengan kitab-kitab induk dalam Mazhab Hanbali seperti kitab al Mughni karya Ibnu Qudamah dan lain-lainnya, maka akan menemukan perbedaan yang sama.

Mujassimah zaman sekarang –yaitu kelompok Wahhabiyyah- juga seperti ini, salah satu pemuka mereka yang bernama al Qanuji menyebutkan dalam kitabnya yang dia beri nama ad-Din al Khalish (juz 1/hal 140): “Taqlid kepada mazhab adalah kesyirikan”, dengan ini berarti bahwa dia telah mengkafirkan semua ummat Islam pada masa sekarang ini, karena ummat Islam saat ini semuanya adalah penganut mazhab empat, dan mereka itu menurut kelompok Wahhabi adalah kafir.

Ali ibn Muhammad ibn Sinan pengajar di masjid an-Nabawi dan perguruan tinggi yang dinamakan al Jami’ah al Islamiyyah dalam kitabnya yang dinamakan al Majmu’ al Mufid min Aqidah at Tauhid, hal 55, dia berkata: “Wahai umat Islam tidak bermanfaat Islam kalian, kecuali jika kalian terang-terangan memerangi tarekat-tarekat shufiyyah dan menghabisinya, perangilah mereka sebelum kalian memerangi Yahudi dan Majusi.”

Orang–orang Wahabi mengkafirkan penduduk semua negara-negara Islam dan ulama–ulamanya sebagaimana tersebut dalam kitab mereka yang dinamakan Fath al Majid mereka mengatakan dalam kitab tersebut pada hal. 190:”Khususnya telah diketahui bahwa kebanyakan ulama–ulama di daerah–daerah tidak mengetahui tentang tauhid kecuali yang di tetapkan oleh orang–orang musyrik saja”.

Kemudian penulis buku itu berkata: “Penduduk Mesir semuanya kafir karena mereka menyembah Ahmad al Badawi, juga penduduk Irak dan sekitarnya seperti Omman, mereka semua kafir karena mereka menyembah al Jilani, dan penduduk Syam semuanya kafir, mereka menyembah Ibnu Arabi dan begitu juga dengan penduduk Yaman, Najd dan Hijaz”.

Dan di dalam kitab mereka yang dinamakan I’shar at-Tauhid karya Nabil Muhammad mereka mengkafirkan para kaum sufi dan ahli tarekat dan semua penduduk negara–negara Islam seperti Mesir,Libya, Maroko, India, Persia, Asia Barat, negara–negara di dataran Syam, Nigeria, Turki, negara-negara di wilayah Romawi, Afganistan, negara–negaraTurkistan di China, Sudan, Tunisia, al Jazair.

Sampai Sayyidah Hawa tidak lepas dari pengkafiran Wahabiyah, sebagaimana disebutkan oleh al Qanuji dalam kitab yang dia namakan ad Din al Khalis, juz.1, hal. 160, dia mengatakan: “Pendapat yang benar adalah bahwa kesyirikan telah dilakukan oleh Hawa saja, dan bukan Nabi Adam.” Dari sini diketahui bahwa orang–orang Wahabi menjadikan semua manusia adalah anak–anak zina.

Dan dalam kitab mereka dinamakan at-Tauhid yang merupakan buku panduan kurikulum untuk kelasa 1 madrasah aliyah, karangan al Fauzan dari kementerian bidang pendidikan dan pengajaran kerajaan Saudi Arabia terbitan tahun 1424 H,hal. 66 dan 67, mereka mensifati kaum Asya’irah dan Maturidiyah dengan kesyirikan, dan mereka berkata tentang orang–orang musyrik zaman dahulu: “Mereka orang–orang musyrik adalah pendahulu bagi kelompok Jahmiyah, Mu’tazilah dan Asya’irah”.

Dalam kitab Ibn Baz yang dinamakan Fatawa fil Aqidah surat–surat petunjuk untuk pimpinan lembaga keamanan Negara, halaman 13, Ibnu Baz berkata tentang orang–orang yang beristighosah dan bertawasul dengan para nabi dan para wali bahwa mereka itu adalah orang–orang musyrik dan kafir yang tidak boleh dinikahkan dan tidak boleh bagi mereka untuk masuk masjidil haram dan tidak diberlakukan seperti perlakuan terhadap orang–orang Islam meskipun mereka tidak tahu, dan tidak dihiraukan ketidaktahuan mereka itu bahkan wajib hukumnya untuk diperlakukan (menurutnya) seperti perlakuan terhadap orang–orang kafir.

Muhammad Ahmad Basymil dalam kitabnya yang dinamakan Kaifa Nafhamu at-Tauhid mengatakan pada halaman 16: “Abu Jahal dan Abu Lahab lebih kuat tauhidnya dan lebih murni keimanannya kepada Allah dari pada orang Islam yang megatakan lailaha ilallah-muhammadur rasulullah, karena mereka bertawasul dengan para wali dan orang–orang shalih”.

Pengkafiran Menurut Ibnu Taimiyah
Landasan pengkafiran sudah ada pada perkataan-perkataan Ibnu Taimiyah (w. 728 H), ketika dia sangat berlebihan dalam membedakan antara tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah, dia terlalu mempermudah dalam permasalahan pertama, sebaliknya terlalu keras dan berlebihan dalam permasalahan kedua, bahkan pembedaan semacam itu pada dasarnya adalah pembedaan yang dia ada-adakan yang tidak ada dalam al Qur’an dan hadits Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam, bahkan sebelumnya tidak ada satupun dari para sahabat atau tabi’in yang mengatakan tentang pembedaan ini. Padahal kita tahu bahwa tauhid itu hanyalah satu, dan pembedaan semacam inilah yang membuat Ibnu Taimiyah dan pengikut-pengikutnya mengatakan bahwa Allah tidak mengutus para rasul kecuali hanya untuk tujuan tauhid uluhiyyah saja, adapun tauhid rububiyyah, maka orang-orang kafir juga mengakuinya!!

Makna uluhiyyah dan rububiyyah menurutnya adalah saling bertentangan, dia meyakini bahwa rububiyyah adalah khaliqiyyah (keberadaan Tuhan sebagai pencipta) saja, Ibnu Taimiyah telah memasukkan dalam aqidah ini permasalahan yang tidak ada di dalamnya, terutama dalam permasalahan furu’, dan semua tuduhan kufur dan syirik darinya masuk kepada permasalahan furu’ saja, seperti tawassul, istighatsah, ziarah qubur, dll.

Pengkafiran Menurut Ibnu al Qayyim
Ibnu al Qayyim menulis satu fasal dalam nuniyyahnya yang diberi judul (Fasal: Menjelaskan bahwa muaththil adalah musyrik)!! Yang dia maksud dengan muaththil di sini sebagaimana disebutkan oleh penyarah kitab ini Muhammad Khalil Haras: adalah para filosof, Muktazilah, Asy’ariyyah, Qaramithah dan Shufiyyah, ada percampuran antara Qaramithah dan Asy’ariyyah!! Selain percampuran antara Qaramithah dan Shufiyyah!! Ibnu al Qayyim berkata dalam nuniyyahnya:

لكن أخو التعطيل شر من أخي ال إشراك بالمعقول والبرهان
Maknanya: “Tapi orang yang muaththil itu lebih keji dari orang yang melakukan kesyirikan, sesuai dengan logika dan dalil”.

Tajsim dan Tasybih Yang Terdapat Dalam Kitab-Kitab Pengikut Madzhab Hanbali yang Ekstrim
Syeikh Abdul Mughits al Harbi al Hanbali menshahihkan hadits istilqa’, yaitu hadits yang di dalamnya terdapat bahwa Allah setelah selesai menciptakan makhluk-makhluk Ia telentang dan meletakkan kaki satu di atas kaki yang lain , dan ini adalah tasybih yang amat jelas sekali.

al Ahwazi al Hanbali menulis sebuah kitab yang cukup besar tentang sifat-sifat, di antaranya hadits ‘araqal khail yang redaksinya menyebutkan bahwa Allah ketika hendak menciptakan Dzat-Nya Ia menciptakan kuda dan membuatnya berlari, sampai berkeringat, lalu menciptakan dzat-Nya dari keringat itu , Maha Suci Allah dari semua itu.

Mereka meriwayatkan bahwa al maqam al Mahmud bagi Nabi Muhammad adalah duduknya beliau bersama Tuhan di atas Arsy, dan mereka menganggap orang yang menyalahi ini sebagai pengikut Jahmiyyah atau zindiq!! Dan bahwa adanya hari penghitungan amal tidak wajib diyakini

al Barbahari tokoh Mujassimah dari pengikut Madzhab Hanbali pada masanya, di setiap majlisnya dia selalu menyebutkan bahwa Allah mendudukkan nabi bersamanya di atas ‘Arsy .

Dalam kitab mereka yang dinamakan kitab as-Sunnah hal. 75, mereka mengatakan: “Allah berada di atas Arsy, dan Kursi adalah tempat kedua kakinya”. Dan pada hal. 76 mereka mengatakan tentang Allah: “Ia bergerak”.

Ibnu Taimiyah Adalah Pembaharu Aqidah Tajsim
* Ibnu Bathuthah dalam Rihlahnya hal. 90 menyebutkan: “Di Damaskus pernah ada seorang yang merupakan salah satu pembesar Madzhab Hanbali yang bernama Ibnu Taimiyah, ia banyak berbicara dalam berbagai macam disiplin keilmuan, tapi ada ketidakberesan di akalnya, …. pada saat itu aku sedang di Damaskus, aku menghadiri majlisnya pada hari Jum’at, dan dia memberi mauizhah kepada orang-orang di atas minbar masjid Jami’,seraya mengingatkan orang-orang, dan di antara yang diomongkannya adalah: “Allah turun ke langit pertama seperti turunnya aku dari mimbar ini! Lalu dia turun setingkat demi setingkat di atas tangga mimbar, lalu dibantahlah oleh seorang Faqih Maliki yang dikenal dengan sebutan Ibnu az-Zahra’, Ia mengingkari apa yang diucapkan Ibnu Taimiyah, dan orang-orangpun mendekati faqih tersebut, lalu memukuli Ibnu Taimiyah dengan tangan dan sandal berkali-kali sampai terlepas surbannya.”

al Hafizh Ibnu Hajar dalam ad-Durar al Kaminah juz. 1/hal.154 berkata: “Mereka menyebutkan bahwa Ibnu Taimiyah menyebutkan hadits nuzul, lalu dia turun dari atas mimbar seraya berkata: ‘Seperti turunnya aku ini’, maka akhirnya dia dikenal sebagai penganut ajaran tajsim.”

* Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’nya juz.4/hal. 374: “Muhammad didudukkan oleh tuhannya di atas Arsy bersamanya”. Dan berkata dalam kitabnya Talbis al Jahmiyyah juz.1, hal. 573: “Allah berada di atas Arsy dan para malaikat yang menyangga Arsy merasakan berat badan Allah.”

Ibnu al Qayyim murid Ibnu Taimiyah berkata: “Allah duduk di atas Arsy, dan Ia mendudukkan Muhammad bersamanya”, pernyataan ini dia sebutkan dalam kitab Badai’ al Fawa’id juz. 4, hal. 40.

* Abu Hayyan al Andalusi dalam kitabnya an-Nahr al Madd: “Aku membaca di kitab Ibnu Taimiyah -yang semasa denganku- sebuah tulisan tangannya sendiri, yang dia beri nama Kitab al ‘Arsy, ia menulis: “Allah duduk di atas Kursi dan Ia mengosongkan tempat untuk mendudukkan Rasulullah bersamanya”, at-Taj Muhammad ibn Ali ibn Abdil Haq al Barinbari membuat tipu daya terhadapnya, ia berpura-pura mendukungnya, sampai akhirnya ia mendapatkan kitab itu, dan kami membaca perkataannya itu di kitab tersebut.”

Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Bayan Talbis al Jahmiyyah juz.1/hal.568 menukil dari salah seorang mujassim dan menyepakatinya: “Kalau seandainya Allah berkehendak, maka ia akan menempat di atas punggung nyamuk, dan nyamuk itu akan kuat mengangkatnya dengan kekuasaannya dan pengaturannya yang menjadikan nyamuk seperti itu, (menurutnya kalau nyamuk saja dijadikan oleh Allah mampu mengangkatnya) apalagi Arsy yang begitu besar.”

Dan Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya yang dinamakan Minhaj as-Sunnah juz.1/hal.210: Kita mengatakan bahwa Allah bergerak dan muncul pada dzatnya sifat-sifat baharu dan sifat-sifat makhluk, lalu apa dalil yang menunjukkan kesalahan pendapat kami ini?”

Dan berkata dalam kitabnya Muwafaqatu Sharih al Ma’qul li Shahih al Manqul juz.2/hal. 29 menukil dari salah seorang mujassim dan menyetujuinya: “Allah memiliki batasan yang tidak diketahui kecuali oleh Dia saja, dan tidak boleh bagi seorang untuk membayang-bayangkan batasan itu, tetapi wajib baginya untuk beriman akan adanya batasan itu, serta menyerahkan ilmu tentang hakikat batasan tersebut hanya kepada Allah, dan tempat Allah pun memiliki batasan, Dia di atas Arsy di atas langit yang tujuh dan inilah dua batasan baginya.”

Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Muwafaqat Sharih al Ma’qul li Shahih al Manqul, juz.2/hal. 29-30 menukil perkataan salah seorang mujassimah dan menyetujuinya: “Telah bersepakat kaum muslimin dan kafirin dalam satu kata bahwa Allah ada di atas langit, dan mereka membatasi Allah dengan batasan itu.”

Dan Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Talbis al Jahmiyyah, juz 1/hal. 427: “Ini semua dan yang semisalnya adalah bukti dan dalil tentang adanya batasan bagi Allah, dan orang yang tidak mau mengakui adanya batasan baginya, berarti dia telah mengingkari al Qur’an dan menentang ayat-ayat Allah.” Perkataan ini dia nukil dari salah seorang mujassimah dan dia menyetujuinya.

Dan Ibnu Taimiyah menyebutkan dalam kitabnya at Ta’sis fi Radd Asas at-Taqdis juz 1/hal. 100: “Dan tidak mencela seseorangpun dari generasi salaf orang lain karena dia adalah seorang mujassim, dan tidak ada satupun dari mereka yang mencela kaum mujassimah.”

Dan dia berkata juga dalam kitab yang sama juz. 1/hal. 101: “Dan tidak terdapat dalam kitab Allah, hadits Rasulullah, atau perkataan salah seorang dari generasi salaf dan para ulamanya bahwa Allah bukanlah benda, dan bahwa sifat-sifatnya bukanlah benda atau sifat-sifat benda?! Maka menafikan sifat-sifat yang ditetapkan dalam nash-nash syara’ dan akal dengan menafikan lafazh-lafazhnya yang mana syara’ tidak menafikan makna-maknanya adalah suatu kesesatan dan kebodohan.”

Dan berkata juga dalam kitab yang sama juz. 1/hal 109: “Jika demikian, maka nama musyabbihah tidak disebutkan dengan celaan baik dalam al Qur’an, hadits, atau perkataan sahabat dan tabi’in.”m

Dan dia juga berkata dalam kitab yang sama juz. 1/hal. 111 perkataan yang menetapkan arah bagi Allah dengan tegas yang berbunyi: “Dan al Bari subhanahu wa ta’aladi atas alam secara hakiki dan bukan ketinggian derajat”.

Dan dalam kitab Bayan Talbis al Jahmiyyah karya Ibnu Taimiyah diterbitkan di Saudiyah Majma’ al Malik Fahd halaman 358, Ibnu Taimiyah mengatakan: “Perkataannya:”maka aku bersama tuhanku dalam bentuk yang paling bagus”, jelas sekali menerangkan bahwa yang memiliki bentuk yang paling bagus adalah tuhan”.

Lihatlah pada tasybihnya yang begitu jelas di sini,IbnuTaimiyah menyifati Allah dengan bentuk dan rupa, dan sudah diketahui di kalangan umat Islam bahwa makna hadits tersebut bukanlah seperti itu, akan tetapimaksud dari hadits tersebut adalah tentang Nabi Muhammad, artinya yang sedang dalam rupanya yang paling bagus adalah Nabi Muhammad.

Dan pada hal. 365 pada kitab yang sama Ibnu Taimiyah berkata: “Nabi Muhammad menyebutkan bahwa beliau melihat tuhannya dalam berupa seorang pemuda yang kedua kakinya lebat dengan bulu dengan warna kehijauan, mamakai dua alas kaki dari emas, di wajahnya terdapatkupu-kupu dari emas.

Dan pada hal. 375 ia berkata: “Perkataan orang yang mengatakan bahwa Dia meletakkan kedua tangannya di atas kedua pundakku sampai aku merasakan dinginnya ujung-ujung jarinya di dadaku atau antara kedua tetekku adalah jelas sekali menegaskan bahwa meletakkan tangan adalah tangan yang hakiki dan tidak mengandung kemungkinan makna nikmat dari segi apapun.

Kemudian dia juga berkata pada halaman 407 perkataan yang menampakkan sebenarnya akidahnya yang meyakini jism bagi Allah, dia berkata: “Kedua: telah kami sebutkan bahwa semua yang disebutkan dari dalil-dalil ini ialah yang menafikan jism sesuai dengan istilah mereka adalah dalil-dalil yang salah”.

Dan dia juga berkata pada halaman 543: “Bahkan kami mengatakan semua yang ada itu berdiri sendiri, dan hakikatnya seperti itu.Dan bahwa apa yang tidak seperti itu ialah ‘aradl (sifat benda) yang berdiri pada selainnya, dan tidak diterima akal suatu yang ada kecuali apa yang bisa ditunjukkan atau yang seperti apa-apa yang bisa ditunjukkan”.

Aqidah Imam Ahmad ibn Hanbal dan Terlepasnya Beliau Dari Sangkut Paut Dengan Para Penganut Aqidah Tajsim

Hal terpentingdari Imam Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal radliyallahu ‘anhu semasa hidup beliau adalah manhaj beliau dalam aqidah dan keteguhan beliau dalam berpegang teguh dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah dan ajaran generasi salaf:

- Dalam mentauhidkan Allah dan menyucikan-Nya dari benda, tempat, arah, bergerak dan diam, Imam Abu al fadl at-Tamimi al Hanbali dalam kitab I’tiqad al Imam Ahmad hal. 38, dari Imam Ahmad bahwa beliau berkata:

والله تعالى لا يلحقه تغير ولا تبدل ولا تلحقه الحدود قبل خلق العرش، وكان ينكر الإمام أحمد على من يقول إن الله في كل مكان بذاته لأن الأمكنة كلها محدودة
Maknanya: “Allah tidak berubah dan tidak mengalami pergantian, tidak diliputi oleh batasan sebelum menciptakan ‘Arsy, dan Imam Ahmad mengingkari orang yang mengatakan bahwa Allah dengan dztNya berada di semua tempat, karena tempat-tempat itu ada batasannya”.
- Imam Abu al Fadl at-Tamimi pemuka madzhab hanbali di Baghdad dan putra pemuka madzhab Hanbali dalam kitabnya (I’tiqad al Imam Ahmad hal. 45):

وأنكر أحمد على من يقول بالجسم وقال إن الأسماء مأخوذة من الشريعة واللغة، وأهل اللغة وضعوا هذا الاسم على ذي طول وعرض وسمك وتركيب وصورة وتأليف والله تعالى خارج عن ذلك كله فلم يجز أن يسمى جسما لخروجه عن معنى الجسمية ولم يجئ في الشريعة ذلك فبطل
Maknanya: “Imam Ahmad mengingkari orang yang mengatakan bahwa Allah adalah jism, dan beliau berkata bahwa nama-nama itu diambil dari ajaran syara’ dan bahasa, dan para ahli bahasa menggunakan kata jism untuk sesuatu yang memiliki panjang, lebar, kedalaman, susunan, dan bentuk, dan Allah di luar semua itu, maka tidak boleh dikatakan bahwa Allah adalah jism karena Allah bukanlah jism, dan dalam ajaran syari’at tidak ada nash yang menyebutkan itu, maka perkataan orang bahwa Allah itu jism adalah bathil”.

- Al Imam al Hafizh Ibnu al Jauzi berkata dalam kitabnya Daf’u Syubah at-Tasybih hal. 56 berkata:

براءة أهل السنة عامة والإمام أحمد خاصة عن عقيدة المجسمة وقال: كان أحمد لا يقول بالجهة للبارئ
Maknanya: “Terlepasnya Ahlussunnah umumnya dan Imam Ahmad khususnya dari aqidah tajsim, dan berkata: Imam Ahmad tidak menisbatkan arah bagi Allah”.

- Al Qadli Badruddin ibn Jama’ah dalam kitabnya Idlah ad-Dalil fi Qath’i Syubahi ahli at-Ta’thil hal. 108 menyebutkan bahwa Imam Ahmad tidak mengatakan bahwa Allah berada di suatu arah tertentu.

- Al Imam al Hafizh al Iraqi, al Imam al Qarafi, Syeikh Ibnu Hajar al Haitami , Mulla Ali al Qari , Muhammad Zahid al Kautsari dan lain-lain menukil dari para imam madzhab empat, penunjuk ummat Imam Syafi’i , Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Abu Hanifah perkataan mereka yang berisi tentang pengkafiran orang yang mengatakan bahwa Allah ada di suatu arah atau beraqidah tajsim”, bahkan penulis kitab al Khishalyang merupakan salah seorang pengikut madzhab Hanbali menukil dari Imam Ahmad tentang pengkafiran orang yang mengatakan:

الله جسم لا كالأجسام
Dan perkataan beliau yang masyhur yang diriwayatkan oleh Abu al Fadl at-Tamimi al Hanbali:

مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذلك
Maknanya: “Apapun yang terlintas dalam benakmu maka Allah tidak seperti itu”.
Ini merupakan dalil yang menunjukkan kejernihan aqidah Imam Ahmad dan bahwa beliau meyakini aqidah tanzih.

- Begitu juga Imam Ahmad mentakwil ayat-ayat mutasyabihat yang beirisi tentang sifat-sifat, al Baihaqi meriwayatkan dari al Hakim dari Abu Amr ibn as-Sammak dari Hanbal bahwa Ahmad ibn hanbal mentakwil firman Allah: وجاء ربك bahwa yang datang adalah pahala amalan yang diberi oleh-Nya, al Baihaqi berkata: ini sanadnya bersih dan tidak ada sedikitpun debu di atasnya, dan ini juga dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Tarikhnya (juz. 10/hal. 327).

Dalam riwayat lain yang dinukil oleh al Baihaqi dalam manaqib Ahmad bahwa Imam berkata:

جاءت قدرته أي أثر من آثار قدرته
Maknanya:”Datang tanda-tanda kekuasaan-Nya”.
Al Baihaqi berkata: “Di sini terdapat dalil bahwa Imam Ahmad tidak berkeyakinan bahwa “al maji”jika disandarkan kepada Allah seperti tersebut dalam al Qur’an, atau “nuzul” jika dinisbatkan kepada Allah seperti tersebut dalam hadits berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lainseperti datangnya makhluk yang memiliki bentuk, tapi bermakna ungkapan nampaknya tanda-tanda kekuasaan Allah”

Dalam kitab al Futuhat ar-Rabbaniyyah ‘ala al Adzkar an-Nawawiyyah karya seorang ulama ahli tafsir bernama Muhammad ibn ‘Allan ash-Shiddiqi asy-Syafi’I al Asy’ari al Makki (w. 1057 H), pada “Bab: Anjuran Untuk Berdo’a Dan Beristighfar Pada Paruh Kedua Setiap Malam” juz. 2/hal. 196: “Dan Allah Maha Suci dari arah, tempat, bentuk, dan semua sifat-sifat baharu, dan ini adalah keyakinan penganut kebenaran, termasuk Imam Ahmad ibn Hanbal, dan apa saja yang dinisbatkan oleh sebagian orang kepada beliau yang berisi tentang penisbatan arah bagi Allah atau yang semisalnya, semuanya itu adalah kebohongan yang nyata terhadap beliau, dan terhadap para pengikutnya yang terdahulu, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al Jauzi yang merupakan salah satu pembesar dalam Madzhab Hanbali”.

al Hafizh Ibnu Asakir –semoga Allah merahmatinya- dalam kitabnya Tabyin Kadzib al Muftari fi Ma Nusiba Ila al Imam Abi al Hasan al Asy’ari hal. 164: “Ibnu Syahin mengatakan: dua orang yang shalih diuji dengan orang-orang yang buruk, Ja’far ibn Muhammad dan Ahmad ibn Hanbal”.

Dalam al Fatawa al Haditsiyyahkarya Ibnu Hajar al Haitami (w. 973 H), pada halaman 144 mengatakan: “Aqidah Imam as-Sunnah Ahmad ibn Hanbal adalah aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu aqidah tanzih (mensucikan) Allah dari apa-apa yang dikatakan oleh orang-orang yang zhalim dan orang-orang yang menentang, mensucikan Allah dari arah dan kebendaan dan lain-lain yang termasuk tanda-tanda kekurangan dan bahkan dari semua sifat yang tidak mengandung arti kesempurnaan secara muthlaq, dan yang terkenal di kalangan orang-orang bodoh yang berafiliasi kepada Imam Ahmad bahwa beliau menisbatkan arah kepada Allah adalah kebohongan semata, laknat Allah bagi orang yang menisbatkan itu kepada Imam Ahmad, atau menuduh beliau dengan kejelekan-kejelekan ini, semoga Allah membebaskan beliau dari itu semua”.

Penutup
Berisi Nasehat

Allah ta’ala berfirman:

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر (آل عمران: 110)
Maknanya: “Kalian adalah sebaik-baik umat di antara seluruh umat manusia, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran” (QS Ali Imran: 110).
Allah ta’ala berfirman:

والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ويقيمون الصلاة ويؤتون الزكاة ويطيعون الله ورسولهأولئك سيرحمهم الله إن الله عزيز حكيم (التوبة: 71).
Maknanya: “Orang-orang yang beriman baik laki-laki atau perempuan sebagaian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain, mereka memerintahkan kepada keta’atan, dan mencegah kemunkaran, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menta’ati Allah dan rasul-Nya, mereka itu yang dirahmati oleh Allah, dan Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”.
Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihissalam:

أبلغكم رسالات ربي وأنصح لكم وأعلم من الله ما لا تعلمون (الأعراف: 62).
Maknanya: “Aku sampaikan kepada kalian risalah dari Tuhanku dan aku mengetahui dari wahyu Allah apa yang tidak kalian ketahui”.

Dan tentang Nabi Hud ‘alaihissalam:

أ بلغكم رسالات ربي وأنا لكم ناصح أمين (الأعراف: 68 ).
Maknanya: “Aku sampaikan kepada kalian risalah dari Tuhanku dan aku adalah pemberi nasehat kepada kalian yang terpercaya”.
Dari Tamim ad-Dari –semoga Allah meridloinya- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الدين النصيحة”، قلنا لمن؟ قال: “لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم (رواه مسلم). Maknanya: “(termasuk perkara yang teramat penting dalam) Agama ini adalah nasehat”, para sahabat bertanya: “Apa nasehat itu?” Rasulullah menjawab: “Nasehat untuk beriman kepada Allah, beriman kepada kitab Allah, beriman kepada Rasulullah, membantu para pemimpin umat Islam, dan menasehati orang awam kepada mashlahat dan keta’atan”.
Dan dari Jarir –semoga Allah meridloinya- berkata:

بايعت رسول الله صلى الله عليه وسلم على إقام الصلاة وإيتاء الزكاة والنصح لكل مسلم (رواه البخاري ومسلم).
Maknanya: “Aku berjanji kepada Rasulullah untuk selelu menjalankan shalat, mengeluarkan zakat, dan menasehati setiap muslim”.

Nasehat kami kepada setiap muslim untuk selalu berpegang teguh dengan aqidah sunniyyah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, dan bersungguh-sungguh untuk menyebar dan menegakkannya, terutama para ulama dan umara’, dan setiap kita dimanapun dia berada. Dengan ini ummat Islam akan menjadi kuat dan disegani oleh ummat-ummat lain. Dan ini adalah penjagaan dan benteng untuk setiap daerah, dan keamanan serta ketentraman bagi setiap Negara.

Ketahuilah wahai saudaraku yang seiman –semoga Allah merahmatimu dengan taufiq-Nya- bahwa jalan untuk mencapai penyatuan ummat dan penyeragaman kata mereka adalah dengan menyatukan hati mereka dalam satu aqidah yang benar yaitu aqidah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah Ahlussunnah wal Jama’ah, aqidah as-Salaf as-Shalih, aqidah Nabi Muhammad dan para sahabatnya dan ahlul bait dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan.

Kalau kita mengambil dua contoh ini:
Pertama: Sulthan Muhammad al Fatih al Utsmani al Maturidi
Kedua: Sulthan Shalahuddin al Ayyubi al asy’ari asy-Syafi’i

Keduanya telah berjuang dalam menyebarkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan mengumpulkan hati orang-orang dalam satu kalimat tauhid, sehingga mempermudah mereka dalam menyatukan tentara Islam dalam satu barisan, akhirnya sulthan Muhammad al Fatih berhasil menaklukkan konstatinopel, dan Sultan Shalahuddin berhasil membebaskan Masjid al Aqshadari cengkeraman pasukan salib setelah dikuasai oleh mereka selama 90 tahun.

Sulthan Muhammad al Fatih
Nama lengkapnya sulthan Muhammad Khan Fatihul Qisthanthiniyyah ibn Murad, dilahirkan pada tahun 835 H, termasuk salah satu raja terkemuka di kalangan raja-raja keluarga Utsman dan yang paling kuat dalam berjuang. Melaksanakan beberapa kali peperangan, yang paling besar adalah perang dalam penaklukan Konstatinopel setelah dikepung selama 51 hari, tepatnya pada tanggal 24 Jumada al akhirah tahun 857 H, dan beliau memiliki karamah-karamah yang aneh dan peninggalan-peninggalan yang mengagumkan, berkuasa selama 31 tahun, sampai akhirnya meninggal pada tahun 886 H.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memuji beliau dan tentara beliau, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al Bazzar, at-Thabarani, al Hakim dengan sanad yang shahih:

لتفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش
Maknanya: “Konstantinopel akan ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang berhasil menaklukkannya, dan sebaik-baik bala tentara adalah bala tentara yang menaklukkannya”.
Dan konstantinopel akhirnya takluk setelah lewat 900 tahun dari meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di tangan sulthan Muhammad al Fatih al Maturidi –semoga Allah merahmatinya- dan beliau adalah seorang penganut ajaran sunni, meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat, mencintai kaum shufi yang lurus, dan bertawassul dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sulthan Shalahuddin :

Dilahirkan pada tahun 532 H, beliau –semoga Allah merahmati beliau- seorang penganut Madzhab Asy’ari dalam aqidah dan pengamal Mazhab Syafi’I dalam fiqih, seorang yang berilmu, shalih, dan mutawadli’ (rendah hati), wara’, beragama, bersahaja (zuhud), sangat rajin untuk shalat berjama’ah, tekun dalam melaksanakan amalan-amalan sunnah dan shalat malam, memperbanyak dzikir, senang mendengar bacaan al Qur’an, hatinya khusyu’, banyak meneteskan air mata (karena sedih meratapi kekurangannya), teman yang pengasih, lemah lembut dan suka memberi nasehat, adil, menyayangi rakyatnya, belas kasihan dan suka menolong kepada orang-orang yang dizhalimi dan orang-orang yang lemah, pemberani, pemurah, penyabar, akhlaqnya mulia, hafal al Qur’an, hafal kitab Tanbih dalam fiqih Syafi’i, banyak bertalaqqi hadits-hadits, selalu berdo’a kepada Allah dan tidak membuatnya gentar -dalam berjuang di jalan yang diridloi Allah- celaan orang yang mencela.

Wilayah kekuasaannya dari ujung Yaman sampai Maushil, dari Tripoli barat sampai Naubah, diserahi tampuk pemerintahan untuk seluruh daerah syam, Yaman dan cakupannya seperti Emirat, Qatar, Bahrain, Oman, juga seluruh Hijaz, seluruh daerah di Mesir, banyak membangun dan menyemarakkan masjid-masjid dan madrasah-madrasah, menyemarakkan benteng di gunung, pagar di Kairo, membangun Kubah makam Imam Syafi’i, menghapus penarikan pajak, membuka sekitar tujuh puluh lebih kota dan benteng-benteng, membebaskan Quds (palestina) dan menyucikannya setelah dikuasai selama 90 tahun oleh orang-orang kafir.
Wafat pada tahun 589 H, pada saat meninggal beliau berumur 57 tahun, dan tidak mewariskan kekuasaan ataupun tanah.

Di antara manaqib-manaqibnya:
Beliau memerintahkan pada muadzin untuk mengumandangkan aqidah al Mursyidahdiatas menara menjelang shubuh dan para muadzin pun melaksanakannya di setiap malam diseluruh masjid– masjid jami’, kebiasaan itupun berlanjut sekitar 400 tahun lebih.

Sejarawan Taqiyuddin al–Maqrizi (w.845H)dalam kitabnya al Mawaizh Wal I’tibath Bidzikril Alkhithoti Wal Atsar berkata: “Ketika Sultan Shalahuddin Yusuf bin Ayyub diserahijabatan pemerintahan,beliau mengeluarkan satu perintah kepada para muadzin untuk mengumandangkan di atas menara–menara pada malam hari menjelang shubuh pembacaan aqidah yang dikenal dengan al Aqidah al Mursidah dan selanjutnya para muadzin melaksanakan secara terus menerus perintah itu dengan membacakan kitab aqidah tersebut di setiap malam di seluruh masjid jami’ di Mesir sampai sekarang.

al Hafidz Jalaluddin as-Suyuti (w. 911 H)dalam kitabnya al Wasail ila Ma’rifat al Awail: “Ketika Sultan Shalahuddin Yusuf bin Ayyub diserahi pemerintahan,beliau membuat satu perintah kepada para muadzin untuk mengumandangkan di atas menara–menara pada malam hari menjelang shubuh pembacaan aqidah yang dikenal dengan al Aqidah al Mursyidahdan selanjutnya para muadzin melaksanakan secara terus menerus perintah itu dengan membacakan kitab aqidah tersebut di setiap malam di selruh masjid jami’ di Mesir sampai sekarang”.

Al a’lamah al Muhammad ibn A’lan ash-Shidiqi as-Syafi’i (w. 157 H)dalam kitabnya al Futuhat ar-Rabbaniyah a’la al Adzkar an-Nawawiyah berkata: “Ketika Shalahuddin ibn Ayub diserahi jabatan pemerintahan dan beliau menghimbau masyarakat untuk teguh mempertahankan aqidah Asy’ari, beliau memerintahkan kepada para muadzin untuk mengumandangkan aqidah asy’ariyah yang di kenal dengan sebutan al Aqidah al Mursyidah, dan mereka terus menjalankan perintah itu dan membacakan aqidah ini setiap malamnya sebelum shubuh”.

Dalam kitab Thabaqat asy-Syafi’iyah Tajuddin sa-Subki mengatakan bahwa Syekh Fahruddin ibn Asakir mengajarkan al Aqidah al Mursyidah .

Di Damaskus al Hafidz Shalahuddin al A’la’i (W.761.H) sebagaimana dinukil oleh as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyahberkata dan al Aqidah al Mursyidah ini pengarangnya benar–benar berada di jalan yang lurus dan dia telah benar dalam mensucikan Allah yang maha agung.

Tajuddin as-Subki (w.771H)dalam kitabnya Mu’id an-Nia’am waMubid an-Niqam mengatakan: “Aqidah Asy’ari ialah aqidah yang terdapat pada kitab aqidah karya Abu Ja’far ath-Thahawi,Aqidah Abu al Qasim al Qusyairi, dan aqidah yang terkenal yang bernama al Aqidah al Mursyidahke empat–empatnya sama-sama meyakini dasar-dasar aqidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Imam Muhammad ibn Yusuf as-Sanusi (w.895H)dalam Syarahnya: “al Aqidah al Mursyidah yang dinamakan dengan al-Anwar al Mubayyinah li Ma’ani I’qdi al Aqidah al Mursyidah bersepakat para imam-imam atas kebenaran aqidah ini dan aqidah ini adalah aqidah mursyidah rosyidah.

Oleh Syeikh Dr. Salim ‘Alwan Al-Husaini
(Ketua Umum Darul Fatwa Australia (Mufti Australia/Ketua Majelis Ulama Australia)
Disampaikan pada acara Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Sabtu, 30 Juni 2012