Rabu, 27 Juli 2011

Kisah Taubatnya Ibnu Taimiyah di Tangan Ulama’ Aswaja


Senin, 11 Juli 2011

Ibnu Katsir Berziarah ke Imam Syafi’i

Oleh:  Santribuntet
Berziarah kepada orang-orang Shaleh akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kerohanian dan keilmuan. Karenanya, ulama dulu kepada orang-orang shaleh begitu menghormatinya dari hidup sampai wafanya. Contohnya, jika tulisan kemarin Imam Syafi’i senantiasa berziarah ke makam  gurunya, kini Imam Ibnu Katsir menuliskan bagaimana beliau juga sangat suka berziarah kepada orang Sholeh, yaitu Imam Syafi’i. Seperti diketahui kita bersama, mayoritas umat Islam di Indonesia dan Malaysia adalah penganut madzhab Syafi’i.
Berikut adalah kutipan dan Kyai Thobary Syadzili dari Banten yang mengupas kata-kata Imam Ibnu Katsir rahimahumullah..
# الخضر بن نصر #
===========
على بن نصر الأربلى الفقيه الِشافعي أول من درس بأربل فى سنة ثلاث و ثلاثين و خمسمائة , و كان فاضلا دينا , انتفع به الناس , و كان قد اشتغل على الكيا الهراسي و غيره ببغداد , و قدم دمشق فأرخه ابن عساكر فى هذه السنة , و ترجمه ابن خلكان فى الوفيات , و قال قبره يزار , و قد زرته غير مرة , و رأيت الناس ينتابون قبره و يتبركون به
Artinya:
“Ali bin Nasr al-Arbil, seorang ulama pakar fiqih Syafi’i adalah orang pertama yang mengajar di daerah Arbil pada tahun 533 H / 1139 M. Beliau seorang yang mempunyai keistimewaan di bidang ilmu agama. Banyak orang mengambil manfa’at dengan keilmuan beliau. Beliau sibuk sekali di al-Harasyi dan lainnya di Baghdad. Beliau mendatangi Damsyiq (sekarang Damaskus – Syria).
Kemudian Ibnu ‘Asakir menuliskan sejarah tentang beliau pada tahun itu juga, dan Ibnu Khulkan menterjemahkannya ke dalam kitab-kitab sejarah secara cermat. Dan dia berkata: Makam beliau suka diziarahi orang. Sesungguhnya aku (Imam Ibnu Katsir, pengarang kitab ini) pun sering menziarahinya. Aku melihat orang-orang meninggikan kuburannya dan mengambil berkah dengan menziarahinya (bukan menyembah dan meminta berkah kepada kuburan) pula”.
( Kitab “Al-Bidayah wan Nihayah karya Al-Hafidz Ibnu Katsir cetakan Daar el-Fikr tahun 1978 Jilid 6 Juz 12 halaman 287).
TENTANG IBNU KATSIR
Nama lengkapnya Isma’il bin Umar bin Katsir al-Bashri ad-Dimasyqi. Beliau terkenal dengan nama Abu Katsir Imaduddin Abul Fida’ (wafat tahun 774 H / 1374 M).
Selain itu beliau terkenal sebagai ulama Syafi’i yang ahli di bidang ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu sejarah dll.
Kitab-kitab karangan beliau antara lain:
  1. Tafsir Ibnu Katsir
  2. Syarah al-Jami‘us Shahih lil Bukhari (syarah Hadits Bukhari)
  3. Jami’ul Masanin was Sunnah (Hadits: 8 jilid)
  4. Thabaqatul ‘Ulama (Sejarah Ulama-ulama)
  5. Al-Fushul fii Siratil Rasul (sejarah Nabi)
  6. Al-Wadhihiyun Nafis fii Manaqib Muhammad bin Idris (kitab keutamaan Imam Syafi’i)
  7. Al-Ijtihad fii Thalibil Jihad (kitab yang menerangkan tentang mengerahkan perang fii sabilillah)

Kamis, 07 Juli 2011

Epistemologi Islam



Kajian epistemologi Islam penting untuk dilakukan mengingat saat ini sudah menyebar apa yang disebut oleh Syamsuddin Arif, “kanker epistemologis”. Kanker jenis ini telah melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta mengakibatkan kegagalan akal (intellectual failure), yang pada gilirannya mengerogoti keyakinan dan keimanan, dan akhirnya menyebabkan kekufuran. Gejala dari orang yang mengidap kanker ini, di antaranya suka berkata: “Di dunia ini, kita tidak pernah tahu Kebenaran Absolut. Yang kita tahu hanyalah kebenaran dengan “k” kecil.” “Kebenaran itu relatif.” “Agama itu mutlak, sedang pemikiran keagamaan relatif.” “Semua agama benar dalam posisi dan porsinya masing-masing.” Dll.
Epistemologi secara sederhana bisa dimaknai teori pengetahuan. Mungkinkah mengetahui, apa itu pengetahuan, dan bagaimana mendapatkan pengetahuan, merupakan tema-tema pembahasan epistemologi. Menurut Milton D. Hunnex, epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episçmç yang bermakna knowledge, pengetahuan, dan logos yang bermakna teori. Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1854 oleh J.F. Ferrier yang membuat perbedaan antara dua cabang filsafat yaitu ontologi (Yunani: on = being, wujud, apa + logos = teori) dan epistemologi. Jika ontologi mengkaji tentang wujud, hakikat, dan metafisika, maka epistemologi membandingkan kajian sistematik terhadap sifat, sumber, dan validitas pengetahuan. Menurut Mulyadhi Kartanegara, ada dua pertanyaan yang tidak bisa dilepaskan dari epistemologi, yaitu: (1) apa yang dapat diketahui dan (2) bagaimana mengetahuinya. Yang pertama mengacu pada teori dan isi ilmu, sedangkan yang kedua pada metodologi.
Mungkinkah Mengetahui?
Pertanyaan itu sudah mengemuka dari sejak zaman Yunani kuno. Pada zaman ini lahir aliran yang bernama sofisme (السوفسطائية). Menurut kaum sofis, semua kebenaran relatif. Ukuran kebenaran itu manusia (man is the measure of all things). Karena manusia berbeda-beda, jadi kebenaran pun berbeda-beda tergantung manusianya. Menurut anda mungkin benar, tetapi menurut saya tidak, demikian kurang lebih argumentasi kaum sofis. Akibatnya, mudah diterka, terjadi semacam kekacauan kebenaran. Semua teori sains diragukan, semua aqidah dan kaidah agama dicurigai. Manusia menjadi hidup tanpa pegangan “kebenaran”, dan hal seperti itu telah menyebabkan manusia terasing di dunianya sendiri.
Maka kemudian, muncullah Socrates, yang jejaknya diikuti oleh Plato dan Aristoteles. Menurut mereka tidak semua kebenaran relatif, ada kebenaran yang umum, yang mutlak benar bagi siapapun. Kebenaran ini disebut idea oleh Plato, dan definisi oleh Aristoteles.
Sofisme klasik ini kemudian berreinkarnasi (terlahir kembali) pada zaman modern dengan nama skeptisisme. Seseorang yang skeptis akan senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Baginya, semua pendapat tentang semua perkara (termasuk yang qath’i dalam agama) harus selalu terbuka untuk diperdebatkan. Pada tahap ekstrem dia akan mengklaim bahwa kebenaran hanya bisa dicari dan didekati, tetapi mustahil ditemukan.
Wujud lain dari sofisme modern adalah relativisme. Pengidap relativisme epistemologis menganggap semua orang dan golongan sama-sama benar, semua pendapat (agama, aliran, sekte, kelompok, dan lain sebagainya) sama benarnya, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Jika seorang skeptis menolak semua klaim kebenaran, maka seorang relativis menerima dan menganggap semuanya benar. Aliran ini yang kemudian berkembang menjadi paham pluralisme agama.
Islam tentu saja menentang paham sofisme dengan segala macam bentuk reinkarnasinya. Dari sejak awal surat, al-Qur`an mengajarkan agar manusia mencari kebenaran, karena kebenaran itu ada, dan kesalahan pun beserta orang-orang yang salahnya juga ada.
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Dalam awal surat al-Baqarah, lagi-lagi al-Qur`an menolak paham relativisme:
Alif laam miim, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.
Nabi Muhammad saw, sebagai insan biasa, yang terkadang ragu dengan propaganda sofisme dari musuh-musuhnya pun diingatkan Allah swt:
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
Artinya, kebenaran itu ada, sumbernya dari Tuhanmu, yakni yang disampaikannya kepadamu melalui wahyu. Jadi jangan pernah bersikap sofis, karena pegangan kebenaran jelas dan ada, yakni wahyu.
Sebagai bukti lain bahwa Islam memerangi sofisme, Islam mewajibkan pencarian ilmu pengetahuan. Nabi Muhammad saw menegaskan dalam sebuah hadits yang terkenal:
طلب العلم فريضة على كل مسلم
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.
Hadits-hadits dan ayat-ayat lainnya yang mengutamakan ilmu, semuanya menolak mentah-mentah paham sofisme, skeptisisme, relativisme, dan semua bentuk reinkarnasinya.
Dalam berbagai tempat Allah swt juga suka mengingatkan bahwa dalam hidup ini akan selalu ada dua pilihan; haqq dan bathil, benar (shawab) dan keliru (khatha`), sejati (shadiq) dan palsu (kadzib), baik (thayyib) dan busuk (khabits), bagus (hasanah) dan jelek (sayyi`ah), lurus (hidayah) dan tersesat (dlalalah). Semuanya itu mengajarkan nilai kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan mungkin untuk diraih.
Terkait dengan adanya ikhtilaf di antara ulama yang sering dijadikan pembenar bahwa tidak ada kebenaran yang pasti, maka tentu harus dibedakan dulu mana yang qath’i dan mana yang zhanni, mana yang ushul dan mana yang furu’. Karena pastinya para ulama tidak mungkin berikhtilaf dalam masalah yang ushul dan qath’i. Kalaupun masih ada juga yang berbeda dalam kedua masalah tersebut, maka itulah orang-orang yang masuk kategori sayyi`ah dan dlalalah. Jika pemikir seperti Socrates, Plato dan Aristotels saja mengakui adanya kebenaran yang bersifat umum, maka sangat aneh jika para ulama yang terbimbing dengan al-Qur`an dan sunnah tidak mengakui adanya kebenaran tersebut. Padahal, al-Qur`an dan sunnah dengan sangat jelas telah memberikan bimbingan dalam masalah tersebut.
Bagaimana Kita Bisa Mengetahui?
Ilmu diperoleh oleh manusia dengan berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat. Menurut Jujun S. Suriasumantri, pada dasarnya terdapat dua cara pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio, dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Yang pertama disebut paham rasionalisme, dan yang kedua disebut paham empirisme. Pengetahuan jenis pertama disebut logis, dan pengetahuan jenis kedua disebut empiris.
Kerjasama rasionalisme dan empirisme melahirkan metode sains (scientific method), dan dari metode ini lahirlah pengetahuan sains (scientific knowledge) yang dalam bahasa Indonesia sering disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuan. Pengetahuan sains ini adalah jenis pengetahuan yang logis dan memiliki bukti empiris. Jadi tidak hanya logis saja yang menjadi andalan kaum rasionalis, tapi juga harus empiris yang menjadi andalan kaum empiris. Kalau ternyata pengetahuan tersebut hanya bersifat logis, tidak empiris, pengetahuan tersebut akan disebut pengetahuan filsafat, bukan pengetahuan sains/ilmiah.
Kerjasama dari rasionalisme-empirisme ini kemudian melahirkan paham positivisme, yakni paham yang menyatakan bahwa segala pengetahuan yang ilmiah harus dan pasti dapat “terukur”. Panas diukur dengan derajat panas, jauh diukur dengan meteran, berat diukur dengan timbangan.
Di samping rasionalisme dan empirisme, masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting dari semua itu, menurut Jujun, adalah intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berpikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai di situ. Inilah yang disebut intuisi.
Sementara wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutus-Nya di setiap zaman. Menurut Jujun, agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan manusia sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transendental seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari kemudian di akhirat nanti. Pengetahuan ini didasarkan kepada kepercayaan akan hal-hal yang gaib (supernatural). Akan tetapi pengetahuan jenis ini banyak tidak diakui oleh para ilmuwan yang kurang berpihak pada agama, seiring dibatasinya pengetahuan ilmiah pada logis-empiris.
Menurut Ahmad Tafsir, terdapat aliran lain yang mirip sekali dengan intuisionisme, yaitu iluminasionisme. Aliran ini berkembang di kalangan tokoh-tokoh agama; di dalam Islam disebut teori kasyf. Teori ini menyatakan bahwa manusia yang hatinya telah bersih, maka ia telah siap dan sanggup menerima pengetahuan dari Tuhan. Aliran ini lebih terfokus pada ilhâm yang diturunkan Allah swt kepada manusia. Menurut Ahmad Tafsir, aliran ini terbentang juga di dalam sejarah pemikiran Islam, boleh dikatakan dari sejak awal dan memuncak pada Mulla Shadra.
Jika kita menilik pemikiran para ulama Islam tentang sumber pengetahuan, akan didapati bahwa di antara mereka tidak ada yang hanya membatasi pada salah satu dari empat saluran pengetahuan sebagaimana dijelaskan Jujun di atas. Tidak seperti halnya di dunia Barat yang membatasi keilmiahan pada logis-empiris saja misalnya, dalam khazanah pemikiran Islam aliran semacam itu hampir tidak ditemukan.
Lihat misalnya pemikiran al-Nasafi yang menyatakan terdapat tiga saluran yang menjadi sumber ilmu, yaitu perspesi indera (idrâk al-hawâs), proses akal sehat (ta’âqul) serta intuisi hati (qalb), dan melalui informasi yang benar (khabar shâdiq). Oleh al-Attas, penguraian seperti al-Nasafi di atas dihitung empat, dengan memisahkan proses akal sehat dan intuisi hati.
Ibn Taimiyyah sendiri tidak jauh berbeda dalam menjelaskan saluran-saluran pengetahuan ini. Dari tiga yang pokok: khabar, akal dan indera, Ibn Taimiyyah kemudian membagi indera pada indera lahir, yakni panca indera yang kita maklumi, dan indera batin, yakni intuisi hati. Terhadap teori kasyf sebagaimana disinggung oleh Ahmad Tafsir di atas, Ibn Taimiyyah juga memberikan kemungkinannya. Hanya menurutnya pengetahuan yang diperoleh lewat ilhâm tersebut tidak boleh bertentangan dengan khabar yang statusnya lebih kuat. Karena selain sama-sama berasal dari Allah swt, khabar ini juga disampaikan kepada manusia pilihan-Nya, yaitu para Nabi. Sehingga jelas apa yang disampaikan Allah swt kepada para Nabi lebih kuat kedudukannya ketika berbenturan dengan ilhâm yang banyak di antaranya hanya berupa lintasan-lintasan hati biasa dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Al-Ghazali menyampaikan pendapat yang sama. Menurutnya, hâkim dalam makna pemutus benar tidaknya sesuatu itu ada tiga, yaitu hissî (indera), wahmî (intuisi), dan ‘aqlî (akal). Menurut al-Ghazali, ketika hâkim wahmî itu terkadang bertentangan dengan akal dan indera yang kuat, padahal di sisi lainnya terdapat peringatan tentang adanya yang melintas di dalam hati ini berupa bisikan syetan, maka al-Ghazali hanya mengakui saluran wahmî dari orang yang dikuatkan oleh Allah swt dengan taufiq-Nya, yakni orang yang dimuliakan Allah swt disebabkan orang yang bersangkutan hanya menempuh jalan yang haqq. Tidak menyebutkannya al-Ghazali kedudukan wahyu secara tegas, bukan berarti ia tidak mengakuinya. Karena di dalam berbagai karyanya, termasuk dalam menentang para filosof melalui Tahâfut al-Falâsifah, al-Ghazali melandaskannya pada dalil-dalil wahyu. Itu semua dikarenakan yang menjadi titik tekan al-Ghazali dalam pembahasannya ini adalah hâkim dari diri manusia sendiri, bukan dari luar.
Adapun al-Qadi Abu Bakar al-Baqillani, dengan konsep yang sama membagi sumber pengetahuan ini ke dalam enam bagian. Lima di antaranya adalah jenis-jenis indera, yaitu hâssat al-bashar (indera melihat), hâssat al-sam’ (indera mendengar), hâssat al-dzauq (indera mengecap), hâssat al-syamm (indera mencium), dan hâssat al-lams (indera merasa dan meraba). Adapun yang keenamnya, al-Baqillani menjelaskan: “Jenis yang keenam adalah sesuatu keharusan yang timbul di dalam jiwa secara langsung tanpa melalui indera-indera yang disebutkan tadi.” Al-Baqillani kemudian menyebutkan contoh-contoh pengetahuan yang diperoleh lewat (1) intuisi, seperti seseorang yang mengenali dirinya sendiri, (2) lewat akal, seperti memahami omongan, dan (3) lewat khabar khususnya yang mutawâtir, seperti tentang kehidupan yang ada di luar negeri. Termasuk tentunya khabar-khabar keagamaan, karena sifatnya yang sama sebagai khabar.
Penjelasan al-Baqillani ini menguatkan kesimpulan bahwa pemahaman para ulama terhadap sumber pengetahuan dalam Islam sama. Tidak ada pemilahan di antara mereka antara yang logis, empiris, dan intuitif. Semuanya diakui asalkan berdasar pada dalil-dalil yang kuat. Baik itu yang revelational/wahyu (naqlî), rasional (‘aqlî) ataupun empirikal (hissî).
Apa Itu Pengetahuan?
Peradaban Barat membedakan pengetahuan ke dalam dua istilah teknis, yaitu science dan knowledge. Istilah yang pertama diperuntukkan bagi bidang-bidang ilmu fisik atau empiris, sedangkan istilah kedua diperuntukkan bagi bidang-bidang ilmu nonfisik seperti konsep mental dan metafisika. Istilah yang pertama diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan ilmu pengetahuan, sementara istilah kedua diterjemahkan dengan pengetahuan saja. Dengan kata lain, hanya ilmu yang sifatnya fisik dan empiris saja yang bisa dikategorikan ilmu, sementara sisanya, seperti ilmu agama, tidak bisa dikategorikan ilmu (ilmiah).
Fenomena seperti ini baru terjadi pada abad modern. Karena sampai abad pertengahan, pengetahuan belum dibeda-bedakan ke dalam dua istilah teknis di atas, istilah pengetahuan (knowledge) masih mencakup semua jenis ilmu pengetahuan. Baru ketika memasuki abad modern yang ditandakan dengan positivisme, maka pengetahuan yang terukur secara empiris dikhususkan dengan penyebutan scientific knowledge atau science saja.
Islam tentu saja tidak mengenal pemenggalan zaman menjadi abad klasik, pertengahan dan modern. Karena di Islam tidak pernah terjadi tarik-ulur yang dahsyat antara akal dan iman, atau antara kekuasaan dunia dan kekuasaan agama. Islam juga tidak mengenal renaissance yang ditandakan dengan terbebasnya alam pikiran manusia dari kungkungan penguasa agama. Karena dari sejak awal kelahirannya, antara agama, akal dan indera, ketiganya berjalin kelindan dengan sangat baik. Konsekuensinya, tidak akan ditemukan dalam khazanah pemikiran Islam pergeseran definisi ilmu seperti yang terjadi di dunia Barat. Dari sejak awal dan sampai sekarang, ilmu dalam Islam mencakup bidang-bidang fisik juga bidang-bidang nonfisik.
Istilah yang digunakannya pun dari sejak awal tidak berubah, yakni ‘ilm. Menurut Wan Mohd Nor Wan Daud, penggunaan istilah ‘ilm itu sendiri, sangat terpengaruh oleh pandangan dunia Islam (Islamic worldview):
Pengetahuan dalam bahasa Arab digambarkan dengan istilah al-’ilm, al-ma’rifah dan al-syu’ûr (kesadaran). Namun, dalam pandangan dunia Islam, yang pertamalah yang terpenting, karena ia merupakan salah satu sifat Tuhan. Julukan-julukan yang dikenakan kepada Tuhan adalah al-’Âlim, al-’Alîm dan al-’Allâm, yang semuanya berarti Maha Mengetahui; tetapi Dia tidak pernah disebut al-’Ârif atau al-Syâ’ir.
Akan tetapi berkaitan dengan pertanyaan apa itu pengetahuan, menurut Wan Daud, sekarang ini umat Islam menyadari bahwa mendefinisikan ilmu (pengetahuan) secara hadd adalah mustahil. al-Attas dalam hal ini menjelaskan bahwa ilmu merupakan sesuatu yang tidak terbatas (limitless) dan karenanya tidak memiliki ciri-ciri spesifik dan perbedaan khusus yang bisa didefinisikan. Lagi pula, al-Attas menjelaskan, pemahaman mengenai istilah ‘ilm selalu diukur oleh pengetahuan seseorang mengenai ilmu dan oleh sesuatu yang jelas baginya. Ketika medan ilmu pada faktanya sangat luas, maka pengetahuan seseorang terhadapnya sangat terbatas. Oleh karena itu pasti pemahaman ilmu dari masing-masing orang akan terbatas.
Ketika menyadari bahwa mendefinisikan ilmu secara hadd adalah mustahil, maka Al-Attas hanya mengajukan definisi deskriptif (rasm). Dengan premis bahwa ilmu itu datang dari Allah swt dan diperoleh oleh jiwa yang kreatif, ia membagi pencapaian dan pendefinisian ilmu ke dalam dua bagian. Pertama, sebagai sesuatu yang berasal dari Allah swt, bisa dikatakan bahwa ilmu itu adalah datangnya (hushûl) makna sesuatu atau objek ilmu ke dalam jiwa pencari ilmu; kedua, sebagai sesuatu yang diterima oleh jiwa yang aktif dan kreatif, ilmu bisa diartikan sebagai datangnya jiwa (wushûl) pada makna sesuatu atau objek ilmu.
Yazdi adalah tokoh lainnya yang menyatakan ilmu tidak mungkin didefinisikan. Hal itu disebabkan konsep pengetahuan merupakan salah satu konsep paling jelas dan swanyata (badîhî). Bukan saja tidak membutuhkan definisi, pengetahuan tidak mungkin didefinisikan, lantaran tidak ada kata atau istilah lain yang lebih jelas untuk dipakai mendefinisikannya. Frase atau tuturan yang lazim dipakai dalam buku-buku filsafat dan logika sebagai definisi pengetahuan atau ilmu hanyalah memberikan contoh-contoh (mishdâq/instance) pengetahuan yang ada dalam ilmu atau bidang kajian tertentu, bukan definisi dalam arti sesungguhnya. Contohnya definisi yang disebutkan oleh para ulama dan ahli logika seperti: “penangkapan bentuk (shûrah atau form) sesuatu dalam pikiran”, “hadirnya maujud nonmaterial dalam maujud nonmaterial lainnya”, atau “hadirnya sesuatu pada maujud nonmaterial”.
Yazdi pun kemudian menjelaskan tentang ilmu ini sebagaimana halnya al-Attas. Cuma istilah yang digunakannya ada perbedaan. Untuk ilmu yang datang secara langsung dari Allah swt Yazdi menamakannya al-’ilm al-hudûrî (pengetahuan dengan kehadiran, presentational knowledge, knowledge by presence). Sementara untuk ilmu yang didapatkan lewat usaha manusia Yazdi menyebutnya al-’ilm al-hushûlî (pengetahuan tangkapan atau perolehan, acquired knowledge).
Dr. Rajih ‘Abd al-Hamid al-Kurdi, adalah tokoh lainnya yang menyatakan hal serupa. Dalam karyanya tentang perbandingan epistemologi antara al-Qur`an dan filsafat (nazariyyat al-ma’rifah baina al-Qur`ân wa al-falsafah) ia menguraikan definisi ilmu menurut para pemikir Mu’tazilah, filosof Yunani, dan para ulama Ahl al-Sunnah. Hasilnya, ia menyimpulkan bahwa ilmu cukup jelas untuk tidak didefinisikan. Karena semua definisi yang diajukan oleh masing-masing pakar berbeda-beda dan hanya terfokus pada beberapa aspek yang menjadi titik perhatiannya saja. Sehingga bisa dipastikan tidak ada definisi ilmu yang hadd.
Uraian keempat ulama di atas mengindikasikan dengan jelas bahwa ilmu dalam Islam mencakup dua pengertian; pertama, sampainya ilmu dari Allah ke dalam jiwa manusia, dan kedua, sampainya jiwa manusia terhadap objek ilmu melalui penelitian dan kajian. Dalam hal ini, mutlak disimak firman Allah swt berikut ini:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-’Alaq [96] : 1-5)
Secara jelas, ayat di atas menginformasikan bahwa ilmu bisa diperoleh dengan aktivitas iqra`, juga bisa diperoleh dengan anugerah Allah swt langsung kepada manusia.
Klasifikasi Pengetahuan, Bukan Dikotomi
Konsekuensinya, Islam tidak mengenal dikotomi ilmu; yang satu diakui, yang lainnya tidak. Yang logis-empiris dikategorikan ilmiah, sedangkan yang berdasarkan pada wahyu tidak dikategorikan ilmiah. Semua jenis pengetahuan, apakah itu yang logis-empiris, apalagi yang sifatnya wahyu (revelational), diakui sebagai sesuatu yang ilmiah. Dalam khazanah pemikiran Islam yang dikenal hanya klasifikasi (pembedaan) atau diferensiasi (perbedaan), bukan dikotomi seperti yang berlaku di Barat.
Al-Ghazali misalnya membagi ilmu dari aspek ghard (tujuan/kegunaan) pada syar’iyyah dan ghair syar’iyyah. Syar’iyyah yang dimaksudkan al-Ghazali adalah yang berasal dari Nabi saw, sedangkan ghair syar’iyyah adalah yang dihasilkan oleh akal seperti ilmu hitung, dihasilkan oleh eksperimen seperti kedokteran, atau yang dihasilkan oleh pendengaran seperti ilmu bahasa.
Ibn Taimiyyah membagi ilmu dari aspek yang sama dengan pola yang sama. Cuma penamaannya, syar’iyyah dan ‘aqliyyah. Syar’iyyah yang dimaksudkan Ibn Taimiyyah adalah yang berurusan dengan persoalan agama dan ketuhanan, adapun ‘aqliyyah adalah yang tidak diperintahkan oleh syara’ dan tidak pula diisyaratkan olehnya.
Sementara syaikh al-’Utsaimin membahasakannya dengan ilmu syar’î dan nazarî. Ilmu syar’î adalah fiqh (pemahaman) terhadap kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw, sementara ilmu nazarî adalah ilmu shinâ’ah (perindustrian) dan yang berkaitan dengannya.
Berkaitan dengan pembagian ilmu dalam Islam seperti di atas, Oliver Leaman menjelaskan, umat Islam membagi ilmu ke dalam model seperti itu disebabkan al-Qur`an menjelaskan bahwa bidang pengetahuan itu ada dua; yang tampak dan yang gaib. Yang tampak dapat diketahui oleh manusia dan juga merupakan objek kajian sains, sedangkan alam gaib, meskipun dapat diketahui dengan cara yang berbeda, merupakan wilayah wahyu. Hal ini dapat dimengerti mengingat tidak adanya bukti fisik yang bisa diterima ihwal alam gaib.
Oliver Leaman menjelaskan lebih lanjut, berdasar pada acuan al-Qur`an inilah maka kemudian ilmu pengetahuan dalam Islam ada dua jenis: ‘Ilm yang mengungkap ‘âlam syahâdah atau alam yang sudah diakrabi dan terpapar dalam sains alam; dan ma’rifah yang mendedahkan ‘âlam al-ghâ`ib atau alam yang tersembunyi dan karenanya lebih dari sekadar pengetahuan proposisional (propositional knowledge). Cara memperoleh pengetahuan jenis kedua ini adalah melalui wahyu.
Klasifikasi seperti ini penting untuk diterapkan agar tidak terjadi “kekacauan ilmu”. Ketika agama diukur oleh akal dan indera (induktif), maka yang lahir adalah sofisme modern. Sehingga adanya Ahmadiyah dan aliran-aliran sesat tidak dipahami sebagai sebuah “kesalahan”, melainkan sebuah pembenaran bahwa Islam itu warna-warni. Demikian juga, ketika sains dicari-cari pembenarannya dari dalil-dalil agama, maka yang lahir kelak pembajakan dalil-dalil agama. Sehingga langit yang tujuh dipahami sebagai planet yang jumlahnya tujuh, seperti pernah dikemukakan oleh sebagian filosof Muslim di abad pertengahan. (http://pemikiranislam.net/)
Wal-’Llahu a’lam bis-shawab.

Senin, 04 Juli 2011

Pertahankan Tradisi Pesantren Salaf di Indonesia

08/06/2006 00:26
  Kediri, NU Online
Pesantren-pesantren tradisional atau salafi diharap tetap mempertahankan tradisi sorogan, bandongan, halaqah, sholat jamaah, istighotsah dan tradisi salafi lainnya. Pesan itu menjadi penting dan mendesak mengingat saat ini tradisi-tradisi salafi diserang dari berbagai penjuru.
Demikian disampaikan KH. Imam Yahya Mahrus, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri kepada NU Online, Selasa (6/6). Selain oleh arus budaya global, tradisi-tradisi pesantren salaf setidaknya terancam punah oleh dua hal yang yang nampak di depan mata, yakni tuntutan untuk memperoleh ijazah yang setara dengan pendidikan umum dan peran aktif pesantren dalam kancah politik praktis.
Menurut Gus Imam (panggilan akrab KH. Imam Yahya Mahrus), pesantren salaf tidak perlu khawatir karena beberapa madrasah diniah di pesantren-pesantren seperti madrasah Hidayatul Mubtadiin di Pesantren Lirboyo sendiri telah diakui sejajar dengan pendidikan umum. Jika pengennya izajah sekarang lulusan Lirboyo sudah bisa masuk perguruan tinggi manapun, katanya.
Soal keterlibatan pesantren ke dalam kancah politik praktis terutama sejak reformasi 1988, Gus Imam mengatakan, tidak menjadi persolan sepanjang pesantren yang bersangkutan tetap menjalankan tradisi salafi.
Ikut politik itu urusan pribadinya masing-masing, urusan kiainya, gus-gusnya tau alumninya, bukan atas nama pesantren atau institusinya. Tradisi pesantren salaf harus dipertahankan karena itu adalah benteng ajaran Islam yang berhaluan ahlussunnah wal jamaah, kata Gus Imam.
Ditambahkannya, kegiatan Musabaqah Qiraatil Qutub Nasional II oleh Departemen Agama Pusat pada 14-16 mendatang yang kebetulan bertempat di Pesantren Lirboyo, sedianya menjadi pemompa semangat pesantren-pesantren salaf dalam mempertahankan kesalafannya, dalam hal ini terkait dengan kitab kuning atau kitab kunonya. (nam)
Berita Terkait:
Pesantren Lirboyo Tuan Rumah Musabaqah Qira'atil Kutub Nasional

Minggu, 03 Juli 2011

taqlid pada Imam Mujtahid (Madzab) itu wajib dilaksanakan bila kita tidak mampu berijtihad




Posted on by salafytobat

Petikan di bawah di ambil dari Kitab Alla mazhabiyyatu Akhtaru Bid’atin Tuhaddidu Asy Syariiata Al Islamiyyah karangan Dr Said Ramadhan al Buthi untuk berhujjah dengan Kitab Halil Muslimu Mulzamun Bittiba’i Mazhabin Mua’yyanin Minal Madzaahibil Arba’ah karangan Syeikh Khajandi (Muhammad Sulthan Al Ma’shumi Al Khajandi Al Makki) – ulama wahhabi terkenal yang juga guru besar Masjidil Haram yang telah menghukum bahawa mengikut mazhab itu adalah haram dan mempromosikan bebas mazhab (Alla mazhabiyyah)
Taqlid ialah mengikuti pendapat seseorang tanpa mengetahui hujah dan yang menunjukkan kebenaran pendapat tersebut. Dalam hal ini, tidak ada bezanya taqlid dan ittiba’ kerana kedua-duanya mempunyai erti yang sama.
Dalam al Quran, ALLah ‘azza wa Jalla menggunakan kata-kata ittiba’ sebagai pengganti kata-kata taqlid, sebagaimana firman -Nya yang bermaksud :
“(Iaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat seksa, serta ketika segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas dari kami…”
(Surah al Baqarah : 166-167)
Tidak ada keraguan lagi bahawa yang dimaksudkan ittiba’ dalam ayat itu ialah taqlid buta yang terlarang. Ada pun istilah yang anda (syeikh Khajandi) pergunakan membezakan erti taqlid dan ittiba’ dalam masalah ini, hanya ada dua alternatif iaitu :
Apabila anda (Syeikh Khajandi) mengerti dalil-dalil dan mempunyai kemampuan melakukan istinbath bererti anda adalah seorang mujtahid.
Tetapi apabila anda (Syeikh Khajandi) tidak mengerti dalil dan tidak menguasai cara-cara melakukan istinbath, anda adalah orang yang taqlid kepada mujtahid. Ada pun banyaknya lafaz dan istilah tidak akan mengubah kenyataan ini.
Kemudian, apakah dalil-dalil yang menunjukkan bahawa taqlid itu wajib dilaksanakan bila kita tidak mampu berijtihad? Berikut ini kami (Prof Dr Muhammad Said Ramadhan al Buthi) tunjukkan dalil dari beberapa segi :
Pertama : ALLah subahanahu wa ta’ala berfirman bermaksud :
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui” – (Surah an Nahl:43)
Para ulama telah sepakat bahawa ayat itu merupakan perintah kepada orang yang tidak mengerti hukum dan dalil agar mengikuti orang yang memahaminya. Seluruh ulama usul telah menetapkan ayat itu sebagai dasar pertama untuk mewajibkan orang awam agar taqlid kepada mujtahid.
Semakna dengan ayat itu, firman ALLah subahanahu wa ta’ala yang bermaksud :
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang beriman (mukmin) itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka, beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mreka itu dapat menjaga dirinya?” (Surah at Taubah : 122)
Dalam ayat ini, ALlah ‘azza wa Jalla melarang semua orang pergi berperang dan melakukan jihad, tetapi memerintahkan agar segolongan dari mereka tetap tinggal di tempatnya untuk mempelajari ilmu agama sehingga bila yang pergi berperang telah kembali. Mereka akan mendapatkan orang-orang yang dapat memberikan fatwa tentang urusan halal dan haram serta menjelaskan hukum-hukum ALLah subahanahu wa ta’ala lainnya. (Al Jaami’ Li Ahkaamil Quraan Imam Al Qurthubu, Jilid VIII, hlmn 293-294)
Kedua : Adanya ijma’ yang menunjukkan bahawa para sahabat Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam tidak sama tingkatan ilmu dan tidak kesemuanya ahli fatwa sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Khaldun. Dan masalah agama pun tidak diambil dari mereka semua. Di antara mereka ada yang menjadi mufti atau mujtahid, tetapi jumlahnya sangat sedikit dan ada pula yang meminta fatwa dan menjadi muqallid yang jumlahnya sangat banyak.
Para sahabat yang menjadi mufti (mujtahid) dalam menerangkan hukum agama, tidak selalu menerangkan dalil-dalilnya kepada yang meminta fatwa. RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam telah mengutus para sahabatnya yang ahli hukum ke daerah-daerah yang penduduknya tidak mengenal Islam. Selain hanya mengetahui aqidah dan rukun-rukun sahaja. Kemudian para penduduk daerah tersebut mengikuti fatwa utusan RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam dengan mengamalkan ibadah dan muamalah, serta segala macam urusan yang ada sangkut pautnya dengan halal dan haram.
Apabila para utusan rasul menjumpai masalah yang tidak ditemukan dalilnya dari Al Kitab (al Quran al Karim) dan As Sunnah ((al Hadith Asy Syarif), ia melakukan ijtihad dan memberi menurut petunjuk dari hasil ijtihadnya. Selanjutnya, penduduk setempat mengikuti fatwa tersebut.
Imam al Ghazali RahimahuLLah dalam kitabnya Al Mustashfa pada bab Taqlid dan Istisfa mengatakan :
“Dalil orang awam harus taqlid ialah ijma’ sahabat. Mereka memberikan fatwa kepada orang awam, tanpa memerintahkannya untuk mencapai darjat ijtihad. Hal ini dapt diketahui dengan pasti dan dengan cara mutawatir, baik dari kalangan ulama mahupun awam.”
Imam Al Amudi berkata dalam kitabnya Al Ihkaam fii Ushuulil Ahkaam, :
“Adapun dalil taqlid dari segi ijma’ ialah orang awam pada zaman sahabat dan tabi’in, sebelum timbul golongan yang menentang, selalu meminta fatwa kepada para mujtahidin dan mengikuti mereka dalam urusan hukum syariat. Para ulama dari kalangan mereka dengan cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan tanpa menyebutkan dalilnya dan tidak ada seorang pun yang ingkar. Hal ini bererti mereka telah ijma; bahawa seorang awam boleh mengikuti mujtahid secara mutlak.”
Dari kalangan sahabat Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam, mereka yang tampil memberikan fatwa dapat dihitung jumlahnya. Mereka dikenal mempunyai kemampuan dalam hukum fiqh, riwayat, dan kemampuan istinbath (mengeluarkan hukum). Yang paling mahsyur di kalangan mereka ialah para Khulafa’ur Rasyidin (Abu Bakar, ‘Umar, Uthman dan Ali bin Abi Talib radiyaLlahu ‘anhum), AbduLlah bin Mas’ud RadiyaLlahu ‘anhu, Abu Musa al Asy’ari radiyaLlahu ‘anhu, Mu’az bin Jabal radiyaLlahu ‘anhu, Ubay bin Ka’ab radiyaLlahu ‘anhu dan Zaid bin Tsabit radiyaLLahu ‘anhu. Ada pun yang taqlid kepada mereka dalam mazhab dan fatwa, tidak terhitung jumlahnya.
Selanjutnya, pada zaman tabi’in daerah ijtihad semakin meluas. Pada masa ini kaum Muslimin tetap menempuh jalan yang sudah ditempuh oleh para sahabat. Hanya saja, ijtihad pada waktu itu bercermin (terpaku) pada 2 mazhab yang utama iaitu :
1. Mazhab ahli hadith
2. Mazhab ahli ra’yu
kerana adanya beberapa faktor yang telah kami sebutkan ketika menukilkan keterangan Ibnu Khaldun RahimahuLlah.
Tokoh-tokoh mazhab ahli hadith di Hijjaz ialah sa’id Ibnul Musayyab Al Makhzumi, Urwah Ibnul Zubair, Salim bin AbduLlah bin ‘Umar, Sulaiman bin Yasar, dan Nafi’ budak AbduLLah bin ‘Umar RadiyaLLahu anhum. Pada umumnya penduduk Hijjaz dan sekitarnya taqlid kepada mazhab ini tanpa ada yang mengingkarinya.
Adapun tokoh-tokoh mazhab ahli ra’yu di Iraq ialah AlQamah bin Qais an Nakha’i. Masruk bin Ajda’ Alhamdani Ibrahim bin Zaid An Nakha’i dan Sa’id bin Jubair RadiyaLlahu anhum. Sebahagian besar penduduk Iraq dan sekitarnya taqlid pada mazhab ini tanpa ada yang mengingkarinya.
Di antara tokoh kedua-dua mazhab ini terjadilah diskusi dan perdebatan hebat pada suatu saat. Tetapi di kalangan orang awam dan para penuntut ilmu yang tingkatannya di bawah mereka dalam urusan fiqih dan ilmu tidak mempedulikan perdebatan tersebut sebab mereka bebas taqlid kepada siapa sahaja yang mereka kehendaki. Diskusi antara para mujtahid tidak akan menjadi beban dan tanggungjawab bagi orang-orang yang bodoh (awam).
Sumber Rujukan : Dr Said Ramadhan Al Buthi, Alla mazhabiyyatu Akhtaru Bid’atin Tuhaddidu Asy Syarii’ata Al Islamiyyah.

Debat Cerdas Seorang Imam Sufi VS Inspirator Salafy Wahabi

  “Ketika Sufi Dianggap Musyrik, Justru Para Sufi Lebih Fasih Bicara Kemusyrikan”, kami pernah menjanjikan akan menampilkan kisah dialog seorang Imam Sufi yang brilliant. Postingan ini insyaallah akan memberikan gambaran tentang para Sufi yang ternyata adalah sosok-sosok yang alim berilmu tinggi dan sekaligus pengamal Ilmunya. Salah satu Sosok tersebut adalah Ibn Athaillah Al Sakandari, seorang Imam Sufi yang namanya tetap harum hingga hari ini di dunia Islam. Kitab karyanya yang fenomenal: Al-Hikam disyarah dan dikaji oleh kaum muslimin dari dulu hingga kini seakan tak habis-habisnya dan terus memancarkan hikmah-hikmah yang tersembunyi dalam kitab Al-Hikam tersebut.
Adapun tentang kisah dialognya yang cerdas dengan seorang inspirator Salafy Wahabi yaitu Ibnu Taymiyah, telah membuka tabir misteri isu-isu yang mengatakan bahwa para sufi adalah orang-orang yang bodoh dan musyrik. Isu-isu ini samasekali tidak benar dan sangat meleset jauh dari fakta, ternyata sesungguhnya para sufi adalah orang-orang brilliant dan bertauhid murni tanpa syirik seperti yang diisukan.
Nah, di akhir dialog itu Ibnu Taymiyah tetap bersikeras menuduh sosok sufi adalah kafir musyrik. Walaupun kepada Ibnu Athaillah menyanjungya sebagai seorang ahli ibadah yang sempurna di seluruh Mesir, tetapi kepada guru Ibnu Athaillah tetap dikafir-musyrikkan. Demikian sikap hipokrit seorang Ibnu Taymiyah, meskipun sudah dijelaskan panjang lebar oleh Ibnu Athaillah, sikapnya terhadap kaum Sufi tetap tidak berubah. Tapi kenapa di hadapan Ibnu Athaillah sang ispirator kaum Salafy Wahabi itu mampu menyanjungnya setinggi langit tapi kepada guru Ibnu Athaillah (Beliau adalah murid Abu al Abbas Al-Musrsi – wafat 686) tetap di-kafirkannya? Ada apa dengan sikapnya itu? Mari kita ikuti kisah selengkapnya….  

Dialog Ibn Athaillah Al Sakandari dengan Ibn Taymiyah

Dialog Ibn Athaillah Al Sakandari (w.709 H) dengan Ibn Taymiyah (w. 728 H).
Diterjemahkan dari On Tasawuf Ibn Atha’illah Al-Sakandari: “The Debate with Ibn Taymiyah Ditranslasi dari buku karya Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani’s  The repudiation of  “Salafi” Innovations (Kazi, 1996)
Bismillahi ar-rahmani ar-rahiim.
Abu Fadl Ibn Athaillah Al Sakandari (wafat 709), salah seorang imam sufi terkemuka yang juga dikenal sebagai seorang muhaddits, muballigh sekaligus ahli fiqih Maliki, adalah penulis karya-karya berikut: Al Hikam, Miftah ul Falah, Al Qasdul al Mujarrad fi Makrifat al ism al-Mufrad, Taj al-Arus al-Hawi li tadhhib al-nufus, Unwan al-Taufiq fi al Adad al-Thariq. Juga sebuah biografi: Al-Lataif fi manaqib Abi al Abbas al Mursi wa sayykhihi Abi al Hasan, dan lain-lain. Beliau adalah murid Abu al Abbas Al-Musrsi (wafat 686) dan generasi penerus kedua dari pendiri tarekat Sadziliyah: Imam Abu Al Hasan Al Sadzili.
Ibn Athaillah adalah salah seorang yang membantah Ibn Taymiyah atas serangannya yang berlebihan terhadap kaum sufi yang tidak sefaham dengannya. Ibn Athaillah tak pernah menyebut Ibn Taymiyah dalam setiap karyanya, namun jelaslah bahwa yang disinggungnya adalah Ibn Taymiyah saat ia mengatakan dalam Lataif:  sebagai “cendekiawan ilmu lahiriyah”. Satu HalamanPostingan berikut ini merupakan terjemahan dari bahasa Inggris untuk pertama kali atas dialog bersejarah antara kedua tokoh tersebut.
Naskah Dialog : Dari Usul al-Wusul karya Muhammad Zaki Ibrahim
Ibn Katsir, Ibn Al Athir, dan penulis biografi serta kamus biografi, kami memperoleh naskah dialog bersejarah yang otentik. Naskah tersebut memberikan ilham tentang etika berdebat di antara kaum terpelajar (berpendidikan keislaman). Di samping itu, ia juga merekam kontroversi antara pribadi yang bepengaruh dalam tsawuf:  Syaikh Ahmad Ibn Athaillah Al Sakandari, dan tokoh yang tak kalah pentingnya dalam gerakan “Salafi”:  Syaikh Ahmad Ibn Abd Al Halim Ibn Taymiyah selama era Mamluk di Mesir yang berada dibawah pemerintahan Sulthan Muhammad Ibn Qalawun (Al Malik Al Nasir).
Kesaksian Ibn Taymiyah kepada Ibn Athaillah yang Notabene adalah Imam Sufi:
Ibn Taymiyah ditahan di Alexandria. Ketika sultan memberikan ampunan, ia kembali ke Kairo. Menjelang malam, ia menuju masjid Al Ahzar untuk sholat maghrib yang diimami Syaikh ibn Athaillah. Selepas shalat, Ibn Athailah terkejut menemukan Ibn Taymiyah sedang berdoa dibelakangnya. Dengan senyuman, sang syaikh sufi menyambut ramah kedatangan Ibn Taymiyah di Kairo seraya berkata: Assalamualaykum, selanjutnya ia memulai pembicaraan dengan tamu cendekianya ini.
IBN ATHAILLAH: “Biasanya saya sholat di masjid Imam Husein dan sholat Isya di sini. Tapi lihatlah bagaimana ketentuan Allah berlaku! Allah menakdirkan sayalah orang pertama yang harus menyambut anda (setelah kepulangan anda ke Kairo). Ungkapkanlah kepadaku wahai faqih, apakah anda menyalahkanku atas apa yang telah terjadi?”
IBN TAYMIYAH: “Aku tahu, anda tidak bermaksud buruk terhadapku, tapi perbedaan pandangan di antara kita tetap ada. Sejak hari ini, dalam kasus apa pun, aku tidak mempersalahkan dan membebaskan dari kesalahan, siapapun yang berbuat buruk terhadapku”
IBN ATHAILLAH: Apa yang anda ketahui tentang aku, syaikh Ibn Taymiyah?
IBN TAYMIYAH: Aku tahu anda adalah seorang yg saleh, berpengetahuan luas, dan senantiasa berbicara benar dan tulus. Aku bersumpah tidak ada orang selain anda, baik di Mesir maupun Syria yang lebih mencintai Allah ataupun mampu meniadakan diri di (hadapan) Allah atau lebih patuh atas perintah-Nya dan menjauhi laranganNya. Tapi bagaimanapun juga kita memiliki perbedaan pandangan. Apa yang anda ketahui tentang saya? Apakah anda atau saya sesat dengan menolak kebenaran (praktik) meminta bantuan seseorang untuk memohon pertolongan Allah (istighatsah)?
IBN ATHAILLAH: Tentu saja, Rekanku, anda tahu bahwa istighatsah atau memohon pertolongan sama dengan tawassul atau mengambil wasilah (perantara) dan meminta syafaat; dan bahwa Rasulullah saw, adalah seorang yang kita harapkan bantuannya karena beliaulah perantara kita dan yang syafaatnya kita harapkan.
IBN TAYMIYAH: Mengenai hal ini saya berpegang pada sunnah rasul yang ditetapkan dalam syariat. Dalam hadits berbunyi sebagai: Aku telah dianugerahkan kekuatan syafaat. Dalam ayat al Qur’an juga disebutkan: “Mudah-mudahan Allah akan menaikkan kamu (wahai Nabi) ke tempat yang terpuji (Q.S Al Isra : 79). Yang dimaksud dengan tempat terpuji adalah syafaat. Lebih jauh lagi, saat ibunda khalifah Ali ra wafat, Rasulullah berdoa pada Allah di kuburnya: “Ya Allah Yang Maha Hidup dan Tak pernah mati, Yang Menghidupkan dan Mematikan, ampuni dosa-dosa ibunda saya Fatimah binti Asad, lapangkan kubur yang akan dimasukinya dengan syafaatku, utusanMu, dan para nabi sebelumku. Karena Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun”.
Inilah syafaat yang dimiliki rasulullah saw. Sementara mencari pertolongan dari selain Allah, merupakan suatu bentuk kemusyrikan; Rasulullah saw sendiri melarang sepupunya, Abdullah bin Abbas, memohon pertolongan dari selain Allah.
IBN ATHAILLAH: Semoga Allah mengaruniakanmu keberhasilan, wahai faqih?! Maksud dari saran Rasulullah saw kepada sepupunya Ibn Abbas, adalah agar ia mendekatkan diri kepada Allah tidak melalui kekerabatannya dengan rasul melainkan dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan mengenai pemahaman anda tentang istighosah sebagai mencari bantuan kepada selain Allah, yang termasuk perbuatan musyrik, saya ingin bertanya kepada anda, ”Adakah muslim yang beriman pada Allah dan rasulNya yang berpendapat ada selain Allah yang memiliki kekuasaaan atas segala kejadian dan mampu menjalankan apa yang telah ditetapkanNya berkenaan dengan dirinya sendiri?”.
”Adakah mukmin sejati yang meyakini ada yang dapat memberikan pahala atas kebaikan dan menghukum atas perbuatan buruk, selain dari Allah? Di samping itu, seharusnya kita sadar bahwa ada berbagai ekspresi yang tak bisa dimaknai sebatas harfiah belaka. Ini bukan saja dikhawatirkan akan membawa kepada kemusyrikan, tapi juga untuk mencegah sarana kemusyrikan. Sebab, siapapun yang meminta pertolongan Rasul berarti mengharapkan anugerah syafaat yang dimilikinya dari Allah, sebagaimana jika anda mengatakan: “Makanan ini memuaskan seleraku”. Apakah dengan demikian makanan itu sendiri yang memuaskan selera anda? Ataukah disebabkan Allah yang memberikan kepuasan melalui makanan?
Sedangkan pernyataan anda bahwa Allah melarang muslim untuk mendatangi seseorang selain DiriNya guna mendapat pertolongan, pernahkah anda melihat seorang muslim memohon pertolongan kepada selain Allah? Ayat Al qur’an yang anda rujuk, berkenaan dengan kaum musyrikin dan mereka yang memohon pada dewa dan berpaling dari Allah. Sedangkan satu-satunya jalan bagi kaum muslim yang meminta pertolongan rasul adalah dalam rangaka bertawassul atau mengambil perantara atas keutamaan (hak) rasul yang diterimanya dari Allah (bihaqqihi inda Allah) dan tashaffu atau memohon bantuan dengan syafaat yang telah Allah anugerahkan kepada rasulNya.
Sementara itu, jika anda berpendapat bahwa istighosah atau memohon pertolongan itu dilarang syariat karena mengarah pada kemusyrikan, maka kita seharusnya mengharamkan buah anggur karena dapat dijadikan minuman keras. Dan (seharusnya) mengebiri (melumpuhkan kemapuan besetubuh) laki-laki yang tidak menikah untuk mencegah zina.
(Kedua syaikh tertawa atas komentar terakhir ini, sebab  konon Syaikh Ibnu Taymiyah adalah pria yang tidak menikah)).
Lalu IBN ATHAILLAH melanjutkan:  “Saya kenal betul dengan segala inklusifitas dan gambaran mengenai sekolah fiqih yang didirikan oleh syaikh anda, Imam Ahmad, dan saya tahu betapa luasnya teori fiqih serta mendalamnya “prinsip-prinsip agar terhindar dari godaan syaitan” yang anda miliki, sebagaimana juga tanggung jawab moral yang anda pikul selaku seorang ahli fiqih.
Namun saya juga menyadari bahwa anda dituntut menelisik di balik kata-kata untuk menemukan makna yang seringkali terselubung dibalik kondisi harfiahnya. Bagi sufi, makna laksana ruh, sementara kata-kata adalah jasadnya. Anda harus menembus ke dalam jasad fisik ini untuk meraih hakikat yang mendalam. Kini anda telah memperoleh dasar bagi pernyataan anda terhadap karya Ibn Arabi, Fususul Hikam. Naskah tersebut telah dikotori oleh musuhnya bukan saja dengan kata-kata yang tak pernah diucapkannya, juga pernyataan-pernyataan yang tidak dimaksudkannya (memberikan contoh tokoh islam).
Ketika syaikh al-Islam Al Izz ibn Abd Salam memahami apa yang sebenarnya diucapan dan dianalisa oleh Ibn Arabi, menangkap dan mengerti makna sebenarnya dibalik ungkapan simbolisnya, ia segera memohon ampun kepada Allah swt atas pendapatnya sebelumnya dan menokohkan Muhyiddin Ibn Arabi sebagai Imam Islam.
Sedangkan mengenai pernyataan al Syadzili yang memojokkan Ibn Arabi, perlu anda ketahui, ucapan tersebut tidak keluar dari mulutnya, melainkan dari salah seorang murid Sadziliyah. Lebih jauh lagi, pernyataan itu dikeluarkan saat para murid membicarakan sebagian pengikut Sadziliyah. Dengan demikian, pernyataan itu diambil dalam konteks yang tak pernah dimaksudkan oleh sang pembicaranya sendiri. “Apa pendapat anda mengenai khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib?”
IBN TAYMIYAH: Dalam salah satu haditsnya, rasul saw bersabda: “Saya adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya”. Sayyidina Ali adalah merupakan seorang mujahid yang tak pernah keluar dari pertempuran kecuali dengan membawa kemenangan. Siapa lagi ulama atau fuqaha sesudahnya yang mampu berjuang demi Allah menggunakan lidah, pena dan pedang sekaligus? Dialah sahabat rasul yang paling sempurna-semoga Allah membalas kebaikannya. Ucapannya bagaikan cahaya lampu yang menerangi sepanjang hidupku setelah al quran dan sunnah. Duhai! Seseorang yang meski sedikit perbekalannya namun panjang perjuangannya.
IBN ATHAILLAH: Sekarang, apakah Imam Ali ra meminta agar orang-orang berpihak padanya dalam suatu faksi? Sementara faksi ini mengklaim bahwa malaikat jibril melakukan kesalahan dengan menyampaikan wahyu kepada Muhammad saw, bukannya kepada Ali! Atau pernahkah ia meminta mereka untuk menyatakan bahwa Allah menitis ke dalam tubuhnya dan sang imam menjadi tuhan? Ataukah ia tidak menentang dan memberantas mereka dengan memberikan fatwa (ketentuan hukum) bahwa mereka harus dibunuh di manapun mereka ditemukan?
IBN TAYMIYAH: Berdasarkan fatwa ini saya memerangi mereka di pegunungan Syria selama lebih dari 10 tahun.
IBN ATHAILLAH: Dan Imam Ahmad- semoga Allah meridoinya-mempertanyakan perbuatan sebagian pengikutnya yang berpatroli, memecahkan tong-tong anggur (di toko-toko penganut kristen atau dimanapun mereka temukan), menumpahkan isinya di lantai, memukuli gadis para penyanyi, dan menyerang masayarakat di jalan.
Meskipun sang Imam tak memberikan fatwa bahwa mereka harus mengecam dan menghardik orang-orang tersebut. Konsekuensinya para pengikutnya ini dicambuk, dilempar ke penjara dan diarak di punggung keledai dengan menghadap ekornya. Apakah Imam Ahmad bertanggung jawab atas perbuatan buruk yang kini kembali dilakukan pengikut Hanbali, dengan dalih melarang benda atau hal-hal yang diharamkan?
Dengan demikian, Syaikh Muhyidin Ibn Arabi tidak bersalah atas pelanggaran yang dilakukan para pengikutnya yang melepaskan diri dari ketentuan hukum dan moral yang telah ditetapkan agama serta melakukan pebuatan yang dilarang agama. Apakah anda tidak memahami hal ini?
IBN TAYMIYAH: “Tapi bagaimana pendirian mereka di hadapan Allah? Di antara kalian, para sufi, ada yang menegaskan bahwa ketika Rasulullah saw memberitakan khabar gembira pada kaum miskin bahwa mereka akan memasuki surga sebelum kaum kaya, selanjutnya kaum miskin tersebut tenggelam dalam luapan kegembiraan dan mulai merobek-robek jubah mereka; saat itu malaikat jibril turun dari surga dan mewahyukan kepada rasul bahwa Allah akan memilih di antara jubah-jubah yang robek itu; selanjutnya malaikat jibril mengangkat satu dari jubah dan menggantungkannya di singgasana Allah. Berdasarkan ini, kaum sufi mengenakan jubah kasar dan menyebut dirinya fuqara atau kaum “papa”.
IBN ATHAILLAH: “Tidak semua sufi mengenakan jubah dan pakaian kasar. Lihatlah apa yang saya kenakan; apakah anda tidak setuju dengan penampilan saya?
IBN TAYMIYAH: “Tetapi anda adalah ulama syariat dan mengajar di Al Ahzar.”
IBN ATHAILLAH: “Al Ghazali adalah seorang imam syariat maupun tasawuf. Ia mengamalkan fiqih, sunnah, dan syariat dengan semangat seorang sufi. Dan dengan cara ini, ia mampu menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Kita tahu bahwa dalam tasawuf, noda tidak memiliki tempat dalam agama dan bahwa kesucian merupakan ciri dari kebenaran. Sufi yang tulus dan sejati harus menyuburkan hatinya dengan kebenaran yang ditanamkan ahli sunnah.
Dua abad yang lalu muncul fenomena sufi gadungan yang anda sendiri telah mengecam dan menolaknya. Dimana sebagian orang mengurangi kewajiban beribadah dan peraturan keagamaan, melonggarkan berpuasa dan melecehkan pengamalan sholat wajib lima kali sehari. Ditunggangi kemalasan dan ketidakpedulian, mereka telah mengklaim telah bebas dari belenggu kewajiban beribadah. Begitu brutalnya tindakan mereka hingga Imam Qusyairi sendiri mengeluarkan kecaman dalam bukunya ar Risalah ( Risalatul Qusyairiyah ).
Di sini, ia juga menerangkan secara rinci jalan yang benar menuju Allah, yakni berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Imam tasawuf juga berkeinginan mengantarkan manusia pada kebenaran sejati, yang tidak hanya diperoleh melalui bukti rasional yang dapat diterima akal manusia yang dapat membedakan yang benar dan salah, melainkan juga melalui penyucian hati dan pelenyapan ego yang dapat dicapai dengan mengamalkan laku spiritual.
Kelompok diatas selanjutnya tersingkir lantaran sebagai hamba Allah sejati, seseorang tidak akan menyibukkan diriya kecuali demi kecintaannya pada Allah dan rasul-NYA. Inilah posisi mulia yang menyebabkan seorang menjadi hamba yang shaleh, sehat dan sentosa. Inilah jalan guna membersihkan manusia dari hal-hal yang dapat menodai manusia, semacam cinta harta, dan ambisi akan kedudukan tertentu.
Meskipun demikian, kita harus berusaha di jalan Allah agar memperoleh ketentraman beribadah. Sahabatku yang cendekia, menerjemahkan naskah secara harfiah terkadang menyebabkan kekeliruan. Penafsiran harfiahlah yang mendasari penilaian anda terhadap Ibn Arabi, salah seorang imam kami yang terkenal akan kesalehannya. Anda tentunya mengerti bahwa Ibn Arabi menulis dengan gaya simbolis; sedangkan para sufi adalah orang-orang ahli dalam menggunakan bahasa simbolis yang mengandung makna lebih dalam dan gaya hiperbola yang menunjukkan tingginya kepekaan spiritual serta kata-kata yang menghantarkan rahasia mengenai fenomena yang tak tampak.
IBN TAYMIYAH: “Argumentasi tersebut justru ditujukan untuk anda. Karena saat Imam al-Qusyairi melihat pengikutnya melenceng dari jalan Allah, ia segera mengambil langkah untuk membenahi mereka. Sementara apa yang dilakukan para syaikh sufi sekarang? Saya meminta para sufi untuk mengikuti jalur sunnah dari para leluhur kami (salafi) yang saleh dan terkemuka: para sahabat yang zuhud, generasi sebelum mereka dan generasi sesudahnya yang mengikuti langkah mereka.
Siapapun yang menempuh jalan ini, saya berikan penghargaan setinggi-tingginya dan menempatkan sebagai imam agama. Namun bagi mereka yang melakukan pembaruan yang tidak berdasar dan menyisipkan gagasan kemusyrikan seperti filososf Yunani dan pengikut Budha, atau yang beranggapan bahwa manusia menempati Allah (hulul) atau menyatu denganNya (ittihad), atau teori yang menyatakan bahwa seluruh penampakan adalah satu adanya/kesatuan wujud (wahdatul wujud) ataupun hal-hal lain yang diperintahkan syaikh anda: semuanya jelas perilaku ateis dan kafir”.
IBN ATHAILLAH: “Ibn Arabi adalah salah seorang ulama terhebat yang mengenyam pendidikan di Dawud al Zahiri seperti Ibn Hazm al Andalusi, seorang yang pahamnya selaras dengan metodologi anda tentang hukum islam, wahai penganut Hanbali! Tetapi meskipun Ibn Arabi seorabg Zahiri (menerjemahkan hukum islam secara lahiriah), metode yang ia terapkan untuk memahami hakekat adalah dengan menelisik apa yang tersembunyi, mencari makna spiritual (thariq al bathin), guna mensucikan bathin (thathhir al bathin).
Meskipun demikian tidak seluruh pengikut mengartikan sama apa-apa yang tersembunyi. Agar anda tidak keliru atau lupa, ulangilah bacaan anda mengenai Ibn Arabi dengan pemahaman baru akan simbol-simbol dan gagasannya. Anda akan menemukannya sangat mirip dengan al-Qusyairi. Ia telah menempuh jalan tasawuf di bawah payung al-quran dan sunnah, sama seperti hujjatul Islam Al Ghazali, yang mengusung perdebatan mengenai perbedaan mendasar mengenai iman dan isu-isu ibadah namun menilai usaha ini kurang menguntungkan dan berfaedah.
Ia mengajak orang untuk memahami bahwa mencintai Allah adalah cara yang patut ditempuh seorang hamba Allah berdasarkan keyakinan. Apakah anda setuju wahai faqih? Atau anda lebih suka melihat perselisihan di antara para ulama? Imam Malik ra. telah mengingatkan mengenai perselisihan semacam ini dan memberikan nasehat: Setiap kali seseorang berdebat mengenai iman, maka kepercayaannya akan berkurang.”
Sejalan dengan ucapan itu, Al Ghazali berpendapat: Cara tercepat untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah melalui hati, bukan jasad. Bukan berarti hati dalam bentuk fisik yang dapat melihat, mendengar atau merasakan secara gamblang. Melainkan, dengan menyimpan dalam benak, rahasia terdalam dari Allah Yang Maha Agung dan Besar, yang tidak dapat dilihat atau diraba.
Sesungguhnya ahli sunnahlah yang menobatkan syaikh sufi, Imam Al-Ghazali, sebagai Hujjatul Islam, dan tak seorangpun yang menyangkal pandangannya bahkan seorang cendekia secara berlebihan berpendapat bahwa Ihya Ulumuddin nyaris setara dengan Al Quran. Dalam pandangan Ibn Arabi dan Ibn Al Farid, taklif atau kepatuhan beragama laksana ibadah yang mihrab atau sajadahnya menandai aspek bathin, bukan semata-mata ritual lahiriah saja.
Karena apalah arti duduk berdirinya anda dalam sholat sementara hati anda dikuasai selain Allah. Allah memuji hambaNya dalam Al Quran:”(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya”; dan Ia mengutuk dalam firmanNya: “(Yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya”. Inilah yang dimaksudkan oleh Ibn Arabi saat mengatakan: “Ibadah bagaikan mihrab bagi hati, yakni aspek bathin, bukan lahirnya”.
Seorang muslim takkan bisa mencapai keyakinan mengenai isi Al Quran, baik dengan ilmu atau pembuktian itu sendiri, hingga ia membersihkan hatinya dari segala yang dapat mengalihkan dan berusaha untuk khusyuk. Dengan demikian Allah akan mencurahkan ilmu ke dalam hatinya, dan dari sana akan muncul semangatnya. Sufi sejati tak mencukupi dirinya dengan meminta sedekah.
Seseorang yang tulus adalah ia yang menyuburkan diri di (hadapan) Allah dengan mematuhiNya. Barangkali yang menyebabkan para ahli fiqih mengecam Ibn Arabi adalah karena kritik beliau terhdap keasyikan mereka dalam berargumentasi dan berdebat seputar masalah iman, hukum kasus-kasus yang terjadi (aktual) dan kasus-kasus yang baru dihipotesakan (dibayangkan padahal belum terjadi).
Ibn Arabi mengkritik demikian karena ia melihat betapa sering hal tersebut dapat mengalihkan mereka dari kejernihan hati. Ia menjuluki mereka sebagai “ahli fiqih basa-basi wanita”. Semoga Allah mengeluarkanmu karena telah menjadi salah satu dari mereka! Pernahkan anda membaca pernyataan Ibn Arabi bahwa: ”Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati.” Adakah pernyataan yang seindah ini?”
IBN TAYMIYAH: “Anda telah berbicara dengan baik, andaikan saja gurumu seperti yang anda katakan, maka ia sangat jauh dari kafir. Tapi menurutku apa yang telah ia ucapkan tidak mendukung pandangan yang telah anda kemukakan.”
*****
*Diterjemahkan dari On Tasawuf Ibn Atha’illah Al-Sakandari: “The Debate with Ibn Taymiyah, dalam buku karya Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani’s The repudiation of “Salafi” Innovations (Kazi, 1996) h. 367-379.
Foot Note:
1. Ibn Atha’illah, Lata’if al minan fi manaqib Abi al Abbas. Pada bagian Lata’if al-minan wa al akhlaq, karya Sya’rani (Kairo, 1357) 2:17-18.
2. Lihat Ibn Al Imad, Shadharat al dzahab (1350/1931) 6:20; Al Zirikly, al A’lam (1405/1984) 1:221; Ibn Hajar, al Dhurrar al Kamina (1348/1929) 1:148-273; Al Maqrizi, Kitab al Suluk (1934-1958) 2:40-94; Ibn Kathir, al Bidayah wa al Nihayah (1351/1932) 14:45; Subki, Tabaqat al Shafi’iyyah (1324/1906) 5:177. dan 9:23; Suyuti, Husn al Muhadara fi Akhbar misr wa al qahira (1299/) 1:301; Al Dawadari, al Durr al fakhir fi sirat Al Malik Al Nasir (1960) hal 200; Al Yafi’I, Mi’rat Al Janan (1337/1918) 4:246; Sya’rani, Al Tabaqat al Kubra (1355/1936) 2:19; Al Nabhani, jami’ karamat al awliya (1381/1962) 2:25.

Kamis, 30 Juni 2011

Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma’na Bid’ah

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّنْ سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي اْلكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.
( صحيح البخاري )
” Tiga hal , yang barangsiapa ada padanya maka ia akan merasakan lezatnya iman , yaitu ia mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya , dan ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah , dan membenci kembali pada kekufuran sebagaimana ia sangat tidak ingin dilemparkan ke api neraka “
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ الحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجمَعِ اْلكَرِيْمِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ السَّاعَةِ وَفِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي حَضْرَةِ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَكُوْنَ قُرَّةَ عَيْنٍ لِرَسُوْلِ اللهِ لِيَسُرُّ قَلْبُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
Limpahan puji ke hadirat Allah subhanahu wata’ala , Maha Raja langit dan bumi Yang Maha melimpahkan keluhuran kepada hamba-hambaNya , tiada satu kehidupan di alam semesta terkecuali pasti menikmati kenikmatan Allah . Kenikmatan yang terbesar dan terluhur adalah kedekatan kepadaNya, kemuliaan hidup yang terindah dan tersuci adalah jiwa yang tersucikan dengan namaNya , maka semoga Allah menerangi jiwaku dan jiwa kalian dengan cahaya kesucian Allah subhanahu wata’ala .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Sampailah kita di malam yang agung ini , yang insya Allah semoga terus mengangkat kita semakin dekat kepada Allah , menghapus kita dari segala dosa , memperbaiki segala yang buruk di hari-hari kita yang telah lalu , dan memperbaiki hari-hari mendatang dengan sebaik-baik keadaan . Hadirin hadirat , titipkan hari-hari lalumu kepada Sang Maha pemilik hari , Yang Maha mengatur dosa yang diampuni dan dosa yang tidak diampuni , titipkan kepada yang memilikinya niscaya Sang Pemilik tidak akan mengecewakan hamba yang berharap kepadaNya, seraya berfirman di dalam hadits qudsy :
يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كاَنَ مِنْكَ فَلاَ أُبَالِي
” Wahai keturunan Adam , jika engkau berdoa dan berharap kepadaKu niscaya Kuampuni dosa-dosa kalian tanpa Kupertanyakan lagi “.
Berdoalah kepada Allah , berharaplah kepada Allah maka Allah akan menghapus segala yang menghambat hubungan antara hamba denganNya berupa dosa dan kesalahan , Allah singkirkan dosa itu dan Allah berjanji tidak akan mempertanyakannya lagi , tinggal engkau mau berharap kepada Allah atau tidak , Allah sudah membuka pintuNya untukmu dan tidak mempertanyakan lagi tentang dosa-dosamu , bahkan Allah mengundang engkau dan jiwamu untuk berharap ke hadiratNya , maka masihkah kita menolak dan berharap kepada selainnya ?! .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Sang Maha lembut , Sang Maha berkasih sayang telah menawarkan pengampunan dan Allah tidak akan mempertanyakan lagi dosa-dosa kalian jika kalian mau berharap kepada Allah . Apa arti dan sulitnya berharap ? Jika kita disuruh beribadah seribu tahun tahun dan bersujud di atas bara api belum ada apa-apanya untuk menghapus dosa kita kepada Allah . Namun Allah meminta kita untuk berharap kepadaNya , meminta kepadaNya maka akan Allah hapuskan dosa-dosa kita tanpa dipertanyakan lagi . Inilah indahnya Tuhanmu , inilah indahnya penciptamu , inilah indahnya Sang pemilik alam semesta , seraya berfirman :
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا ¤ وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا ¤ وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا ¤ وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا ¤ وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا ¤ وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا ¤ وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ¤ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا( الشمس : 1-8 )

“Demi matahari dan cahaya dhuha di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. ( QS. As Syams : 1- 8 )
Mengapa Allah bersumpah demi cahaya dhuha , karena dengan cahaya dhuha itu sudah terang benderang siang hari , tapi terang benderang cahayanya tidak menyakiti kulit kita . Terang benderang yang terindah mulai terbit matahari sampai terbenam adalah saat pagi . Membawa manfaat bagi jasad dari cahaya ultraviolet yang mengurus dan mengasuh sel-sel kulit kita , itulah di waktu cahaya dhuha . Dan di cahaya dhuha ini Allah banyak mengabulkan doa-doa hambaNya dan meluaskan rizkinya . Oleh sebab itu Rasulullah shallalhu ‘alaihi wasallam mengajarkan shalat dhuha . Dan waktu dhuha ini merupakan waktu pagi yang juga melambangkan keindahan dalam keseharian , jiwa masih tenang belum gundah , suasana masih indah , udara masih segar , demikian suasana pagi waktu dhuha . Maksudnya Allah ingin menjelaskan , mengenalkan dan menanamkan rasa keindahan zatNya pada diri kita dengan kalimat – kalimat Ilahi yang dilantunkan yang bisa kita fahami ,
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا
Kemudian Allah bersumpah “Demi bulan yang mengiringi matahari “, dan “demi siang hari ketika sedang teriknya”. Disaat manusia tidak butuh pada pepohonan untuk tempat berteduh saat teriknya matahari , maka yang paling berharga baginya tempat berteduh , yang paling berharga baginya justru terlindung dari teriknya matahari . Allah menciptakan gunung , Allah menciptakan pohon , Allah menciptakan alat-alat untuk membangun agar manusia bisa terlindung dari teriknya matahari . Kalau Allah tidak menumbuhkan pepohonan maka bagaimana kita bisa berlindung dan berteduh dari panasnya matahari , kalau misalnya Allah jadikan bumi ini hanya terbuat dari lempengan baja atau suatu benda yang tidak bisa di pecah untuk dibangun , hidup saja kita disitu , ibadah kepada Allah semampunya , panas dilewati , malam yang gelap dan dingin dilewati , hidup kita hanya sementara , namun Allah tidak demikian maka diciptakanlah pohon bisa dipotong menjadi kayu , dan Allah ciptakan air, tanah, dan biji-biji besi yang dipadu , demikian indahnya Allah subhanahu wata’ala . Dan Allah subhanahu wata’ala bersumpah demi malam ketika gelap gulita .
Sang Maha pencipta malam masih memberi kita penyelesaian daripada masalah kegelapan di malam hari , maka Allah menciptakan bulan , Allah menciptakan bintang . Masih kurang cahayanya, sebagai manusia masih membutuhkan cahaya lebih , butuh penerangan lebih maka Allah menciptakan pohon yang bisa menjadi api , ada bara api , Allah ciptakan agar manusia bisa merangkai besi , air berubah menjadi listrik, uap menjadi listrik , Allah Maha Tau karena yang menciptakan sel-sel itu adalah Allah . Allah Maha tau bahwa di akhir-akhir zaman nanti manusia lebih membutuhkan cahaya di malam hari daripada di siang hari , dan manusia di akhir zaman lebih membutuhkan cahaya daripada manusia di zaman sebelumnya . Allah siapkan itu di sel-sel pemikiran mereka bisa merangkai dari biji-biji besi menjadi rangkaian mobil, menjadi rangkaian lainnya , pembangkit listrik , tapi apakah pembangkit listrik muncul dengan sendirinya ?! tentunya tidak . Ada tenaga air, ada tenaga uap , mungkin tenaga dari solar atau lainnya dan pastilah tenaga itu diambil dari bumi . Tidak bisa manusia itu mencipta sesuatu dari tiada. Firman Allah ” Demi malam ketika gelapnya, dan demi siang ketika teriknya”. Sang Maha adil menciptakan siang dan malam , siang untuk beraktifitas dan malam untuk beristirahat dan beribadah juga bagi hamba yang cinta kepada Allah . Namun Allah juga tidak membiarkan manusia dalam kegelapan selama 12 jam itu , bisa mereka menyalakan obor , bisa pelita dan lainnya , tetap saja malam hari itu tidak Allah jadikan mutlak harus terus gelap . Boleh menyalakan cahaya, ada alat-alat dicipta dari bumi dan mereka bisa merangkai menjadi cahaya , demikian Allah izinkan ada terang benderang di malam hari . Demikian pula di siang hari , tidak selalu identik dengan panas , manusia menciptakan dingin dengan kipas angin atau air conditioner ( AC ) zaman sekarang atau cara-cara yang lainnya ,Allah perbolehkan hal itu, siang hari tidak harus selalu panas tersiksa karena terik matahari dan malam hari tidak harus gelap gulita , ada penyelesaian dari bentuk keadilan Allah subhanahu wata’ala .
Kemudian Allah berfirman “demi langit dan segala penciptaannya”, banaa adalah suatu pembangunan atau suatu konstruksi bangunan yang sempurna . Kita tau bahwa planet bumi ini hanya satu dari tigaratus milyar di galaksi bima sakti . Dan galaksi bima sakti itu hanya satu dari kumpulan jutaan galaksi lainnya . Dan setiap planet berputar pada porosnya , bulan mengitari bumi , bumi mengitari matahari , demikian semua galaksi berputar pada porosnya , dan semua jutaan galaksi itu diatur dengan pengaturan Yang Maha Tunggal dan Maha Abadi . Kemudian Allah berfirman “demi bumi beserta penghamparannya “, hamparannya tanah , Allah menciptakan tanah, muncul tumbuhan yang berbeda , padahal sama – sama muncul dari tanah bukan dari besi atau lainnya , tapi tumbuh bermacam-macam ada buah-buahan , ada rerumputan ada untuk berteduh saja , dan lainnya . Beraneka ragam Allah ciptakan dari tempat yang sama , tanah juga .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Allah sudah mengatur cahaya matahari , mengatur air hujan , mengatur tempat ini agar lebih banyak kering , mengatur tempat ini agar lebih banyak suburnya , jika lebih banyak subur berarti lebih banyak hijaunya , jika banyak hijaunya maka akan semakin banyak manusia yang tinggal disana , dan di daerah kering akan sedikit manusia yang tinggal disana , kesemua pengaturan Allah sempurna . “demi bumi beserta penghamparannya “ dengan segala bentuk hewan , dengan segala bentuk sifat, dengan segala bentuk ketentuan kehidupannya , semua itu diatur oleh Allah subhanahu wata’ala .
Kita tau dalam ilmu biologi bahwa awal manusia adalah berbentuk sel , kemudian seperti cacing kemudian semakin besar seperti cicak dan semakin besar lalu berbentuk sempurna sebagai keturunan Adam , mempunyai mata, telinga, bibir , hidung dan lain sebagainya , dari kesempurnaan tuntunan Allah dan anugerah Allah . Maka dari mana manusia bisa sombong yang asal mulanya hanya seperti cacing ?! Setelah Allah mengenalkan itu semua , mulai dari matahari , siang , malam , langit dan bumi . Kemudian Allah berfirman ” Demi manusia dan penciptaannya “, maksudnya penciptaan manusia itu kalau kita renungkan sangat rumit sekali , dari bentuk satu ke bentuk lainnya, dari hal yang mustahil kepada hal yang lebih mustahil lagi . Mustahil dari butiran sel berubah menjadi bentuk cacing , mustahil dari bentuk cacing berubah lagi seperti bentuk cacing yang besar kepalanya, kemudian dari bentuk itu berubah menjadi tangan, kaki, mata, telinga, kulit , tulang , darah , jantung, lambung , otak , dan kesemuanya berfungsi menjadi melihat, mendengar , menjadi berjalan , menjadi penguasa , menjadi rakyat , menjadi orang yang baik, menjadi orang yang buruk , bisa mencaci , bisa mempunyai perasaan , dan lebih dari itu semua, bukan hanya bentuk saja , kalau bentuk saja maka tidak jauh berbeda dengan hewan , tetapi Allah juga memberi mereka ilham . Ilham itu adalah tuntunan di dalam jiwa sebelum tuntunan agama, jadi sebelum manusia itu sampai kepada agama , dan tanpa agama pun dia sudah di ilhami yang baik dan yang buruk , lantas disempurnakan dengan agama . Jadi manusia yang tidak mengenal agama pun , jika melihat saudaranya dizalimi maka ia tau bahwa itu perbuatan buruk , ia tau itu perbuatan jahat dan tidak benar , ia tidak mengatakan itu perbuatan baik . Ketika ia melihat seorang anak marah kepada ibunya , tanpa ada tuntunan agama pun ia akan berkata , tidak pantas anak ini marah dan menghardik ibunya . Ini yang dimaksud bahwa Allah telah memberi mereka ilham sebelum datang kepada mereka tuntunan Sang Nabi tentang mana yang baik dan mana yang buruk , namun ketika berfikir dengan logika yang baik , mereka selalu menemukan yang baik dalam hidupnya , dan ketika mereka menemukan tuntunan sang Nabi maka hati dan sanubarinya akan menerima bahwa inilah yang paling baik , inilah yang paling sempurna , inilah yang paling benar ,karena sudah diberi ilham oleh Allah subhanahu wata’ala .
Jadi , semua yang tidak menyembah Allah , kalau mereka mendengar ada sebutan kalimat Laa ilaaha illallah bahwa tiada Tuhan selain Allah , nuraninya berkata inilah yang benar , walaupun logikanya menolak ” kok bisa begitu, kenapa ?, aku sudah ikuti ajaran ayahku , aku sudah ikuti ajaran guruku “ , dan lain sebagainy . Penolakan muncul dari logika namun nurani sudah mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah , itulah kebenaran walaupun sebelumnya logikanya tidak tau, misalnya di luar agama Islam tidak pernah mengenal nama Allah tidak pernah menyembah Allah , tiba-tiba ada orang yang mengajarkan bahwa tiada tuhan sembahan selain Allah , maka nuraninya akan langsung mengakui hal itu , kenapa ? karena nurani itu milik Allah subhanahu wata’ala , karena ruh milik Allah , ruh sudah bersumpah ” Laa ilaaha illallah “ sebelum lahir ke muka bumi .
Namun tertutup oleh alam logika , bagaimana membukanya ? logika yang baik dan polos . Ketika seorang rahib dari pemuka agama Budha atau Hindu , ia selalu bertapa dan selalu melawan hawa nafsunya , kalau hawa nafsunya mengajak kesana , maka ia melakukan yang sebaliknya kenapa ? karena hawa nafsu itu tidak berada pada kebenaran . Kalau hawa nafsunya mengajak ia makan maka ia tidak mau makan, ketika hawa nafsunya tidak mau makan maka , ia selalu melawan hawa nafsu . Lalu datang seseorang da’i berkata kepadanya mengenalkan ” Laa ilaaha illallah “ bahwa tiada tuhan selain Allah , maka nuraninya mengakui dan hawa nafsunya menolak , maka ia pun langsung masuk Islam . Maka sang da’i kaget dan berkata : saya belum menjelaskan tentang Islam, lalu saya menjelaskan bahwa tiada tuhan selain Allah , kenapa engkau terima ? maka rahib itu menjawab : ” karena logika dna nurani saya menerima dan hawa nafsu saya menolak “ dan saya selalu melawan hawa nafsu . Maka ketika hawa nafsu saya menolak maka saya langsung memililih yang sebaliknya dan saya masuk Islam . Kenapa ? karena telah Allah ilhamkan di hati nuraninya mana yang benar dan mana yang salah , mana yang haq dan mana yang bathil , namun hawa nafsunya dan logika yang tidak tersucikan dengan tuntunan sang Nabi akan berpaling dari tuntunan Ilahi . Kemudian Allah meneruskan firmannya :
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
( الشمس : 9 )
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu” ( QS. As Syams : 9 )
Sungguh beruntung bagi yang mensucikan dirinya dengan cahaya Allah , mensucikan penglihatan , pendengaran , pemikirannya jiwanya , ia sucikan dengan Allah subhanahu wata’ala , maka beruntunglah mereka dan tiada yang lebih beruntung dari mereka . Siapa mereka itu ? bukan orang lain, tentunya pengikut sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , sayyidul basyar , sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :
أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ
” Aku pemimpin manusia di hari kiamat ”
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , yang berpadu dalam dirinya segenap tuntunan keluhuran , yang seluruh nabi dan rasul disumpah untuk setia dan menjadi pendukung Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebgaimana firman Allah ta’ala :
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آَتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ
( ال عمران : 81 )
” Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman : Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? Mereka menjawab: Kami mengakui. Allah berfirman: Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu. ” ( QS. Ali Imran : 81 )
Ketika Allah mengambil janji dan sumpah setia dari para nabi , seraya berfirman ” wahai para nabi jika datang kepada kalian nabi akhir zaman yang membenarkan kalian , membenarkan ajaran nabi-nabi terdahulu bahwa tiada Tuhan selain Allah , maka kalian harus beriman kepadanya dia itu adalah Muhammad Rasulullah , dan kalian juga harus menjadi penolongnya . Cukup sampai disinikah ? belum, tapi Allah tegaskan lagi ” Wahai para Nabi , apakah kalian siap mengambil sumpah setiaKu ini agar kalian setia pada NabiKu Muhammad ? Maka para nabi itu berkata ” Kami berikrar, sumpah setia kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Kemudian Allah perkuat lagi bahwa Aku ( Allah ) menjadi saksi sumpah kalian para nabi dan rasul .
Hadirin hadirat, para nabi dan rasul sudah disumpah oleh Allah untuk setia kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, idola kita . Maka para mufassir didalam menafsirkan ayat ini menjelaskan, bahwa jika beriman kepada Allah dan rasulNya sudah jelas , tapi membantu Rasulullah bagaimana caranya , mereka itu adalah para shahabat nabi sebelum kebangkitan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihin wasallam , karena setiap nabi dan rasul pasti mengkabarkan bahwa akan datang nabi akhir zaman namanya Ahmad di langit , dan Muhammad di muka bumi . Semua nabi dan rasul sudah mengabarkan itu , sudah membawa dakwah nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam untuk mengenalkan kepada ummatnya masing-masing , bahwa akan ada nabi di akhir zaman ciri-cirinya begini ,dia bukan orang yang suka mencaci maki , bukan orang yang suka berbuat zhalim , dia itu orang yang berakhlak indah , itu semua sifat-sifat nabi Muhammad dikabarkan oleh para nabi dan rasul terdahulu sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alai wasallam, mereka itu para pendukung dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , sebelum nabi Muhammad dibangkitkan sebagai Nabi .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Sampailah kita pada hadits mulia di malam hari ini , sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّنْ سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي اْلكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.
( صحيح البخاري )
” Tiga hal , yang barangsiapa ada padanya maka ia akan merasakan lezatnya iman , yaitu ia mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya , dan ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah , dan membenci kembali pada kekufuran sebagaimana ia sangat tidak ingin dilemparkan ke api neraka “
Jika seseorang memiliki 3 sifat luhur ini maka ia akan menemukan indah dan lezatnya iman, siapa mereka ? Yang pertama adalah seseorang yang menjadikan Allah dan Rasul lebih ia cintai dari selain keduanya . Yang kedua adalah seseorang yang tidak mencintai orang lain kecuali karena cintanya kepada Allah , dan yang ketiga adalah seseorang yang benci kembali kepada dosa-dosanya dan kemungkaran sebagaimana ia benci dan tidak mau dilempar kedalam api neraka . Tiga hal , tampaknya sulit , hadits ini mungkin sudah sering didengar , tapi tampaknya sulit sekali untuk mencapai kelezatan iman , tidak sesulit yang kita bayangkan . Tidakkah Rasul bersabda ” seseorang akan merasakan lezatnya iman jika berpadu padanya tiga hal yang pertama yaitu , agar ia jadikan Allah dan Rasul lebih ia cintai daripada selainnya “ , bagaimana bisa ? orang yang bertanya seperti ini karena dia tau kelembutan Allah , kalau ia tau kelembutan Allah maka tidak akan ada lagi orang yang lebih dicintainya melebihi Allah .
Hadirin hadirat, kenapa seseorang bisa mencintai nabi lebih daripada yang lain ? karena ia tau kelembutannya, karena tau keindahannya . Rasul tidak pernah berjumpa kita, tidak pernah kenal kita tidak pula pernah bersalaman dengan kita . Kenal dan melihat wajah kita pun tidak , namun beliau pembela utama lebih dari semua orang yang kita cintai di Yaumul Qiyamah . Disaat semua orang yang kita cintai meninggalkan kita , mana mau kekasih membela pendosa disana permasalahannya adalah kemurkaan Allah , bukan masalah penjara dunia , di dunia saja orang tidak mau dipenjara apalagi di akhirat , penjara akhirat lebih dahsyat na’uzubillah, siapa yang mau masuk kesana . Namun semua orang mundur terhadap orang yang mempunyai dosa .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Persaudaraan di akhirat banyak yang terputus sebab dosa , tapi tidak dengan persaudaraan antara sang nabi dengan ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , ini tidak akan pernah terputus selama ia tidak menyembah selain Allah , maka Nabi terus membelanya walaupun ia sudah dilempar ke neraka , walaupun ia adalah seorang yang banyak berbuat jahat , tapi Allah subhanahu wata’ala tetap mengizinkan kepada nabi Muhammad untuk memberikan syafaat kepada mereka ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam . Padahal rasul tidak mengenal mereka , tidak berteman dan bukan shahabat pula , siapa mereka yang dibela ? mereka adalah pendosa . Siapa pendosa ini , ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam . Inilah cinta Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita . Rasul lebih cinta kepada kita daripada kita kepada diri kita sendiri , kalau kita cinta kepada diri kita maka kita tidak akan melakukan dosa , tapi rasul lebih cinta kepada kita daripada diri kita sendiri , beliau lebih ingin kita selamat dari neraka dan kemurkaan Allah daripada diri kita sendiri , beliau lebih ingin kita dicintai Allah daripada keinginan kita sendiri untuk dicintai Allah . Demikian indahnya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“perumpamaan aku dengan kalian bagaikan satu api yang menyala dikerubuti oleh hewan-hewan yang berkeliaran di sekitar api “ , kalau dalam bahasa kita hewan ini seperti laron yang mana kalau ada cahaya lampu kalau setelah hujan hewan ini rame berebutan , cuma ini api yang membakar bukan lampu , kalau lampu tidak membakar . Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ” Kalian seperti itu yang berebutan keduniawian , yang mana hal itu seperti api “, kemudian Rasul memegang dari belakang dan menyelamatkan serangga itu agar tidak terbakar oleh api tapi cukup terkena hangatnya saja . Karena di dalam Fathul Bari dan lainnya dijelaskan bahwa hewan-hewan yang seperti laron itu memakan nyamuk dan memakan hewan yang ada disekitar cahaya , itu boleh-boleh saja , tapi kalau mau jatuh di api Rasul yang akan menyelamatkan kalian . Di dalam salah satu penafsiran hadits riwayat Shahih Al Bukhari ini , dalam atsar shahabat dijelaskan bahwa tidak satu pun ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melintas di shirat dan terjatuh ke neraka kecuali Rasul memegangnya , karena Rasul bersabda : ” Aku memegang tengkuk kalian “, ketika ummat beliau akan jatuh ke dalam api neraka maka Rasul memegangnya agar tidak terjatuh ke dalam api neraka , namun karena dosa yang banyak di tangan orang ini maka tangan itu yang menepis dan melepas tangan Rasul dan ia pun terjatuh ke dalam api neraka .
Hadirin hadirat , ini sekilas dari keindahan yang ada pada sang Nabi , kalau kita dalami maka tidak akan kita temui orang yang lebih kita cintai dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam . Keselamatan kita dari maksiat juga sebab dari amal pahala Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Rasulullah ketika Isra’ Mi’raj beliau ditawari arak dan susu maka Rasul mengambil susu , maka berkatalah Jibril ‘alihissalam :
اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاكَ لِلْفِطْرَةِ لَوْأَخَذْتَ الْخَمْرَ غَوَتْ أُمَّتُكَ
” Segala puji bagi Allah yang membuat engkau memilih kesucian kalau engkau memilih arak , maka ummatmu tidak akan ada yang selamat dari minuman keras “.
Maksudnya seluruh ummatnya ditawarkan dalam hidupnya , mau susu atau minuman keras, tapi insyaallah kebanyakan memilih susu dan kesucian daripada dosa dan kesalahan . Namun Jibril berkata kalau engkau ( Muhammad ) memilih arak , maka ummatmu tidak akan ada satu pun yang terhindar dari minuman keras .
Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa arak yang ditawarkan kepada nabi itu berbeda dengan arak dunia yang diharamkan , karena itu adalah arak di sorga , segala sesuatu yang akan di berikan di sorga Allah tidak ada yang memabukkan dan tidak diharamkan , namun hanya sebagai lambang penyelamat bagi ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , Jibril berkata jika engkau memilih arak , maka semua ummatmu akan tenggelam dalam mabuk-mabukan dan tidak ada satu pun yang selamat , lalu Rasul menolak arak kok bisa ummatnya banyak yang selamat dari cengkraman minuman keras , walaupun masih ada yang terjebak tapi masih banyak yang selamat . Jadi Jibril berkata ” Kalau kau memilih arak , maka ummat akan terkena semuanya ” , maksudnya adalah bahwa perbuatan sang Nabi berpengaruh kepada yang lain , perbuatan beliau berpengaruh kepada ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , jangankan sang Nabi , diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
اَلْمُسْلِمُ لِلْمُسْلِمِ كَاْلبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
” Seorang muslim dengan muslim yang lain itu bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain “
Maka semakin banyak yang beribadah , maka semakin banyak pula keberkahan yang ditumpahkan bukan hanya pada kelompok itu , tapi pada muslim lainnya . Dan semakin banyak dosa , maka semakin banyak diturunkan musibah bukan hanya pada muslim itu tetapi pada muslim lainnya, karena mereka seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain . Bangunan sempurna , tapi kalau dicabut satu saja tiangnya tentu akan roboh bangunannya, kalau tidak roboh maka bahaya jika dilewati orang, dan lain sebagainya . Hadirin hadirat , inilah ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Kalau antara ummat satu dan lainnya saja bagaikan bangunan yang saling menguatkan , ada tiangnya , ada pintunya , ada kacanya , ada lantainya , ada atapnya , jika sesama ummat saja seperti itu maka bagaimana dengan imaamul ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi pemimpin terbesar dari terpengaruhnya ummat ini kepada kebaikan atau kepada kehinaan . Oleh karena itu doa beliau selalu memintakan ampunan untuk kita , sebagaimana perintah Allah subhanahu wata’ala :
وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ
( محمد : 19 )
” Dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas dosa orang mukmin laki-laki dan perempuan ” . ( QS. Muhammad : 19 )
Oleh karena itu kalau kita beristighfar cepat diterima oleh Allah subhanahu wata’ala permohonan pengampunan dosa kita , kalu kita memohon pengampunan dosa , kenapa ? karena nabi Muhammad beristighfar untuk semua ummatnya yang berdosa , jadi jika ummatnya ada yang beristighfar maka berpadulah cahaya doa istighfar sang Nabi yang mendoakan ummatnya dengan istighfar ummatnya, maka terangkatlah menuju pengampunan Allah lebih cepat .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :
اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا
” Shalat lima waktu, dengannya Allah Ta’ala menghapus kesalahan-kesalahan”
Ingat itu, maka jangan ada satu pun diantara kita yang masih terlintas untuk meninggalkan shalat lima waktu di hari-hari esok . Pastikan malam hari ini adalah malam dimana namaku dan nama kalian dipastikan mendapatkan keluhuran shalat lima waktu , menunaikannya dan mendapatkan segala keberkahan shalat lima waktu itu .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Tidak lama saya menyampaikan taushiah , terakhir yang kan saya sampaikan adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
مَنْ سَبَّحَ لِلّهِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةً ثَلاَثاً وَ ثلَاَثِيْنَ وَحَمِدَ اللهَ ثَلاَثاً وَثلاَثيْنَ وَكَبَّرَ ثَلاَثاً وَثَلاَثيْنَ تَكْبِيرَةً ، وَقَالَ تَمَام الْمِئَة ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهَ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ، غُفِرَتْ لَهُ خَطَاياَهُ وَإِنْ كاَنَتْ مِثْلَ زَبَدِ اْلبَحْرِ .
” Barangsiapa yang selepas shalat membaca Subhanallah 33 x , Alhamdulillah 33 x , Allahu Akbar 33 x dan diakhiri Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah lahulmulku walahulhamdu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir 1 x , maka diampuni seluruh dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan “
Demikian riwayat Shahih Al Bukhari . Kita berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala , semoga Allah menerangi hari-hari kita dengan seindah-indah keadaan . Rabby Ya Rahman Ya Rahiim Ya zal jalaali wal ikram terangkan jiwa-jiwa kami pada puncak-puncak keluhuran , warnai hari-hari kami agra selalu penuh dengan harapan dan doa kepadaMu , damaikan jiwa-jiwa kami , damaikan hati kami , damaikan masyarakat kami , damaikan bumi Jakarta , damaikan bangsa kami , damaikan muslimin muslimat di barat dan timur , Ya Rahman Ya Rahiim damikan bumi dari goncangannya , damaikan gunung dari gerakannya , damaikan hujan dari banjirnya , damaikan laut dari tsunaminya . Wahai Sang pemilik alam semesta inilah doa dan munajat dan getaran doa ini sampai ke hadiratMu sebagaimana janjimu bahwa tiadalah orang berkumpul dalam berzikir kepadaMu kecuali diturunkan malaikat al muqarrabin yang menyaksikan kehadiran mereka dan meng Aminkan doa mereka , dan menyaksikan pengampunan Allah turun untuk mereka .
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika berkumpul muslimin muslimat dalam majelis zikir atau majelis ta’lim maka malaikat memenuhinya sampai ke langit dan malaikat itu menyaksikan doa kita , mengaminkan doa kita dan beristighfar atas dosa kita, serta memohonkan pengabulan atas hajat kita . Rabby, jadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling kami cintai dan ketika kami mengetahui beliau begitu indah hingga beliau membela ummatnya di api neraka , Rabby kami mengetahui bahwa Engkau Yang menciptakan Rasul dan itu adalah bentuk kasih sayangMu yang terindah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Kasih sayang Allah yang abadi bahkan di neraka pun cahaya kasih sayang Allah masih mengangkat hambaNya , yaitu berupa sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , selama dia tidak menyembah selain Allah dan mengakui Nabi Muhammad adalah utusan Allah subhanahu wata’ala .
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا…
Katakanlah bersama-sama..
يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ…يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ…لاَإلهَ إِلاَّ الله… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالىَ مِنَ اْلأَمِنِيْنَ .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita terus berdoa untuk kesuksesan acara guru mulia kita Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh , pada acara-acara besar khususnya di malam 1 Januari serta haul Al Imam Fakhrul Wujud , dan acara malam selasa kita di Monas 4 Januari , semoga acara-acara ini sukses maka kita terus berdoa . Dan saya mohon doa untuk kesembuhan saya dan kesembuhan semua hadirin hadirat yang sakit semoga diberi kesembuhan oleh Allah subhanahu wata’ala Amin Allahumma Amin . Dan tabligh akbar malam Ahad akan diadakan di Jakarta Timur Klender dan akan diumumkan nanti di majelis, malam Sabtu demikian pula zikir Jalaalah, akan diumumkan di majelis (ini), dan tablig akbar malam Jum’at . Dan semua majelis luar kota (Bandung, cianjur, bogor dll) yang kemarin direncanakan kami batalkan karena kondisi kesehatan saya tidak mendukung . Semoga Allah menggantikannya walaupun tidak jadi majelis ini diadakan karena kondisi , semoga ini menjadi perjanjian Hudaibiyah yang muncul setelahnya Fath di wilayah-wilayah luar kota, Amin Allahumma Amin .
Mengenai hadits yang tadi kita baca, baru satu yang saya syarahkan dari tiga golongan itu, dan yang dua golongan belum saya syarahkan, malam selasa yang akan datang Insyaallah. Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, kita teruskan dengan mengingat indahnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , tafaddhal masykuura.
مَوْلاَيَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kabar yang tersebar mengenai saya bahwa saya pingsan , padahal saya segar bugar cuma terjatuh saja karena kehilangan keseimbangan, dan saat akan berdiri bernafas juga susah karena terlalu banyak yg mengerubuti , tapi tidak apa-apa Alhamdulillah meskipun terkadang penyakit peradangan di otak belakang sering kambuh , namun hal seperti itu akan mengangkat derajat Insyaallah .
Hadirin hadirat, jika Demak digelari Kota Wali, dan masing –masing wilayah mempunyai gelar , kita menunggu gelar Jakarta ini bukan kota anarkis, bukan kota kriminalis atau kota yang identik dengan kejahatan , tetapi Kota Sayyidina Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam . Setelah itu saya selesai tugas jika akan di pindah ke alam lainnya . Hadirin hadirat, semoga Allah memanjangkan usia kita . Beberapa waktu sebelum wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau juga terkena sakit di kepalanya . Kita berdoa juga semoga niat kita , cita-cita kita dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala . Kita ini semua adalah harapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mendamaikan Jakarta , mendamaikan bangsa dengan berdoa , dengan berakhlak dan bersifat luhur , menyebarkan keluhuran dan kedamaian kepada teman, keluarga dan lainnya dengan harta , dengan sms, dengan ucapan dengan email , dan lainnya . Jadilah para pembela dan penerus cita-cita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .
AlHabib Munzir AlMusawwa
Senin, 7 Desember 2009
http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=253&Itemid=1